Ilmuwan Penerima Nobel Prize ini Tulis Surat Cinta ke Istrinya Meski Sudah Meninggal, Isinya Begitu Romantis dan Bikin Haru
Seorang ilmuwan penerima nobel prize fisika ini begitu terpukul saat ditinggal pergi istrinya karena kematian.
Richard Feynman, fisikawan jenius peraih Nobel, dikenal karena kontribusinya pada dunia ilmu pengetahuan. Namun, di balik kejeniusannya, tersimpan kisah cinta tragis dan mengharukan antara dirinya dan Arline Greenbaum, cinta masa kecilnya.
Meski cinta mereka begitu kuat, kebahagiaan mereka harus diuji oleh kenyataan pahit. Tak lama setelah menikah, Arline didiagnosis mengidap tuberkulosis yang kala itu belum ada obatnya.
Keluarga menentang pernikahan mereka, mengkhawatirkan masa depan Feynman. Namun, Feynman tetap teguh pada keputusannya. Ia menikahi Arline dan merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga akhir hayatnya.
Pada tahun 1945, Arline meninggal dunia, meninggalkan luka mendalam di hati Feynman. Kehilangan ini begitu berat baginya hingga bertahun-tahun kemudian ia masih merasakan duka yang sama. Salah satu bukti cinta abadi Feynman adalah sepucuk surat yang ia tulis setelah Arline wafat. Meskipun ia tahu Arline tak akan pernah membacanya, Feynman tetap menuangkan isi hatinya:
"Aku mencintaimu, sayangku. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpamu..."
Surat ini baru ditemukan bertahun-tahun kemudian, menjadi saksi bisu betapa cinta Feynman pada Arline tak pernah pudar. Kesedihan atas kepergiannya terus membayangi Feynman, membuktikan bahwa cinta sejati tak akan sirna, bahkan oleh kematian.
Kisah cinta Richard Feynman dan Arline Greenbaum menjadi pengingat bahwa cinta sejati tidak hanya bertahan dalam suka dan duka, tetapi juga melampaui batas kehidupan dan kematian.
Isi Lengkap Surat Cinta Richard Feynman
17 Oktober 1946
Sayangku, Arline,
Aku mencintaimu, sayangku. Aku mencintaimu dengan cara yang tak seorang pun tahu—dengan cara yang tak seorang pun bisa memahami. Aku begitu memikirkanmu. Aku ingin menjagamu dan merawatmu. Dan aku ingin bekerja denganmu. Aku ingin memiliki masalah untuk didiskusikan denganmu. Aku ingin melakukan hal-hal kecil bersamamu. Aku tidak bisa melakukannya sekarang.
Ketika kau pertama kali pergi, aku sangat sedih sehingga aku hampir tidak bisa berfungsi. Tapi sekarang aku tahu bahwa, sementara kau berada di sini, kami benar-benar menikah. Kita selalu bersama, dan aku sangat bahagia. Aku tidak akan pernah ingin melakukan hal lain.
Ya, sayangku, aku ingin terus hidup. Aku merasa lebih baik dalam beberapa cara. Tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku tidak lagi ingin hidup tanpamu. Aku tidak ingin.
Dan sekarang, sayangku, aku ingin memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu bukan hanya karena siapa kau, tetapi karena siapa aku saat bersamamu. Aku tidak menulis surat ini untuk mengeluh atau untuk berduka. Aku menulis ini karena aku ingin berbicara dengan istriku tentang cintaku padanya. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.
Suamimu, Richard.
P.S. Maaf aku tidak mengirim surat ini, tapi aku tidak tahu alamatmu.