Dampak Perang Iran, Negara Ini Terapkan Sistem Kerja 4 Hari
Negara ini mengumumkan kebijakan "penghematan" setelah dimulainya perang antara Iran yang dipicu oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Sri Lanka telah mengumumkan penerapan kebijakan pekan kerja empat hari sebagai upaya untuk menghemat cadangan bahan bakar yang semakin menipis. Kebijakan ini diambil saat negara tersebut bersiap menghadapi dampak jangka panjang dari konflik di Iran. Pengumuman tersebut disampaikan oleh pejabat pemerintah pada hari Senin (16/3).
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis dan dilalui sekitar 20 persen ekspor global dalam kondisi damai. Penutupan tersebut dikatakan sebagai respons Iran terhadap serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang kini telah berlangsung selama tiga minggu. Prabath Chandrakeerthi, Komisioner Jenderal Layanan Esensial Sri Lanka, menyatakan bahwa lembaga-lembaga pemerintah akan beroperasi hanya empat hari dalam seminggu mulai Rabu (18/3).
Kebijakan ini juga akan berlaku untuk sekolah dan universitas dan akan diterapkan tanpa batas waktu.
"Kami juga meminta sektor swasta untuk mengikuti langkah ini dan menetapkan setiap hari Rabu sebagai hari libur mulai sekarang," ungkap Chandrakeerthi kepada wartawan setelah rapat darurat yang dipimpin oleh Presiden Anura Kumara Dissanayake.
Seorang pejabat yang hadir dalam rapat tersebut menyampaikan bahwa Presiden Dissanayake mengingatkan para pejabat senior untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Kita harus bersiap untuk yang terburuk, tetapi tetap berharap yang terbaik," ujar Dissanayake dalam pertemuan tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa layanan penting seperti rumah sakit, pelabuhan, dan layanan darurat akan tetap beroperasi seperti biasa. Sebagai bagian dari langkah penghematan energi, pemerintah juga menangguhkan seluruh upacara publik dan meminta pegawai negeri untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan guna mengurangi penggunaan bahan bakar. Sri Lanka diketahui mengimpor seluruh kebutuhan minyaknya dan juga membeli batu bara untuk pembangkit listrik.
Berdampak Signifikan Terhadap Pasokan Energi Global
Pemerintah mulai menerapkan sistem pembatasan bahan bakar sejak Minggu (15/3), yang membatasi setiap pengendara untuk membeli maksimal 15 liter bensin atau solar setiap minggunya. Sementara itu, transportasi umum diberikan alokasi hingga 200 liter bahan bakar. Pejabat terkait menyatakan bahwa cadangan bensin dan solar di negara tersebut diperkirakan cukup untuk hampir enam minggu. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa gangguan pada pasokan dapat berdampak serius terhadap kondisi di negara kepulauan ini.
Selama ini, Sri Lanka mengimpor produk minyak olahan dari negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan. Di sisi lain, minyak mentah untuk kilang yang dibangun oleh Iran berasal dari kawasan Timur Tengah. Pemerintah Sri Lanka mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta konflik berkepanjangan dapat menghambat upaya negara tersebut untuk pulih dari krisis ekonomi besar yang melanda pada tahun 2022. Pada tahun itu, Sri Lanka tidak mampu membayar utang luar negeri sebesar USD 46 miliar setelah cadangan devisa habis.
Sejak saat itu, pemerintah Sri Lanka berhasil mendapatkan paket bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) senilai USD 2,9 miliar. Beberapa negara lain juga mulai menerapkan langkah penghematan sebagai respons terhadap perang tersebut. Pakistan mengumumkan berbagai kebijakan untuk mengatasi ancaman krisis energi yang semakin mendekat. Sekolah-sekolah ditutup dan perkuliahan di universitas dialihkan ke format daring.
Selain itu, para pekerja kantor diminta untuk bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi bahan bakar. Pemerintah Pakistan juga memangkas tunjangan bahan bakar untuk kendaraan pemerintah selama dua bulan ke depan. Anggota kabinet, penasihat, dan asisten khusus bahkan secara sukarela melepaskan gaji mereka selama periode tersebut. Filipina juga mengumumkan kebijakan serupa dengan mengubah sistem kerja menjadi empat hari dalam seminggu.
Presiden Ferdinand Marcos menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk mengurangi dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah.
"Kami adalah korban dari perang yang bukan kami pilih," ungkap Marcos. Di Laos, antrean panjang terlihat di berbagai stasiun pengisian bahan bakar di ibu kota saat kekurangan BBM semakin parah. Negara Asia Tenggara ini sangat bergantung pada pasokan bahan bakar dari Thailand.
Awalnya, Thailand sempat mengumumkan penghentian ekspor bahan bakar untuk menjaga persediaan dalam negeri, namun kemudian memastikan kepada pemerintah Laos bahwa pasokan bahan bakar sedang dalam perjalanan menuju Vientiane.
Data terbaru dari pemerintah menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen dari total 2.538 stasiun pengisian bahan bakar di Laos telah tutup pada pekan lalu akibat kelangkaan pasokan.