Tiga Kata Ini Sering Ditulis dalam Surat Cinta Einstein, Bukan 'I love You'
Meski seorang fisikawan, Albert Einstein punya sisi romantisme saat dirinya menulis surat cinta kepada istri pertamanya.
Lebih dari enam dekade setelah kematiannya, sisi paling pribadi dari seorang Albert Einstein kini terbuka untuk dunia. Melalui proyek digitalisasi arsip yang dipimpin sejarawan Diana Kormos-Buchwald, ribuan dokumen pribadi sang fisikawan telah tersedia secara online.
Dari 13 volume pertama yang telah dirilis, sekitar 5.000 dokumen mencakup surat, catatan ilmiah, buku harian, hingga potongan-potongan kehidupan yang jarang diketahui publik. Namun di antara teori relativitas dan korespondensi akademik, justru surat-surat cintalah yang paling menyentuh—terutama yang ia tulis untuk Mileva Maric, istri pertamanya.
Dalam surat-surat itu, Einstein mengungkapkan cinta, kekhawatiran, dan harapan. Namun lebih dari isi suratnya, perhatian justru tertuju pada bagaimana ia mengakhirinya. Tiga frasa khas terus berulang: “Your Albert”, “Your Sweetheart”, dan “Johonzel”. Ketiganya sederhana, namun penuh makna.
“Your Albert” menunjukkan komitmen dan kedekatan emosional; “Your Sweetheart” adalah ungkapan rindu yang tulus dari seorang pria yang sering terpisah oleh jarak; dan “Johonzel”—julukan misterius yang mungkin hanya dimengerti oleh mereka berdua—menjadi bukti bahwa Einstein juga menciptakan dunia kecil tempat ia bisa lepas dari rumus dan ketenaran.
Surat-surat itu menunjukkan Einstein yang jauh dari sosok ilmuwan kaku. Ia lucu, romantis, bahkan manja. Di balik gelar jenius, ia juga manusia yang mencintai dengan sepenuh hati.
Meski ia pernah menolak ide pengkultusan terhadap dirinya, bahkan meminta jenazahnya dikremasi diam-diam agar tak dijadikan objek pemujaan, pesona Einstein justru terus hidup—bahkan dalam surat-surat yang barangkali ia harap tetap pribadi.
Dalam buku Postcards from the Brain Museum, Brian Burrell menulis bahwa Einstein sadar akan obsesi publik terhadap dirinya, terutama keinginan para ilmuwan untuk mencari "rahasia kecerdasan" lewat otaknya.
Tapi lebih dari neuron dan rumus, mungkin justru kalimat penutup “Your Sweetheart” yang paling manusiawi dan abadi.Membaca surat-surat ini bukan hanya menyelami sisi romantis seorang ilmuwan, tetapi juga membuka pintu ke dalam pikirannya—bahwa cinta, sama seperti relativitas, adalah bagian dari hidup yang ia hitung, pahami, dan jalani dengan seluruh jiwanya.
Kini, siapa pun bisa membacanya. Dan dari ribuan dokumen yang tersedia daring, barangkali tiga kata inilah yang paling melekat: Your Albert, Your Sweetheart, Johonzel.