Penyintas Bom Atom Jepang Kirim Surat ke Israel, Ditolak Tanpa Dibaca
Surat yang ditandatangani bersama oleh empat kelompok penyintas bom atom itu dikembalikan tanpa dibaca.
Para penyintas bom atom di Jepang mengirimkan surat kepada kedutaan besar AS dan Israel. Mereka mengecam serangan terhadap Iran.
Namun sayangnya, Kedutaan Besar Israel di Tokyo dilaporkan menolak menerima surat tersebut. Harian Jepang The Mainichi dikutip Middle East Monitor, Senin (30/3/2026), menyebut surat yang ditandatangani bersama oleh empat kelompok penyintas bom atom itu dikembalikan tanpa dibaca.
Ketua Dewan Penyintas Bom Atom Nagasaki berusia 85 tahun, Shigemitsu Tanaka, menyayangkan sikap tersebut.
“Dokumen itu dikembalikan tanpa dibaca. Saya rasa mereka semakin menutup diri,” ujarnya.
Surat yang dikirim awal bulan ini berisi seruan gencatan senjata segera serta kecaman terhadap serangan yang disebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, serta negara-negara seperti Yordania, Irak, dan kawasan Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Demo di Tokyo
Di sisi lain, aksi protes juga digelar di Tokyo pada Minggu oleh sejumlah demonstran yang menentang perang AS-Israel terhadap Iran.
Aksi bertajuk “Drop bass not bombs” itu diikuti peserta yang membawa poster dan bendera bertuliskan slogan seperti “War is over if you want it”, “No war”, dan “No racism”.
Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Jepang menyampaikan bahwa sekelompok warga Iran dan masyarakat Jepang berkumpul di depan kantor kedutaan untuk mengenang lebih dari 165 siswi yang tewas dalam serangan udara di kota Minab pada 28 Februari, bertepatan dengan dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.