Surat Lima Paragraf yang Bikin Hidup Albert Einstein Merasa Berdosa
Albert Einstein menyesal mengirim surat lima paragraf yang ditandatanganinya kepada presiden AS Roosevelt.
Sebuah surat langka yang ditulis Albert Einstein pada awal 1950-an menyingkap secara blak-blakan penyesalan mendalam sang fisikawan atas perannya dalam mendorong pengembangan bom atom.
Dokumen itu, yang gagal terjual di lelang pekan ini meski ditaksir bernilai hingga USD 150.000, menjadi pengingat tajam tentang dilema moral di era senjata nuklir.
Mengutip PopularScience, Jumat (11/7), surat tersebut memuat lima paragraf yang pernah dipublikasikan dalam majalah Jepang Kaizō pada 1953. Di dalamnya, Einstein merinci bagaimana ia merasa kontribusinya dalam pengembangan senjata nuklir memang minim secara teknis, tetapi tetap fatal secara moral.
“Partisipasi saya dalam produksi bom atom hanya berupa satu tindakan: saya menandatangani surat untuk Presiden Roosevelt,” tulis Einstein. “Saya sepenuhnya sadar akan bahaya mengerikan bagi umat manusia jika eksperimen itu berhasil.”
Surat asli ini kini menarik minat kolektor sejarah sains, meski belum menemukan pembeli.
Dari Peringatan ke Presiden AS ke Bom Hiroshima
Pada 1939, bersama Leo Szilard, Einstein menandatangani surat ke Presiden Franklin D. Roosevelt yang memperingatkan kemungkinan Jerman Nazi mengembangkan bom atom. Surat itulah yang memicu pendanaan Proyek Manhattan.
Meskipun Einstein sendiri tak terlibat langsung dalam riset bom di Los Alamos, teorinya tentang energi nuklir (E=mc²) menjadi dasar ilmiah senjata itu. Ledakan bom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 membunuh lebih dari 100.000 orang seketika, meninggalkan trauma generasi.
Sejak itu, Einstein berkali-kali menolak label “bapak bom atom,” tetapi sorotan publik tak pernah padam. Majalah Time bahkan menampilkannya di sampul 1946 dengan awan jamur atom di latar.
Penyesalan Mendalam dan Kritik Perlombaan Senjata
Dalam surat ke editor Kaizō itu, Einstein juga melontarkan kritik keras pada logika perlombaan senjata yang makin mendominasi politik global pasca-Perang Dunia II.
“Mereka merasa perlu mempersiapkan cara-cara yang paling keji agar tak tertinggal dalam perlombaan senjata,” tulisnya. “Prosedur semacam itu pasti berujung pada perang, yang di masa kini berarti kehancuran universal.”
Einstein bahkan menyinggung Mahatma Gandhi, menyebutnya sebagai contoh bahwa kekuatan moral bisa mengalahkan kekuasaan materi.
Selain surat yang kini jadi objek lelang, catatan pribadi Einstein memperlihatkan penyesalan yang konsisten. Namun mendekati akhir hidupnya, nada penyesalan semakin keras. Pada 1954—kurang dari setahun sebelum meninggal—Einstein menulis dalam buku hariannya:
“Saya membuat satu kesalahan besar dalam hidup saya ketika menandatangani surat kepada Presiden Roosevelt yang merekomendasikan pembuatan bom atom.”
Para sejarawan menilai surat ini sebagai bukti penting dari pergulatan moral ilmuwan besar di abad ke-20. Bukan hanya arsip akademik, surat Einstein menjadi simbol pertanyaan abadi: sejauh mana sains bisa bertanggung jawab atas penggunaannya?
Saat senjata nuklir modern masih menjadi ancaman global, surat Einstein yang menyesal mendukung pengembangan bom atom menjadi pengingat keras akan risiko mematikan ketika ilmu pengetahuan kehilangan arah etika.