Pagi yang seharusnya damai di perbukitan Florence berubah menjadi mimpi buruk.
Tujuh tentara Jerman bersenjata lengkap mendobrak pintu sebuah vila di Il Focardo, tepatnya di kediaman Robert Einstein, sepupu fisikawan legendaris Albert Einstein.
Mengutip The Guardian, Senin (10/11), mereka datang dengan satu tujuan: mencari “sepupu Albert Einstein.”
Tindakan itu akan menjadi bab kelam dalam sejarah keluarga Einstein dan simbol kebiadaban perang yang tak pandang darah dan kemanusiaan.
Advertisement
Robert dan Albert Einstein tumbuh bersama di München pada akhir abad ke-19. Keduanya anak dari keluarga pengusaha mesin listrik. Namun ketika usaha keluarga bangkrut, jalan hidup mereka berpisah.
Albert berlabuh di Jerman dan kemudian menjadi ikon sains modern. Sementara Robert memilih Italia, menikahi Nina Mazzetti, dan menetap di sebuah vila indah di Tuscany.
Meski berstatus Yahudi, kehidupan mereka di bawah rezim Benito Mussolini masih berjalan tenang hingga fasis Italia bersatu dengan Nazi Jerman. Sejak saat itu, ketenangan berubah menjadi ketakutan.
Advertisement
Tahun 1938, Mussolini memberlakukan leggi razziali undang-undang rasial yang melarang warga Yahudi bekerja di lembaga publik, sekolah, dan institusi negara.
Di Florence, keluarga Einstein bertahan dengan harapan perang tak akan menjangkau pedesaan mereka.
Namun ketika Jerman menduduki Italia Utara pada 1943, semua berubah. Ribuan Yahudi ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi.
Hubungan darah Robert dengan Albert Einstein yang terang-terangan menentang Hitler dan melarikan diri ke Amerika Serikat membuatnya masuk daftar incaran Nazi.
Kebencian Hitler terhadap Albert Einstein, yang dianggap “musuh bangsa Arya”, merembet hingga ke keluarganya sendiri.
Advertisement
Musim panas 1944, pasukan Sekutu mulai menekan Jerman di Italia. Laporan muncul: sepupu Albert Einstein bersembunyi di wilayah Florence.
Robert memilih bersembunyi di hutan, sementara istrinya, Nina, dan dua putrinya tetap di rumah. Mereka merasa aman karena telah memeluk agama Kristen.
Namun pagi 3 Agustus 1944, tujuh tentara Jerman datang tanpa ampun. Mereka menggeledah setiap ruangan, menuntut keberadaan Robert.
Ketika tak mendapatkan jawaban, Nina diinterogasi secara brutal. Malamnya, dalam frustrasi dan kebencian, mereka menembak mati Nina dan kedua anaknya. Villa itu lalu dibakar hingga rata dengan tanah.
Keesokan harinya, pasukan Sekutu memasuki Florence dan membebaskan kota itu. Robert keluar dari persembunyian, hanya untuk menemukan abu dan tubuh keluarganya di antara reruntuhan.
Advertisement
Setahun setelah tragedi itu, Robert Einstein tak lagi mampu menanggung beban kehilangan. Rasa bersalah dan trauma menggerogoti hidupnya. Pada 13 Juli 1945, ia menelan pil tidur dalam jumlah besar di rumah sakit Florence menyusul keluarganya ke keabadian.
Albert Einstein menerima kabar duka itu dari penyelidik Amerika. Dalam suratnya, ia menulis betapa kebencian yang diciptakan oleh propaganda Hitler bukan hanya menargetkan dirinya sebagai ilmuwan Yahudi, tetapi juga menghancurkan kehidupan orang-orang yang ia cintai.
Kisah Robert Einstein adalah cermin paling pahit dari kebencian ideologis yang buta arah. Ia menunjukkan bahwa kekerasan atas nama ras, bangsa, atau keyakinan tak hanya membunuh tubuh, tapi juga mewariskan trauma lintas generasi.
Villa Il Focardo kini berdiri kembali sebagai rumah tinggal biasa di pinggiran Florence. Namun bagi sejarah, tempat itu akan selalu menjadi saksi bisu—bagaimana satu nama besar, satu darah yang sama, bisa menjadi alasan untuk sebuah pembantaian.
Reporter Magang: Ahmad Subayu