Runtuhnya Piramida Kuno Meksiko Dianggap jadi Pertanda Buruk
Dinding di bagian selatannya juga runtuh dan menjadi tumpukan puing.
Runtuhnya piramida batu di Meksiko akibat parahnya iklim global menjadi fenomena yang mengejutkan. Pada 29 Juli, piramida setinggi 15 meter yang berada di negara bagian Michoacan mendadak ambruk karena hujan yang terus turun. Dinding di bagian selatannya juga runtuh dan menjadi tumpukan puing.
Dulunya, piramida ini adalah salah satu monumen peradaban Kerajaan Michoacan yang terawat. Bangunan limas segi empat ini terlatak di di Ihuatzio, situs arkeologi yang terpelihara dengan sangat baik yang berisi satu piramida lain, sebuah menara atau benteng, dan beberapa makam.
Sejak 1.100 tahun lalu, piramida sudah ditempati oleh kelompok pribumi yang berbahasa Nahuatl. Tak hanya itu, piramida ini juga menjadi markas besar dari orang-orang P’urhepechas, kekaisaran yang tidak bisa ditaklukan oleh suku Aztec.
Meskipun satu piramida yang rusak di lokasi tersebut, anggota dari Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko (INAH) mengatakan bahwa sedikitnya enam ‘badan’ dalam keadaan rusak, termasuk dinding luar, inti, serta dinding penahan. Mereka juga menyalahkan cuaca ekstrem untuk kejadian ini.
Melansir laman Sciencealert, Kamis (21/11), di bulan Juli, hujan lebat dan badai petir melanda sebagian besar wilayah Meksiko. Ini terjadi setelah terjadinya kekeringan terburuk dalam 30 tahun, ketika hujan menjadi sangat langka, beberapa danau mengering sepenuhnya.
“Suhu tinggi, yang sebelumnya tercatat di area tersebut, dan kekeringan yang diakibatkan menyebabkan retakan yang memudahkan penyaringan air ke bagian dalam bangunan pra-Hispanik,” kata INAH.
Sejak saat itu, keruntuhan dari piramida tidak bisa terhindarkan dan saat ini para pejabat digadang fokus memperbaiki struktur bangunan “demi warisan budaya Meksiko”. Dan tugas arkeolog bukannya hanya mempelajari perilaku manusia di masa lalu, tetapi juga di masa kini.
Terjadinya cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim akibat manusia, terbukti menjadi gangguan bagi situs-situs budaya masa lalu. Menurut laporan, baru-baru ini, para arkeolog menemukan sebuah lukisan gua kuno di Oseania yang semakin rusak akibat perubahan iklim saat ini.
Tak hanya itu, di tahun ini juga, sebuah studi terkait bahan bangunan warisan budaya di Eropa dan Meksiko menemukan bahwa ketika curah hujan meningkat secara substansial, bangunan-bangunan ini berisiko rusak. Menurut Tariakuiri Alvarez, yang mengaku anggota suku P’urhepecha yang masih hidup, leluhurnya menafsirkan runtuhnya piramida di Ihuatzio sebagai “pertanda buruk”.
Alvarez mengatakan bahwa sebelum kedatangan penjajah asing di Meksiko, hal yang sama juga terjadi, dan itu diartikan para dewa “tidak senang”. Hanya beberapa hari sebelum piramida di Meksiko runtuh, ‘Lengkungan Ganda’ yang ikonik di Utah juga runtuh, ini diperkirakan akibat perubahan permukaan air dan erosi.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia