Bakteri Baru Ditemukan di Stasiun Luar Angkasa China Mengejutkan Banyak Ilmuwan

Ilmuwan China temukan bakteri baru di stasiun luar angkasa china.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bakteri Baru Ditemukan di Stasiun Luar Angkasa China Mengejutkan Banyak Ilmuwan
Bakteri Baru Ditemukan di Stasiun Luar Angkasa China Mengejutkan Banyak Ilmuwan (ilustrasi dibuat dengan ChatGPT)

Awal tahun ini, para ilmuwan China menemukan sesuatu yang mengejutkan: strain bakteri yang tak pernah diidentifikasi sebelumnya di Bumi, ditemukan di Stasiun Antariksa Tiangong pada 2023. Penemuan ini menambah catatan panjang interaksi manusia dan mikroorganisme di luar angkasa.

Mengutip TheDeBrief, Rabu (18/6), temuan ini pertama kali dicatat oleh kru misi Shenzhou-15. Begitu bakteri tersebut terdeteksi, kru segera membersihkan stasiun menggunakan tisu steril, membekukan sampel yang berhasil dikumpulkan, lalu mengirimkannya kembali ke Bumi untuk diteliti lebih lanjut.

Setelah dianalisis, para ilmuwan menemukan bahwa bakteri ini memiliki hubungan dekat dengan Niallia circulans — bakteri berbentuk batang yang biasa ditemukan di tanah, saluran limbah, dan makanan. Bakteri ini dikenal mampu menyebabkan sepsis, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Namun, strain baru ini menunjukkan karakteristik unik. Meski berasal dari Bumi, strain tersebut mengalami adaptasi signifikan terhadap lingkungan luar angkasa yang ekstrem.

Bakteri ini memperlihatkan sejumlah kemampuan adaptif, seperti gen yang mampu mengelola stres oksidatif, memperbaiki kerusakan akibat radiasi, dan membentuk biofilm dengan cara memecah gelatin untuk mengekstraksi karbon dan nitrogen.

Adaptasi ini membuat bakteri tersebut mampu bertahan hidup di lingkungan mikrogravitasi dan radiasi tinggi yang umum di stasiun luar angkasa.

Dalam studi yang diterbitkan tahun ini, tim peneliti menulis bahwa memahami karakteristik mikroba selama misi luar angkasa jangka panjang sangat penting untuk menjaga kesehatan astronot dan kelangsungan fungsi pesawat ruang angkasa. Penemuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi misi eksplorasi luar angkasa di masa depan.

Penemuan ini datang bersamaan dengan peluncuran tiga taikonaut ke Stasiun Tiangong pada April lalu, menggantikan kru yang bertugas sebelumnya. Tiangong, atau "Istana Langit", telah menempatkan China dalam posisi strategis dalam perlombaan antariksa global.

Mengingat adanya larangan kerja sama NASA dengan China, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) tidak dapat digunakan bersama, sehingga Tiangong menjadi platform riset mikroba antariksa yang krusial.

Seiring bertambahnya misi luar angkasa, pemahaman tentang kehidupan mikroba dalam kondisi ekstrim menjadi makin vital. Penemuan strain Niallia tiangongensis dan potensi biofilm tahan banting menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, mikroorganisme, dan ruang angkasa jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan.

Penelitian lanjutan tentang cara mikroba beradaptasi, bertahan, dan berdampak pada kesehatan astronot maupun integritas struktur pesawat ruang angkasa menjadi bagian penting dari perencanaan misi masa depan.

Dengan pengetahuan yang lebih mendalam dan strategi pengendalian mikroba yang lebih canggih, para ilmuwan berharap dapat menciptakan sistem perlindungan yang lebih baik — tidak hanya untuk astronot, tetapi juga untuk masa depan wisata dan eksplorasi luar angkasa yang lebih luas.

Rekomendasi