Ilmuwan Kirim Jam Atom ke Stasiun Luar Angkasa, Uji Teori Einstein dari Luar Angkasa
Misi ini bertujuan mengukur fenomena dilatasi waktu—yakni perbedaan laju waktu antara medan gravitasi kuat dan lemah.
Badan Antariksa Eropa (ESA) akan meluncurkan misi Atomic Clock Ensemble in Space (ACES) pada 21 April 2025 untuk menguji teori relativitas umum Albert Einstein dengan tingkat presisi yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Mengutip ESA, Sabtu (19/4), dua jam atom ultra-presisi akan dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dengan kapsul SpaceX Dragon sebagai bagian dari misi CRS-32.
Setibanya di orbit, modul ACES akan dipasang pada laboratorium Columbus milik ESA dan dioperasikan selama setidaknya 30 bulan.
Misi ini bertujuan mengukur fenomena dilatasi waktu—yakni perbedaan laju waktu antara medan gravitasi kuat dan lemah—dengan membandingkan waktu di ISS dan stasiun Bumi.
“Dengan ACES, kami akan menguji prediksi Einstein dengan akurasi ekstrem. Ini akan menjadi salah satu validasi paling presisi terhadap relativitas umum dari luar angkasa,” kata Dr. Andreas Bauch, ilmuwan senior dari Physikalisch-Technische Bundesanstalt Jerman.
Dua jam atom yang dibawa adalah PHARAO dan SHM. PHARAO, dikembangkan oleh badan antariksa Prancis, menggunakan atom cesium yang didinginkan hingga mendekati nol mutlak.
SHM, buatan Swiss, memakai atom hidrogen sebagai acuan. Gabungan keduanya memungkinkan pengukuran waktu dengan kesalahan hanya satu detik setiap 300 juta tahun.
Misi ACES tak hanya untuk validasi teori, tetapi juga membuka peluang pengembangan sistem navigasi global yang jauh lebih presisi, serta memungkinkan deteksi fluktuasi dalam konstanta fisika dan memberikan data baru dalam riset materi gelap.
ESA menyebut ACES sebagai tonggak ilmiah internasional yang melibatkan kolaborasi riset dari Prancis, Jerman, dan Swiss. Airbus bertugas merakit modul, sementara peluncuran akan ditangani oleh SpaceX dari Kennedy Space Center, Florida.
"Seratus tahun setelah Einstein menyatakan bahwa waktu itu relatif, kita akan mengujinya langsung dari orbit," kata Florence Lucchesi, kepala proyek ACES di ESA.
“Ini bukan hanya eksperimen fisika, tetapi langkah menuju pemahaman baru tentang alam semesta," tambah dia,