Martin Heinrich Klaproth, Sosok Penemu Uranium yang Jadi Bahan Bakar Nuklir
Saat menemukan bahan tambang itu, ia sudah menduga dari awal ada unsur baru di dalam material tersebut.
Jauh sebelum nama uranium dikaitkan dengan senjata nuklir atau reaktor pembangkit listrik, ada sosok ilmuwan yang mungkin kurang dikenal banyak orang. Ia seorang ilmuwan Jerman.
Namanya Martin Heinrich Klaproth. Dia mencatat sejarah dengan menemukan uranium dari laboratorium kecilnya pada 1789. Dalam analisis mineral pitchblende yang dikirim dari tambang Joachimsthal, Bohemia, Klaproth mengisolasi senyawa baru yang belum dikenal dunia sains.
“Saya menduga ini adalah unsur baru,” tulis Klaproth dalam catatannya.
Ceritanya dimulai saat Klaproth tengah menganalisis sepotong mineral gelap dan berat yang dikenal sebagai pitchblende. Kini disebut uraninit yang berasal dari tambang di Joachimsthal, Bohemia. Ia kemudian melakukan eksperimen. Kesimpulannya adalah senyawa ini merupakan oksida dari unsur baru.
Ia kemudian menamainya uranium, sebagai bentuk penghormatan terhadap planet Uranus yang baru ditemukan oleh astronom Inggris, William Herschel, pada 1781. Meski ia belum berhasil mengekstrak bentuk murninya, langkah tersebut cukup untuk mengabadikan nama uranium dalam tabel periodik.
Namun, Klaproth tidak pernah berhasil mengekstraksi uranium dalam bentuk logam murni. Pencapaian itu baru dilakukan oleh ilmuwan Prancis Eugène-Melchior Péligot pada tahun 1841.
Meski begitu, langkah Klaproth telah cukup kuat untuk memasukkan uranium ke dalam tabel periodik, menjadikannya dasar dari revolusi besar dalam ilmu kimia dan fisika modern.
Dari Asisten Apoteker Menjelma Menjadi Profesor
Lahir pada 1 Desember 1743 di Wernigerode, Kekaisaran Romawi Suci (sekarang Jerman), Klaproth tumbuh di tengah era transisi ilmu pengetahuan. Ia memulai kariernya sebagai asisten apoteker dan mengasah keahliannya dalam kimia secara otodidak.
Berkat ketekunannya, ia kemudian menjadi profesor kimia di Universitas Berlin dan bergabung dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia, di mana ia dikenal karena pendekatannya yang sangat sistematis dan empirik—berbeda dari kecenderungan alkimia yang masih umum di zamannya.
Tak hanya uranium, Klaproth juga tercatat sebagai penemu atau ko-penemu unsur lain seperti zirconium, titanium, dan cerium.
Ia dikenal karena selalu mencatat eksperimennya dengan ketat, memperkenalkan metode kuantitatif dalam analisis unsur, serta menolak spekulasi ilmiah yang tidak berbasis data. Dalam banyak hal, Klaproth dianggap sebagai pionir modernisasi metode laboratorium.
Namun, pada masa hidupnya, uranium belum dianggap penting. Baru pada tahun 1896, ilmuwan Prancis Henri Becquerel menemukan bahwa uranium mengeluarkan radiasi secara alami.
Penemuan ini menjadi fondasi bagi teori radioaktivitas dan akhirnya membuka jalan bagi tokoh-tokoh seperti Marie Curie, Ernest Rutherford, hingga Albert Einstein dalam mengeksplorasi dunia atom dan subatom.
Sejak saat itu, uranium bertransformasi menjadi bahan bakar utama reaktor nuklir, serta menjadi komponen inti dari bom atom yang mengakhiri Perang Dunia II. Unsur yang dulu hanya dikenal sebagai produk tambang kini menjelma sebagai simbol kekuatan dan kontroversi global.
Klaproth meninggal pada 1 Januari 1817 di Berlin. Namanya kini mungkin tidak sepopuler Einstein atau Curie, namun dampak dari karyanya tetap bergema dalam dunia energi, persenjataan, dan diplomasi global.
Uranium, senyawa yang dulu ia amati di bawah lensa mikroskop sederhana, kini menjadi pokok perdebatan di ruang-ruang perundingan nuklir dan laboratorium canggih di seluruh dunia.