NASA Pecat 550 Karyawan di Unit Penelitian, Ini Alasannya
NASA berencana untuk memberhentikan sekitar 550 karyawan yang bekerja di unit penelitian dan pengembangan Jet Propulsion Laboratory (JPL).
Jet Propulsion Laboratory (JPL), sebuah lembaga penelitian dan pengembangan yang didanai oleh NASA, mengumumkan rencana untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 550 karyawan, yang setara dengan 11% dari total tenaga kerja di JPL. Menurut laporan dari CNN pada Kamis (16/10/2025), langkah ini diambil oleh NASA sebagai bagian dari proses restrukturisasi internal yang sedang berlangsung.
Direktur JPL, Dave Gallagher, melalui pesan yang dipublikasikan di situs resmi laboratorium, menekankan bahwa pemangkasan jumlah karyawan ini "tidak terkait dengan penutupan pemerintahan saat ini (government shutdown)". JPL sendiri merupakan laboratorium yang didanai oleh badan antariksa federal AS, NASA, dan dikelola oleh California Institute of Technology (Caltech).
Dalam memo terpisah yang ditujukan kepada karyawan dan kontraktor JPL, Gallagher menyatakan, "Meskipun tidak mudah, saya yakin bahwa mengambil tindakan ini sekarang akan membantu laboratorium bertransformasi pada skala dan kecepatan yang diperlukan untuk membantu mencapai ambisi terliar umat manusia di luar angkasa."
Ia juga menambahkan bahwa proses reorganisasi di JPL telah dimulai sejak Juli 2025, dan selama beberapa bulan terakhir, pihak manajemen telah berkomunikasi secara terbuka dengan karyawan mengenai tantangan dan pilihan sulit yang harus dihadapi.
Gallagher menegaskan, "Tindakan minggu ini, meski tidak mudah, sangat penting untuk mengamankan masa depan JPL dengan menciptakan infrastruktur yang lebih ramping, berfokus pada kemampuan teknis inti kami, menjaga disiplin fiskal, dan memposisikan kami untuk bersaing dalam ekosistem ruang angkasa yang terus berkembang--sambil terus menjalankan pekerjaan vital kami untuk NASA dan negara." Berdasarkan pengumuman tersebut, para karyawan JPL telah diinformasikan mengenai status pekerjaan mereka dan struktur baru laboratorium yang mulai berlaku efektif pada Rabu (15/10/2025).
Jadwal Artemis II ke bulan
Sebelumnya, NASA telah mengumumkan kemajuan terbaru terkait persiapan untuk misi berawak pertama mereka ke Bulan setelah lebih dari lima dekade. Dalam pernyataannya, pejabat NASA menyampaikan bahwa misi Artemis II kini dijadwalkan untuk diluncurkan pada awal tahun 2025.
Pada konferensi pers yang diadakan di Johnson Space Center, sebagaimana dikutip pada Selasa (30/9/2025), NASA menjelaskan bahwa peluncuran misi ini ditargetkan mulai dari 5 Februari 2026. Misi Artemis II direncanakan berlangsung selama sepuluh hari dan akan mengangkut empat astronaut, yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Mereka akan melakukan penerbangan mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi.
"Roket Space Launch System untuk misi ini sudah selesai dirakit dan siap terbang," ungkap pejabat NASA. Jika semua berjalan sesuai rencana, misi ini akan menjadi tonggak sejarah, mengingat perjalanan manusia terakhir ke Bulan terjadi melalui misi Apollo 17 pada bulan Desember 1972.
Persiapan terakhir dan uji coba dalam kondisi basah
Roket Space Launch System (SLS) yang akan digunakan dalam misi Artemis II kini telah selesai dirakit. Di sisi lain, kapsul antariksa Orion yang akan mengangkut para astronaut sedang dalam tahap persiapan akhir, dan direncanakan akan dipasang di atas roket pada akhir tahun 2025. Charlie Blackwell-Thompson, yang menjabat sebagai direktur peluncuran Artemis, menyatakan bahwa roket dan kapsul itu akan dipindahkan ke landasan peluncuran di Kennedy Space Center pada awal tahun 2026. Di lokasi tersebut, tim NASA akan melaksanakan uji coba penting yang dikenal dengan nama wet dress rehearsal.
Dalam rangkaian uji coba ini, roket akan diisi penuh dengan bahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair. Setelah pengisian selesai, tim akan melakukan simulasi hitung mundur seperti pada peluncuran sebenarnya hingga mencapai detik T-29, setelah itu proses akan dihentikan. Tes ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua sistem berfungsi dengan baik sebelum peluncuran yang sesungguhnya dilakukan.
Misi untuk menjelajahi bulan
Setelah roket SLS berhasil meluncur, kapsul Orion akan terpisah dari roket sekitar tiga jam pasca peluncuran. Kemudian, Orion akan menghabiskan waktu kurang lebih 24 jam untuk mengorbit Bumi. Pada fase ini, keempat astronaut akan melakukan serangkaian pemeriksaan guna memastikan bahwa sistem pendukung kehidupan dan mesin pendorong berfungsi dengan baik.
Jika semua sistem dinyatakan dalam kondisi aman, mesin utama Orion akan diaktifkan untuk memasuki lintasan yang dikenal sebagai free return trajectory. Jalur khusus ini dirancang agar kapsul dapat kembali ke Bumi meskipun terjadi kendala pada mesin pendorongnya. Selama perjalanan, Orion akan melintas jauh di atas Bulan, dengan jarak antara 5.000 hingga 9.000 mil dari permukaan, sebelum akhirnya memulai perjalanan pulang ke Bumi.
Ujian tentang Perisai Panas dalam konteks 'Space Race'
Salah satu tujuan utama misi Artemis II adalah untuk menguji efektivitas perisai panas kapsul Orion saat proses kembali ke atmosfer Bumi. Pada misi uji coba Artemis I yang berlangsung pada tahun 2022, terdapat beberapa bagian dari material perisai panas yang terlepas secara tidak terduga.
Sejak kejadian tersebut, NASA telah meluangkan waktu selama dua tahun untuk menyelidiki permasalahan ini. Tim insinyur kemudian memutuskan untuk melakukan modifikasi pada jalur masuk kembali Orion, agar gas panas tidak terakumulasi di perisai dan menyebabkan kerusakan.
"Keyakinan yang kami miliki pada Artemis II dibangun di atas berbagai pengujian selama beberapa tahun," ungkap Rick Henfling, direktur penerbangan Artemis II.
Di sisi lain, pejabat NASA juga menyebutkan adanya semacam "perlombaan antariksa kedua" dengan China. Namun, mereka menekankan bahwa prioritas utama NASA adalah kembali ke Bulan dan pulang ke Bumi dengan selamat, bukan sekadar berlomba.
Dengan fokus pada keselamatan dan keberhasilan misi, NASA berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap aspek dari misi ini telah diuji dan dipersiapkan dengan matang sebelum peluncuran dilakukan. Pendekatan ini bertujuan untuk menghindari kesalahan yang sama yang terjadi sebelumnya dan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap program eksplorasi luar angkasa yang sedang dijalankan.