Dari Hidup Miskin dan Sakit-Sakitan, Ilmuwan ini Tiba-tiba Sukses Suka Bagi-bagi Duit

Alfred Nobel, penemu dinamit, wariskan kekayaan untuk Nobel Prize lewat dana abadi setelah masa kecilnya diliputi kemiskinan dan kekerasan.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Dari Hidup Miskin dan Sakit-Sakitan, Ilmuwan ini Tiba-tiba Sukses Suka Bagi-bagi Duit
Dari Hidup Miskin dan Sakit-Sakitan, Ilmuwan ini Tiba-tiba Sukses Suka Bagi-bagi Duit (Merdeka.com)

Di balik nama besar Nobel Prize yang melegenda di dunia sains dan perdamaian, tersimpan kisah kelam masa kecil pendirinya, Alfred Nobel. Lahir di Swedia dari keluarga miskin, Alfred kecil tumbuh dengan kondisi fisik yang lemah dan lingkungan sosial yang keras.

Ia sempat bersekolah di lembaga khusus anak-anak tidak mampu, namun tempat itu justru dikenal penuh kekerasan. Para guru kerap menggunakan kekerasan fisik terhadap murid-murid hanya karena kesalahan sepele. Namun, keluarga Nobel perlahan bangkit secara finansial lewat usaha bisnis, hingga mampu mendukung pendidikan Alfred lebih lanjut.

Minat Alfred terhadap ilmu pengetahuan membawanya pada riset berbahaya: mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak. Di tengah penelitiannya, ia sempat ditolak dan dilarang melakukan eksperimen di Stockholm. Tak menyerah, ia memindahkan risetnya ke Danau Mälaren dan melanjutkan eksperimen dari atas perahu.

Tahun 1866 menjadi titik balik. Ia berhasil menciptakan formula yang lebih stabil untuk penggunaan nitrogliserin dan mendapat hak paten untuk berbagai produk peledak, seperti dinamit, gelignit, dan balisit. Penemuan inilah yang membuatnya kaya raya, namun juga membuat reputasinya dipertanyakan karena penemuannya digunakan untuk tujuan militer.

Merasa bertanggung jawab, Alfred Nobel menyusun surat wasiat pada 27 November 1895. Ia menyatakan bahwa 90 persen hartanya — senilai SEK 31 juta (sekitar USD 160 juta) — harus diinvestasikan dalam bentuk surat berharga agar menjadi dana abadi. Dana inilah yang sejak 1901 digunakan untuk mendanai Penghargaan Nobel di bidang fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, sastra, dan perdamaian.

Setelah wafat pada tahun 1896, harta peninggalannya dikelola oleh Yayasan Nobel yang didirikan beberapa dekade kemudian. Tujuan yayasan tersebut adalah menjaga kelangsungan penghargaan Nobel dan memastikan nilai hadiah tetap konsisten atau bahkan bertambah dari waktu ke waktu.

Kini, nama Alfred Nobel tak hanya dikenal sebagai penemu dinamit, tetapi juga sebagai sosok visioner yang mengubah kekayaan pribadi menjadi warisan kemanusiaan global.

Reporter magang: Aisha Balqis Salsabila

Rekomendasi