Seberapa Jauh Sinyal Radio Bumi Jangkau Luar Angkasa?
Gelembung radio Bumi kini diperkirakan telah mencapai radius sekitar 119 tahun cahaya.
Sudah hampir 120 tahun manusia "berisik" di ruang angkasa. Tanpa disadari, sejak siaran radio pertama kali mengudara, Bumi telah membungkus diri dalam sebuah fenomena yang disebut para ilmuwan sebagai "gelembung radio".
Namun, seberapa jauh sebenarnya suara kita telah merambat di kesunyian luar angkasa?
Kisah ini bermula pada malam Natal 1906, ketika Reginald Aubrey Fessenden melantunkan musik biola dan ayat Alkitab melalui gelombang radio.
Siaran itu tidak berhenti di telinga para pelaut, melainkan terus melesat ke luar angkasa dengan kecepatan cahaya.
Dikutip dari The Times of Hindia, Senin (29/12), gelembung radio Bumi kini diperkirakan telah mencapai radius sekitar 119 tahun cahaya.
Meski angka ini terdengar fantastis, jika dibandingkan dengan luas galaksi Bima Sakti yang mencapai 100.000 tahun cahaya, jangkauan manusia hanyalah sebuah titik kecil yang nyaris tak terlihat di samudera semesta.
Tetangga Dekat yang Terjangkau
Sejauh ini, sinyal-sinyal awal kita telah melewati sistem bintang tetangga, termasuk Proxima Centauri yang hanya berjarak empat tahun cahaya.
Riset dari Universitas Cornell bahkan mengidentifikasi ada sekitar 75 sistem bintang yang berada dalam posisi strategis, mereka berada di dalam radius gelembung radio sekaligus mampu melihat posisi Bumi yang melintas di depan Matahari.
Namun, apakah ada "tetangga" yang benar-benar mendengar suara kita? Para ahli cenderung skeptis. Masalah utamanya adalah hukum fisika.
Semakin jauh gelombang radio merambat, sinyalnya akan semakin tipis dan melemah hingga menyatu dengan kebisingan kosmik alami.
Bumi yang Kian "Sunyi"
Menariknya, meski gelembung ini terus meluas, lapisan-lapisan barunya justru semakin redup. Teknologi modern seperti serat optik dan sistem digital kini lebih banyak mengurung sinyal di dalam planet, alih-alih memancarkannya ke ruang hampa seperti antena televisi analog zaman dulu.
Fenomena gelembung radio ini pada akhirnya menjadi pengingat bagi manusia tentang dua hal: betapa mudanya teknologi kita dan betapa luasnya ruang yang masih harus dijelajahi.
Suara-suara kita mungkin sedang mengembara di antara bintang-bintang, namun mereka hanyalah jejak samar dari sebuah peradaban yang baru saja belajar menyapa alam semesta.
Reporter Magang: Ahmad Subayu