Di Tengah Konflik dengan Iran, AS Lupa Stasiun Luar Angkasa Segera Kedaluwarsa Tanpa Pengganti

Masa operasional stasiun ini diperkirakan berakhir sekitar 2030. Tapi AS belum menyiapkan pengganti.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Di Tengah Konflik dengan Iran, AS Lupa Stasiun Luar Angkasa Segera Kedaluwarsa Tanpa Pengganti
Di Tengah Konflik dengan Iran, AS Lupa Stasiun Luar Angkasa Segera Kedaluwarsa Tanpa Pengganti (Merdeka.com)

Saat Amerika Serikat berambisi membangun pangkalan permanen di Bulan, posisinya di orbit yang lebih dekat justru mulai menghadapi tantangan.

Di orbit rendah Bumi atau low-Earth orbit (LEO), International Space Station (ISS) telah menjadi rumah bagi hampir 300 astronot selama lebih dari 25 tahun. Namun, masa operasional stasiun ini diperkirakan berakhir sekitar 2030.

Sebagai pengganti, pemerintah Amerika Serikat berharap stasiun luar angkasa komersial yang dikembangkan perusahaan swasta bisa mengambil alih peran ISS, sekaligus menjadi basis baru bagi astronot NASA dan mitra internasionalnya.

Masalahnya, waktu semakin sempit. Para ahli memperingatkan, jika ISS dihentikan tanpa pengganti yang siap, Amerika Serikat berisiko kehilangan kehadiran berkelanjutan di orbit. Dampaknya tidak hanya pada riset, tetapi juga pada posisi strategis dan keamanan nasional.

“Itu bagian dari nilai dan pengaruh kita,” kata Dylan Taylor, CEO Voyager Technologies.

“China sudah memiliki stasiun luar angkasa baru yang canggih. Karena itu, penting bagi kita untuk tetap hadir di orbit,” tambahnya dikutip CNN, Minggu (22/3/2026).

Stasiun luar angkasa milik China, Tiangong space station, yang rampung pada 2022, kini mampu menampung hingga tiga astronaut untuk menjalankan berbagai penelitian.

Keberadaan stasiun tersebut juga berpotensi memengaruhi arah pengembangan teknologi luar angkasa global.

Jika ISS benar-benar dihentikan tanpa pengganti, Tiangong bisa menjadi satu-satunya stasiun di LEO, sehingga standar teknologi dunia cenderung mengikuti sistem yang digunakan China.

Taylor mengibaratkan kondisi ini seperti persaingan awal sistem operasi ponsel antara Apple dan Android. Tanpa kehadiran di LEO, Amerika Serikat berisiko kehilangan peluang besar untuk memimpin di sektor ini.

Waktu Tak Cukup Siapkan Pengganti

Lagi, China Kirim 3 Astronot ke Stasiun Luar Angkasa Tiangong untuk Misi Impian
Ilustrasi Tiangong-1 di angkasa luar. (CMSE) © 2024 Liputan6.com

Meski pemerintah AS berencana mempertahankan ISS hingga setidaknya 2030, sejumlah anggota parlemen menilai waktu tersebut belum cukup untuk menyiapkan pengganti yang matang.

Sebuah rancangan undang-undang di Senat bahkan mengusulkan perpanjangan operasional ISS hingga 2032.

Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan stasiun luar angkasa komersial masih menghadapi banyak ketidakpastian, termasuk keterlambatan arahan dan pendanaan dari NASA.

Sejumlah perusahaan swasta yang terlibat dalam proyek ini pun masih menunggu kejelasan dari NASA, baik terkait panduan teknis maupun dukungan finansial.

Keterlambatan tersebut juga dipengaruhi faktor politik, termasuk proses panjang penunjukan administrator NASA, Jared Isaacman, serta penutupan pemerintah yang sempat menghambat kerja lembaga tersebut.

NASA sendiri menegaskan komitmennya untuk beralih ke sistem komersial di orbit rendah Bumi, namun menilai proses tersebut perlu dilakukan secara hati-hati agar tetap sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan swasta terus memperkuat kesiapan mereka, berpacu dengan waktu agar kehadiran manusia di orbit tidak terputus di masa mendatang.

Rekomendasi