Astronot Eksperimen Bikin Miso di Luar Angkasa, Begini Rasanya?
Fermentasi miso di ISS menghasilkan rasa lebih kaya dan panggang. Temuan ini membuka peluang eksplorasi kuliner dalam misi luar angkasa.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fermentasi miso yang dilakukan di luar angkasa menghasilkan rasa yang lebih kaya dan panggang dibandingkan fermentasi serupa di Bumi.
Mengutip ScienceAlert, Rabu (9/4), eksperimen ini dilakukan secara paralel di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Cambridge (AS), dan Kopenhagen (Denmark), dengan menggunakan starter miso yang sama.
Miso adalah makanan tradisional Jepang yang terbuat dari fermentasi kedelai dengan garam dan kapang koji (Aspergillus oryzae). Makanan ini umumnya digunakan sebagai bahan dasar sup dan bumbu dalam berbagai hidangan karena kaya akan umami serta memiliki manfaat probiotik.
Proses fermentasi di ISS berlangsung selama 30 hari di dalam kotak sensor khusus yang memantau suhu, kelembaban, tekanan, cahaya, dan radiasi. Setelah kembali ke Bumi, miso dari ISS dianalisis dan dibandingkan dengan miso yang difermentasi di dua lokasi di Bumi.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan mencolok dalam komposisi mikroba. Miso luar angkasa memiliki populasi lebih tinggi dari Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus warneri, yang diduga dipengaruhi oleh suhu ISS yang lebih hangat.
Menariknya, bakteri Bacillus velezensis hanya ditemukan dalam miso luar angkasa, dan diyakini berkontribusi terhadap terbentuknya senyawa pirazin yang menciptakan rasa panggang yang khas.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah iScience dan membuka peluang baru dalam eksplorasi kuliner di misi luar angkasa. Lingkungan mikrogravitasi dan kondisi unik di ISS ternyata berpengaruh terhadap proses biologi seperti fermentasi, sesuatu yang selama ini dianggap sangat tergantung pada kondisi Bumi.
Temuan ini dinilai penting dalam merancang sistem makanan berkelanjutan untuk misi luar angkasa jangka panjang. Dengan pengaruh fermentasi yang menghasilkan rasa lebih kompleks, para peneliti kini mempertimbangkan kemungkinan menyajikan makanan hasil fermentasi di luar angkasa sebagai bagian dari menu astronaut di masa depan.