Sosok Yahudi Pencipta Bom Nuklir, Menyesal jadi Sumber Malapetaka Banyak Manusia
Bom nuklir menjadi salah satu senjata paling mematikan paling dunia, namun tak banyak yang tahu siapa sosok yang paling bertanggung jawab di baliknya?
J. Robert Oppenheimer, seorang fisikawan teoretis kelahiran 1904, memegang peran sentral dalam sejarah abad ke-20. Ia memimpin Laboratorium Los Alamos pada Proyek Manhattan selama Perang Dunia II. Proyek ini berhasil menciptakan bom atom pertama, mengubah jalannya peperangan dan memicu era nuklir yang kompleks.
Oppenheimer dikenal karena kontribusinya yang signifikan terhadap ilmu pengetahuan. Namun, ia juga dikenal karena konflik batinnya terkait dengan konsekuensi dari penemuannya. Kisahnya adalah perpaduan antara kejeniusan ilmiah dan beban moral yang berat.
Artikel ini akan mengulas kisah hidup Robert Oppenheimer, dari masa kecilnya yang penuh prestasi hingga perannya dalam Proyek Manhattan. Selain itu ada kisah terpendam yang membuat hidupnya penuh penyesalan akibat bom atom.
Ilmuwan Yahudi
Julius Robert Oppenheimer lahir di New York City pada tahun 1904, dari keluarga Yahudi-Jerman yang berada. Sejak usia dini, ia menunjukkan bakat intelektual yang luar biasa. Oppenheimer unggul dalam berbagai bidang studi, termasuk sastra, bahasa, dan sains.
Ketertarikannya pada sains membawanya untuk belajar kimia dan fisika di Harvard University. Ia lulus dengan gelar sarjana pada tahun 1925. Kemudian, ia melanjutkan studinya di Eropa, di mana ia belajar dengan beberapa fisikawan terkemuka pada masanya.
Oppenheimer mengembangkan ilmu pengetahuannya di Cambridge di Inggris dengan menekuni program pascasarjana di bidang fisika. Semasa itu, ia bekerja di Laboratorium Cavendish di bawah pemenang Nobel J.J. Thomson.
Setahun kemudian, Oppenheimer melanjutkan belajar di Universitas Göttingen, Jerman, salah satu pusat terkemuka di dunia untuk fisika teoritis. Selama berada di Jerman, dia menerbitkan banyak makalah yang berkontribusi pada teori kuantum yang baru dikembangkan. Salah satu karya penting adalah pendekatan Born-Oppenheimer.
Oppenheimer berhasil mendapat gelar doktoral dari Universitas Göttingen di Jerman pada tahun 1927. Kemudian ia kembali ke Amerika Serikat dengan mengajar di University of California, Berkeley, dan California Institute of Technology. Karier akademisnya membuatnya berkontribusi besar pada perkembangan fisika teoretis.
Pada tahun 1927, Oppenheimer dilantik sebagai profesor di University of California, Berkeley, dan California Institute of Technology. Dia menghabiskan 13 tahun berikutnya bolak-balik antara dua sekolah melakukan penelitian penting dalam banyak bidang ilmiah termasuk fisika nuklir, teori medan kuantum, dan astrofisika.
Peran Oppenheimer di Proyek Manhattan
Pada tahun 1942, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, Robert Oppenheimer direkrut untuk memimpin Laboratorium Los Alamos. Laboratorium ini merupakan bagian dari Proyek Manhattan, sebuah proyek rahasia yang bertujuan untuk mengembangkan senjata nuklir sebelum Jerman Nazi melakukannya.
Sebagai direktur ilmiah, Oppenheimer bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan upaya ribuan ilmuwan, insinyur, dan teknisi. Mereka bekerja tanpa lelah untuk merancang, membangun, dan menguji bom atom pertama. Tantangan yang dihadapi sangat besar, baik secara teknis maupun logistik.
Di bawah kepemimpinan Oppenheimer, tim Los Alamos berhasil mengatasi berbagai rintangan dan mencapai tujuan mereka. Pada tanggal 16 Juli 1945, bom atom pertama di dunia berhasil diuji coba di Alamogordo, New Mexico. Uji coba ini, yang dikenal sebagai uji coba Trinity, menandai awal dari era nuklir.
Menyesal Menciptakan Bom Atom
Penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945, mengakhiri Perang Dunia II dengan dampak yang mengerikan. Ratusan ribu orang tewas, dan kota-kota tersebut hancur lebur. Peristiwa ini menimbulkan perdebatan etis yang mendalam tentang penggunaan senjata pemusnah massal.
Robert Oppenheimer sendiri merasa sangat terganggu oleh konsekuensi dari penemuannya. Ia menyadari bahwa ia telah membuka kotak Pandora, melepaskan kekuatan yang berpotensi menghancurkan seluruh umat manusia. Perasaannya ini terungkap dalam kutipan terkenalnya, "Saya telah menjadi maut, penghancur dunia."
Setelah perang, Oppenheimer menjadi penasihat Komisi Energi Atom (AEC). Ia menganjurkan pengendalian senjata nuklir internasional dan menentang pengembangan bom hidrogen. Pandangan-pandangannya ini membuatnya berselisih dengan beberapa tokoh berpengaruh di pemerintahan dan militer.
Mengutip kanal Global Liputan6.com, Presiden AS Harry S Truman lah yang memerintahkan agar bom atom dijatuhkan di Jepang.
Hubungan Truman dan Oppenheimer diketahui tidak akur. Presiden Truman pernah memanggil Oppenheimer sebagai cr baby alias cengeng.
Menurut situs Biography.com, Presiden Truman pernah sesumbar bahwa Soviet tidak akan bisa punya bom atom milik mereka sendiri.
Oppenheimer berkata, "Pak Presiden, saya merasa ada darah di tangan saya."Presiden Truman lantas kesal dan berkata bahwa "darahnya ada di tangan saya, biarkan saya saja yang khawatir".
Setelahnya, Presiden Truman menambah ceritanya bahwa ia berkata ke Oppenheimer supaya jangan khawatir, sebab darah di tangannya bisa dicuci.
Truman juga pernah bercerita bahwa ia menawarkan sapu tangan ke Oppenheimer untuk membersihkan tangannya. Pada buku biografi berjudul "Robert Oppenheimer: A Life Inside" the Center yang ditulis Ray Monk, Presiden Truman menghina Oppenheimer dengan ucapan, "Saya tidak ingin melihat anak wanita jalang itu di kantor ini lagi."
Sejarah mencatat bahwa justru prediksi Oppenheimer yang benar. Soviet dan kini Rusia sudah punya senjata nuklir mereka sendiri. Bahkan, Korea Utara juga punya senjata nuklir. Prediksi Oppenheimer juga tepat sasaran bahwa dibutuhkan kerja sama internasional untuk mengatur senjata nuklir yang ada.
Kontroversi dan Tahun-Tahun Terakhir Oppenheimer
Pada tahun 1954, Robert Oppenheimer dituduh memiliki hubungan dengan individu yang memiliki simpati komunis. Izin keamanannya dicabut setelah melalui proses dengar pendapat yang kontroversial. Keputusan ini mengakhiri karirnya sebagai penasihat pemerintah dan mencoreng reputasinya.
Meskipun menghadapi kesulitan, Oppenheimer tetap melanjutkan pekerjaannya di bidang fisika. Ia menjadi direktur Institute for Advanced Study di Princeton, di mana ia terus berkontribusi pada pemahaman kita tentang alam semesta. Oppenheimer juga aktif dalam upaya perdamaian dan pengendalian senjata nuklir.
Robert Oppenheimer meninggal dunia pada tahun 1967, meninggalkan warisan yang kompleks dan kontroversial. Ia dikenang sebagai seorang ilmuwan brilian yang memainkan peran penting dalam sejarah abad ke-20. Namun, ia juga diingat sebagai sosok yang dihantui oleh penyesalan atas dampak dari penemuannya.