FOTO: Myanmar Batasi Pembelian BBM dan Terapkan Sistem Hari Bergantian
Myanmar menerapkan pembatasan bahan bakar dan sistem hari bergantian di tengah dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan energi.
Penutupan Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari memicu guncangan di berbagai belahan dunia. Jalur distribusi energi yang selama ini menjadi tumpuan banyak negara mengalami gangguan serius, mendorong lonjakan harga minyak serta tersendatnya pengiriman.
Hampir 90 persen minyak dan gas yang melintasi selat tersebut selama ini ditujukan ke kawasan Asia. Namun sejak konflik meningkat, aliran energi melalui jalur strategis itu nyaris terhenti. Kondisi ini berdampak langsung pada negara-negara yang bergantung pada pasokan impor, termasuk Myanmar.
Di Yangon, situasi tersebut terlihat dari antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar. Pada Selasa, 31 Maret 2026, pengemudi harus menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar di tengah keterbatasan pasokan.
Pemerintah yang didukung militer, yang telah menghadapi konflik internal sejak Mei 2021, seperti dikutip BBC, menerapkan sejumlah kebijakan untuk mengendalikan konsumsi. Kendaraan pribadi diwajibkan mengikuti sistem hari bergantian, sementara pembelian bahan bakar dibatasi hingga 35 liter per minggu.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga distribusi tetap berjalan di tengah tekanan pasokan global. Namun di lapangan, masyarakat tetap menghadapi ketidakpastian dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.