Perang dengan Iran Makin Sengit, AS Kirim 3.500 Tentara Tambahan ke Timur Tengah
Pengiriman kapal perang amfibi USS Tripoli juga menyertai pengerahan ribuan tentara AS.
Amerika Serikat telah mengirim lebih dari 3.500 personel militer ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal perang amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 Marinir. Pengumuman ini disampaikan oleh pejabat militer pada hari Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan perang dengan Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa USS Tripoli telah tiba di wilayah operasinya dan berfungsi sebagai pusat komando bagi Grup Siap Amfibi Tripoli serta Unit Ekspedisi Marinir ke-31.
USS Tripoli merupakan salah satu kapal perang amfibi tercanggih dalam armada Angkatan Laut AS, dirancang dengan dek yang luas untuk menampung berbagai pesawat tempur modern, termasuk jet siluman F-35 dan pesawat tiltrotor Osprey. Sebelum diperintahkan untuk menuju Timur Tengah hampir dua minggu lalu, kapal ini sebelumnya berada di Jepang.
Selain membawa Marinir, kapal ini juga dilengkapi dengan perlengkapan tempur seperti pesawat angkut, pesawat serang, dan kemampuan operasi amfibi. Di sisi lain, kapal perang USS Boxer beserta dua kapal lainnya dan unit Marinir tambahan juga telah dikerahkan dari San Diego ke kawasan tersebut, seperti yang dilaporkan oleh laman CBC pada Minggu (29/3/2026).
Dalam pernyataan terpisah, CENTCOM mengungkapkan bahwa sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari, lebih dari 11.000 target telah diserang oleh pasukan AS. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada hari Jumat menyatakan bahwa Washington berupaya mencapai tujuan militernya tanpa mengerahkan pasukan darat.
Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya kesiapan Presiden Donald Trump untuk menghadapi berbagai skenario, karena kehadiran pasukan memberikan fleksibilitas dalam merespons perkembangan situasi di lapangan.
Peningkatan ketegangan ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, yang melibatkan enam rudal balistik dan 29 drone. Serangan tersebut mengakibatkan luka pada sedikitnya 10 tentara AS, termasuk dua di antaranya yang mengalami cedera serius.
Konflik yang Semakin Memburuk
Ketegangan yang terus meningkat ini memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian global. Gangguan pada jalur penerbangan internasional, terhentinya ekspor minyak, dan lonjakan harga energi merupakan beberapa konsekuensi langsung dari kondisi ini.
Ketegangan semakin meningkat akibat posisi strategis Iran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi yang vital bagi dunia. Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung oleh Iran juga ikut memperburuk konflik.
Mereka mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Israel, meskipun pihak Israel menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil dicegat. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengungkapkan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari koordinasi dengan Iran dan Hizbullah.
Partisipasi Houthi dalam konflik ini berpotensi memperburuk situasi keamanan maritim secara global, terutama jika mereka kembali menyerang kapal-kapal komersial di Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur penting bagi pelayaran menuju Terusan Suez.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan pada jalur-jalur strategis ini tidak hanya akan menyebabkan kenaikan harga minyak, tetapi juga mengancam stabilitas perdagangan global secara keseluruhan. Dalam menghadapi ketidakpastian yang semakin meningkat di kawasan ini, negara-negara berusaha mencari jalur alternatif untuk distribusi energi.
Upaya tersebut menjadi semakin penting untuk menjaga kestabilan ekonomi di tengah tantangan yang ada.