Mengapa Astronot Cepat Kenyang di Luar Angkasa, tapi Badan Jadi Ceking?
Tanpa gravitasi, makanan melayang di lambung astronot dan bikin cepat kenyang. Akibatnya, asupan kurang dan berat badan pun turun drastis di luar angkasa.
Selama berada di luar angkasa, para astronot kerap mengalami penurunan berat badan secara signifikan. Banyak yang mengira hal ini hanya disebabkan oleh hilangnya gravitasi, tapi ternyata penyebabnya jauh lebih kompleks.
Mengutip laporan IFLScience, Senin (2/6), hilangnya gravitasi memang berdampak besar. Tidak hanya menyebabkan massa otot dan tulang menyusut, tetapi juga memengaruhi cara tubuh memproses makanan. Untuk mengatasi hilangnya massa tubuh, para astronot di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) diwajibkan berolahraga dua jam per hari dengan alat seperti treadmill dan mesin berat.
Namun, menurut Dr. Scott Smith dari Laboratorium Biokimia Gizi NASA, penurunan berat badan juga terjadi karena para astronot sering merasa kenyang lebih cepat, sehingga asupan nutrisi mereka berkurang. Penyebabnya cukup unik: makanan yang mereka makan tidak “turun” ke lambung seperti di Bumi, melainkan melayang-layang akibat tidak adanya gravitasi.
“Saya pikir makanan tidak mengendap seperti di Bumi. Jadi lambung lebih cepat meregang dan mengirim sinyal ke otak bahwa kita sudah kenyang, meski sebenarnya belum cukup makan,” kata Dr. Smith.
Hal inilah yang membuat banyak astronot berhenti makan lebih awal dari seharusnya, sebelum kebutuhan gizinya tercukupi. Jika ini terus terjadi, mereka bukan hanya kehilangan berat badan, tapi juga rentan kekurangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh saat menjalankan misi jangka panjang.
Salah satu nutrisi penting adalah asam lemak omega-3 yang banyak ditemukan dalam ikan. Zat ini berperan penting menjaga kepadatan tulang, terutama saat tubuh tidak mendapatkan tekanan gravitasi seperti di Bumi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, NASA kini membekali para astronot dengan aplikasi bernama EveryWear. Aplikasi ini dapat diakses melalui tablet yang mereka bawa di ISS. Caranya cukup sederhana, para astronot tinggal memindai barcode pada kemasan makanan, lalu data dikirim ke tim di Bumi untuk dimonitor.
Dengan cara ini, para ilmuwan bisa memastikan para astronot makan dengan cukup dan sesuai kebutuhan nutrisi harian mereka. Pendekatan berbasis data ini menjadi langkah penting untuk menjamin kesehatan awak selama misi jangka panjang, terutama ke destinasi jauh seperti Bulan atau Mars.
Memahami cara kerja tubuh dalam kondisi tanpa gravitasi menjadi tantangan besar dalam eksplorasi antariksa. Dan rupanya, urusan sederhana seperti makan pun tak lagi sesederhana di Bumi.
Reporter magang: Zahra Aulia