Dampak Peran Iran Tak Main-Main, Krisis Bahan Bakar Bikin Pakistan Menutup Sekolah dan Gaji Pejabat Dipotong
Pemerintah Pakistan mengungkapkan bahwa mereka harus membuat keputusan yang sulit demi memastikan stabilitas ekonomi negara.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan penutupan seluruh sekolah hingga akhir bulan, Senin, 9 Maret 2026. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa setengah dari tenaga kerja akan bekerja dari rumah, dan perkuliahan di perguruan tinggi akan dilaksanakan secara daring.
Kebijakan ini diambil di tengah berlangsungnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan kedua, tanpa ada indikasi bahwa Presiden Donald Trump akan mengurangi operasi militernya. Iran sendiri telah melakukan serangan balasan terhadap aset-aset AS di kawasan Teluk, yang merupakan wilayah penghasil sekitar seperempat pasokan minyak dunia, serta menghambat jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Serangan-serangan ini telah menimbulkan ancaman besar bagi seluruh kawasan," ujar Sharif dalam pidato yang disiarkan melalui televisi nasional, sebagaimana dikutip dari Middle East Eye.
Pakistan sangat bergantung pada impor energi dari negara-negara Teluk, di mana empat pemasok bahan bakar terbesarnya adalah Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Namun, saat ini negara-negara tersebut tidak dapat memasok energi secara normal akibat sebagian produksi terhenti akibat konflik dengan Iran atau terhambat oleh penutupan Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, dan Qatar serta Uni Emirat Arab menyuplai sekitar 99 persen impor gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Pakistan.
Dalam upaya penghematan, Sharif mengumumkan bahwa 50 persen pegawai di sektor publik dan swasta akan bekerja dari rumah. Namun, kebijakan ini tidak berlaku bagi sektor layanan penting seperti pertanian dan perbankan.
Selain itu, pemerintah juga berencana untuk memangkas pengeluaran negara sebesar 20 persen, dengan melarang pembelian barang besar seperti furnitur dan pendingin ruangan. Pegawai pemerintah yang memiliki penghasilan lebih dari 300.000 rupee Pakistan per bulan akan mengalami pemotongan gaji setara dua hari kerja.
Penggunaan kendaraan dinas pemerintah juga akan dikurangi hingga 60 persen selama dua bulan ke depan, dan tunjangan bahan bakar untuk kendaraan tersebut akan dipotong setengahnya. Kabinet federal tidak akan menerima gaji selama dua bulan ke depan, sementara anggota parlemen akan mengalami pemotongan gaji sebesar 25 persen.
Seluruh anggota parlemen dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri selama periode ini. Selain itu, acara berbuka puasa resmi pemerintah selama Ramadan serta berbagai jamuan makan dan pesta resmi lainnya juga tidak diperbolehkan.
Guncangan di Pasar Global
Pakistan tidak sendirian dalam menghadapi dampak dari guncangan pasar energi global, namun negara ini menjadi salah satu yang paling awal menerapkan langkah-langkah penghematan sebagai respons. Ketika pasar komoditas global dibuka kembali pada hari Senin, terjadi gejolak menyusul eskalasi konflik dengan Iran selama akhir pekan.
Israel dilaporkan telah menyerang lebih dari 30 depot minyak di Iran pada hari Sabtu (7/3), termasuk yang terletak di Teheran dan Karaj. Menurut laporan Axios, serangan terhadap depot-depot minyak tersebut jauh melampaui perkiraan yang diberikan oleh AS sebelumnya terkait rencana operasi tersebut.
Setelah serangan itu, Iran mengancam akan membalas dengan menyerang fasilitas minyak di negara-negara tetangga. Pada hari Minggu (8/3), Iran meluncurkan serangkaian serangan baru di kawasan Teluk, dengan laporan serangan yang mencakup Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Akibatnya, harga minyak dunia langsung melonjak ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, sebelum mengalami sedikit penurunan. Harga minyak Brent sempat mencapai 119 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak hingga 119,48 dolar AS per barel.
Pakistan sebelumnya sudah menghadapi berbagai tekanan ekonomi, seperti inflasi yang tinggi, utang yang meningkat, dan cadangan devisa yang menipis. Di samping itu, negara ini juga tengah menghadapi konflik keamanan di wilayahnya.
Sebelum perang dengan Iran meletus, Pakistan telah melakukan serangan udara di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan, menuduh adanya kelompok milisi yang dilindungi oleh Taliban yang berencana melakukan serangan di wilayah Pakistan.
Hampir setahun sebelumnya, Pakistan juga terlibat baku tembak dengan India dalam periode singkat yang penuh ketegangan, mengingat kedua negara tersebut merupakan kekuatan nuklir.
Dalam situasi ini, Sharif mengutuk serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran, serta mengecam serangan balasan Iran di kawasan Teluk. Ia menawarkan diri sebagai mediator untuk membantu menghentikan konflik yang semakin meningkat.
"Kami mencoba mengambil jalan tengah agar beban yang Anda tanggung lebih ringan," kata Sharif kepada rakyat Pakistan dalam pidatonya pada hari Senin.
"Untuk itu, upaya dilakukan siang dan malam."