Batu Bergambar Wajah Manusia Berusia 2.000 Tahun Muncul dari Sungai Amazon, Begini Wujudnya
Batu-batu ini muncul dari dasar sungai yang mengering.
Batu-batu ini muncul dari dasar sungai yang mengering.
Batu Bergambar Wajah Manusia Berusia 2.000 Tahun Muncul dari Sungai Amazon, Begini Wujudnya
Kekeringan parah di beberapa kawasan Amazon, Brasil menyebabkan ketinggian air sungai menyusut sangat signifikan. Dari dalam sungai, muncul banyak formasi batuan yan tersembunyi, di antaranya ada yang bergambar sosok manusia yang diperkirakan berusia 2.000 tahun.
Seorang penduduk Manaus, kota terbesar di Amazon, Livia Ribeiro, mendengar soal pahatan kuno ini dari kawan-kawannya dan memutuskan untuk datang menyaksikannya langsung. Dia kaget saat pertama kali melihat batu berpahat tersebut.
Sumber: Greek Reporter
"Saya pikir itu bohong. Saya tidak pernah melihat ini," ujar Ribeiro.
"Saya telah hidup di Manaus selama 27 tahun," lanjutnya.
Batu berpahat ini ditetapkan sebagai situs arkeologi penting oleh Institut Warisan Sejarah Brasil. Pahatan ini berlokasi di situs yang dikenal dengan nama Praia das Lajes.
Pahatan ini ditemukan di dasar Sungai Negro yang berair keruh yang mengalir di sepanjang hutan yang lebat tersebut.
Pahatan pada batu ini menggambarkan wajah manusia dalam berbagai bentuk seperti lonjong dan persegi empat. Sosok gambar manusia pada batu itu ada yang tersenyum dan menampilkan ekspresi yang serius, menurut laporan Science Alert.
Penemuan batu berpahat ini bikin gembira para ilmuwan dan juga warga. Namun, muncul juga tanda tanya.
"Kita datang, kita melihatnya (batu berpahat) dan kita pikir itu indah," kata Ribeiro.
"Tapi pada saat bersamaan, ini mengkhawatirkan. Saya juga berpikir apakah sungai ini akan tetap ada dalam 50 atau 100 tahun (mendatang)."
Dalam beberapa pekan terakhir, kekeringan parah melanda kawasan Amazon Brasil, menyebabkan surutnya air sungai secara signifikan. Ini menyebabkan gangguan di wilayah tersebut yang sangat bergantung pada jaringan transportasi sungai dan mengganggu pengiriman barang kebutuhan pokok.
Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah Brasil menurunkan bantuan kedarurayan ke wilayah terdampak.