Mengapa Makanan yang Dibawa dari Bumi ke Ruang Angkasa Terasa Hambar bagi Astronot?
Studi terbaru mengungkap bahwa isolasi dan ketidaknyamanan mungkin menjadi penyebab mengapa makanan di luar angkasa terasa hambar bagi astronot.
Menghabiskan waktu di luar angkasa memiliki berbagai efek pada tubuh astronot, mulai dari yang serius hingga yang aneh. Salah satu fenomena unik yang dialami para astronot adalah perubahan rasa makanan yang menjadi hambar dan kurang menarik. Masalah ini cukup serius sehingga beberapa astronot mengalami kesulitan mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
Tim ilmuwan makanan dari Australia dan Belanda melakukan penelitian untuk memahami penyebab fenomena ini. Studi mereka, yang baru-baru ini diterbitkan, menunjukkan bahwa masalah ini mungkin lebih berkaitan dengan isolasi dan ketidaknyamanan yang dialami astronot, daripada efek gravitasi.
Sebelumnya, para peneliti menduga bahwa perubahan rasa makanan mungkin disebabkan oleh pergeseran cairan tubuh yang terjadi akibat berat badan di luar angkasa. Pergeseran ini dapat menyebabkan pembengkakan wajah yang menghilang seiring dengan tubuh yang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, beberapa astronot melaporkan bahwa masalah dengan rasa makanan tetap ada bahkan setelah efek pergeseran cairan hilang.
Dalam studi ini, ilmuwan makanan Grace Loke dari RMIT University di Australia, bersama rekan-rekannya, berfokus pada bagaimana lingkungan dan kondisi mental seseorang dapat mempengaruhi persepsi aroma, yang sangat berpengaruh pada daya tarik makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya beberapa aroma dirasakan secara berbeda di lingkungan yang berbeda, meskipun tidak seperti yang diharapkan oleh para peneliti.
"Salah satu tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk membuat makanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan astronot, serta orang-orang yang berada di lingkungan terisolasi lainnya, sehingga asupan nutrisi mereka mendekati 100 persen," kata penulis senior Julia Low, ilmuwan makanan dari RMIT dikutip ScienceAlert, Minggu (25/8).
Karena mengirim subjek mereka ke luar angkasa adalah hal yang sulit, tim ini menggunakan lingkungan realitas virtual (VR) yang dirancang untuk meniru pengalaman berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Lingkungan VR ini mencakup objek-objek yang mengambang untuk meniru mikrogravitasi, serta suara latar belakang yang menyerupai kebisingan operasional di ISS.
Dalam eksperimen tersebut, peserta diberikan sampel tiga aroma berbeda: vanila, almond, dan lemon. Mereka diminta untuk menilai intensitas setiap aroma pada skala 1 hingga 5, pertama di ruangan normal dan kemudian di lingkungan ISS yang disimulasikan.
Menariknya, peserta melaporkan bahwa aroma lemon tetap sama di kedua lingkungan, tetapi aroma vanila dan almond terasa lebih intens di lingkungan ISS yang disimulasikan. Para peneliti menduga bahwa benzaldehida, senyawa aromatik volatil yang terdapat dalam almond dan vanila, adalah faktor kunci dalam hal ini.
Studi ini menunjukkan bahwa persepsi aroma bersifat kontekstual, dan hasilnya mungkin memberikan cara untuk mengatasi masalah ini. Penulis menyarankan bahwa mengidentifikasi senyawa yang mempertahankan daya tariknya di lingkungan seperti ISS atau bahkan menjadi lebih menarik dapat membantu merancang pola makan astronot yang lebih baik.
Temuan ini juga memiliki potensi aplikasi di Bumi, terutama dalam membantu menyesuaikan pola makan orang-orang yang berada dalam situasi isolasi sosial, seperti di panti jompo, untuk meningkatkan asupan nutrisi mereka.