Mengapa Manusia Berlomba-lomba Lagi ke Bulan, Ada Apa di Sana?
Berbagai negara, mulai dari AS hingga China, sedang merancang program untuk mengirimkan manusia ke Bulan.
Setelah hampir enam puluh tahun sejak manusia pertama kali menginjakkan kaki di Bulan, program eksplorasi luar angkasa kini berfokus pada Mars. Program Artemis, yang dipimpin oleh NASA, melibatkan 55 mitra internasional, termasuk Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).
NASA berencana untuk mendirikan pangkalan permanen di kutub selatan Bulan yang dikenal sebagai Artemis Base Camp. Tujuan dari program ini adalah meluncurkan stasiun luar angkasa baru bernama "Gateway" ke orbit Bulan.
Di sisi lain, proyek kolaborasi antara Rusia dan China yang melibatkan 13 mitra internasional juga berencana untuk membangun pangkalan di Bulan, yang dinamakan Pusat Penelitian Bulan Internasional (International Lunar Research Station) pada tahun 2035.
Kedua proyek, baik Base Camp Artemis maupun Stasiun Penelitian Bulan Internasional, diusulkan sebagai inisiatif ilmiah. Jika berhasil, pangkalan ini akan menjadi tempat tinggal bagi astronaut untuk kunjungan singkat serta lokasi bagi peralatan robotik permanen yang dapat dikendalikan dari Bumi.
Namun, Bulan juga memiliki nilai strategis yang tidak bisa diabaikan. Pada masa Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet bersaing dalam proyek luar angkasa dan perlombaan menuju Bulan.
Kini, situasi tersebut tidak banyak berubah, meskipun semakin banyak negara yang terlibat. AS secara terbuka menyatakan bahwa mereka berada dalam perlombaan baru di luar angkasa yang ingin mereka menangkan. Apa yang menjadi pendorong di balik ambisi ini?
Sumber Daya di Bulan
Sebagian besar daya tarik Bulan berasal dari kekayaan sumber daya alam yang tersedia di sana. Contohnya termasuk besi, silikon, hidrogen, titanium, serta elemen logam tanah jarang. Meskipun biaya ekstraksi dan transportasi cukup tinggi, sebagian besar sumber daya ini dapat diangkut kembali ke Bumi yang kini semakin kekurangan sumber daya alam.
Penambangan di Bulan dapat membuka peluang untuk mengekstraksi mineral berharga yang terdapat di asteroid, menjadikan Bulan sebagai lokasi percobaan pertama. Beberapa material yang berhasil diekstraksi dapat digunakan untuk menggantikan bahan yang harus diangkut dari Bumi, sehingga pangkalan di Bulan tidak lagi bergantung pada pasokan dari Bumi.
Salah satu contohnya adalah regolith (tanah bulan), yang dapat dimanfaatkan sebagai pelindung terhadap radiasi serta sebagai bahan konstruksi untuk pangkalan di Bulan. Selain itu, air yang ditemukan oleh misi Chandrayaan-1 milik India pada tahun 2008 akan berperan penting untuk konsumsi, pertanian, dan pendinginan peralatan.
Misi-misi setelah Chandrayaan-1 menunjukkan adanya konsentrasi es yang tinggi di kutub Bulan, yang menjadi alasan mengapa koloni pertama di Bulan kemungkinan besar akan dibangun di lokasi tersebut. Pangkalan di Bulan juga dapat berfungsi sebagai "ruang transit" bagi astronaut dalam perjalanan ke Mars.
Dalam konteks energi, radiasi matahari telah dimanfaatkan untuk menggerakkan beberapa pesawat ruang angkasa dan satelit. Namun, regolith dan es juga dapat digunakan untuk menghasilkan energi.
Selain itu, Bulan mengandung helium-3 dalam jumlah besar, yang merupakan bahan bakar potensial untuk reaksi fusi nuklir. Misi ke Mars di masa depan kemungkinan akan singgah di Bulan untuk melakukan pengisian ulang bahan bakar.
Apakah ada penelitian ilmiah yang dilakukan di bulan?
Penelitian ilmiah mengenai Bulan menjadi fokus utama Program Eksplorasi ESA, sejalan dengan tujuan badan antariksa lain. Hal ini disampaikan oleh Sara Pastor, Manajer Program Bulan ESA, melalui sebuah email kepada DW.
Selama dua dekade terakhir, manusia telah beroperasi di luar angkasa, terutama di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang terletak sekitar 400 km di orbit rendah Bumi. Namun, perjalanan ke Bulan yang berjarak 250.000 mil, atau sekitar tiga hari penerbangan, tentu jauh lebih menantang dan berisiko bagi para astronaut.
Oleh karena itu, penelitian awal di Bulan bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan tersebut.
Dari sudut pandang penelitian lingkungan, "(para ilmuwan) akan menyelidiki sifat lingkungan Bulan, melihat kondisi uniknya dalam memengaruhi kesehatan dan kinerja manusia, serta mengeksplorasi sistem robotik, dan melihat pengaruh aktivitas manusia terhadap lingkungan," jelas Sara Pastor.
Selain itu, para peneliti berencana untuk mengidentifikasi bagaimana air, logam, dan sumber daya alam di Bulan dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberadaan pangkalan di sana dalam jangka panjang, beserta metode terbaik untuk mengekstraknya.
"ESA sedang mengembangkan instrumen untuk pengukuran radiasi lingkungan, pengeboran dan analisis sampel lingkungan, geofisika, dan cuaca luar angkasa Bulan," tambah Sara Pastor.
Bulan Beri Keuntungan Manusia
Banyak orang berpendapat bahwa manusia di Bumi memiliki utang budi kepada misi Apollo yang dilakukan pada tahun 1960-an dan 70-an. Walaupun ponsel modern yang kita gunakan saat ini tidak langsung berasal dari teknologi luar angkasa, misi Apollo berkontribusi pada proses miniaturisasi perangkat elektronik dan sistem komunikasi.
Selain itu, berbagai teknologi canggih yang awalnya dikembangkan di laboratorium penelitian antariksa telah memberikan manfaat besar bagi kehidupan di Bumi.
Contohnya adalah insulasi rumah, busa memori yang digunakan pada kasur, makanan beku-kering, serta kemajuan dalam sensor dan robotika, termasuk telemedisin. Para peneliti juga menciptakan peralatan medis dan metode pelacakan kesehatan untuk menjaga kesehatan para astronaut ketika mereka berada dalam kondisi luar angkasa yang ekstrem, terutama terkait dengan sistem kekebalan tubuh manusia.
Misalnya, peralatan diagnostik yang portabel dan ringan diperlukan bagi kru penerbangan luar angkasa yang tidak memiliki latar belakang medis untuk memantau kesehatan mereka. Teknologi ini juga memiliki aplikasi yang bermanfaat di Bumi.
Dalam konteks eksplorasi luar angkasa, tujuan jangka panjang pembangunan pangkalan di permukaan dan orbit Bulan adalah untuk menjadikannya sebagai pos pendaratan untuk misi antariksa yang lebih jauh.
"Sebuah koloni di Bulan akan sangat berguna dan menjadi tempat latihan utama untuk eksplorasi manusia di permukaan Mars," ujar Sara Pastor.
Di sisi lain, NASA memiliki rencana untuk mengirim astronaut ke Mars pada tahun 2030-an. Dengan demikian, upaya eksplorasi ini tidak hanya akan memperluas pengetahuan kita tentang luar angkasa, tetapi juga berpotensi menciptakan teknologi baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup di Bumi.