Alasan BEM UI Gelar Aksi Demontrasi Besok di Bundaran HI
Berbagai kritik yang selama ini disampaikan mahasiswa dinilai tidak mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bakal menggelar aksi demonstrasi bertajuk 'Menuju Indonesia Bangkrut' di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6).
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan atau Athof mengatakan, berbagai kritik yang selama ini disampaikan mahasiswa dinilai tidak mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah.
"Kami memandang memberi kesempatan dan waktu sudah terlalu lama kita coba. Karena kritik lewat data juga sudah disampaikan dan selalu diabaikan. Lebih-lebih karena pemerintah memilih mengelak alih-alih bertanggung jawab,” kata Athof dalam keterangannya, Kamis (11/6).
Menurut Athof, kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat tidak sejalan dengan angka pertumbuhan yang selama ini disampaikan pemerintah. Dia menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan yang disebut semakin sempit, hingga beban pajak yang dinilai memberatkan masyarakat.
"Kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, tapi di meja makan rakyat tidak ada yang berubah. Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat dihajar pajak," ujarnya.
Athof juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Dalam kesempatan itu, BEM UI menyinggung persoalan pajak UMKM, kebijakan sektor pertambangan, hingga isu militerisme di lingkungan sipil dan kampus.
"Semua itu yang membuat kami harus turun ke jalan," katanya.
Minta Maaf ke Masyarakat
Menjelang aksi, BEM UI turut meminta maaf kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan di sekitar Bundaran HI, atas potensi kemacetan yang akan terjadi selama demonstrasi berlangsung.
Namun menurut Athof, gangguan lalu lintas yang terjadi hanya berlangsung sementara dibanding persoalan sosial dan ekonomi yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Teruntuk warga di Jakarta utamanya di sekitaran Bundaran HI, kami ingin memohon maaf atas kemacetan dan ketidaknyamanan yang akan terjadi esok hari," ucapnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama antara lain menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, dan meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah atas berbagai persoalan yang terjadi.
Selain mahasiswa, BEM UI juga mengajak berbagai elemen masyarakat untuk bergabung dalam aksi tersebut, mulai dari buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga hingga komunitas masyarakat lainnya.
Jumlah Massa Bakal Turun ke Jalan
Athof mengatakan jumlah massa yang akan turun ke jalan masih dibahas dalam rapat teknis yang digelar pada Kamis malam. Karena itu, estimasi peserta aksi belum dapat dipastikan.
"Untuk detail berapa banyak yang akan turun masih dibahas di rapat teknis lapangan malam ini. Setelah itu baru bisa dipastikan jumlah massa aksinya," ujarnya.
Sejauh ini, kelompok yang menyatakan akan ikut dalam aksi antara lain aliansi BEM se-UI yang terdiri dari BEM UI dan 15 BEM Fakultas, BEM KM IPB, BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Pusat, FMN UI, Pembebasan, dan Semar UI.
"Beberapa organisasi dan simpul pergerakan yang ikut konsolidasi nasional di Kampus UI kemarin masih akan memastikan kehadiran dan estimasi massa yang ikut di rapat malam ini," tandasnya.