China Mulai Pimpin Industri Robotik Dunia, Amerika Serikat Minggir
Negeri Tirai Bambu kini tercatat sebagai salah satu negara paling terotomasi di dunia.
Saat perang dagang Donald Trump membawa ketidakpastian baru bagi sektor manufaktur Amerika Serikat, satu persoalan besar justru luput dari perhatian: kekuatan pasukan robot pekerja China.
Mengutip Futurism, Senin (28/4), laporan terbaru dari The New York Times menyoroti betapa masifnya skala otomasi yang terjadi di China. Negeri Tirai Bambu kini tercatat sebagai salah satu negara paling terotomasi di dunia, bahkan melampaui Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Hanya Korea Selatan dan Singapura yang memiliki rasio robot-per-pekerja lebih tinggi.
Otomasi dalam skala besar ini memungkinkan pabrik-pabrik di China menghasilkan barang konsumsi dan industri dengan biaya makin rendah, sambil terus menyempurnakan kualitas produk.
Sebaliknya, AS justru kian tertinggal. Dalam beberapa tahun terakhir, manufaktur AS lebih fokus ke produk berteknologi tinggi seperti pesawat, perangkat medis, dan mesin canggih — sektor yang belum mudah dialihkan sepenuhnya ke robot tanpa perubahan besar pada industri robotika nasional.
China justru mengambil langkah berbeda. Sejak 2015, pemerintahnya meluncurkan strategi nasional bertajuk "Made in China 2025", yang menargetkan pencapaian spesifik dalam sektor manufaktur seperti kapal, kendaraan listrik, dan kereta cepat.
Salah satu target ambisiusnya adalah mampu memproduksi 100.000 unit robot industri per tahun, menurut laporan China Daily. Data terbaru dari Federasi Robotika Internasional bahkan menunjukkan bahwa antara 2022 dan 2023, China telah mengerahkan lebih dari 276.000 robot pekerja — mencatatkan lebih dari separuh instalasi robot industri global, sekaligus mencatatkan rekor kedua tertinggi sepanjang sejarah.
Namun, dominasi China di sektor robotika ini juga diperkuat oleh kendali atas logam tanah jarang — material penting untuk manufaktur teknologi tinggi, termasuk robotika. Ketergantungan AS terhadap material ini membuat posisi China makin kuat dalam negosiasi perang dagang.
Bulan ini, China sempat menghentikan ekspor logam tanah jarang ke AS sebagai respons atas tarif baru yang diumumkan Trump. Tindakan ini memicu keluhan dari sekutu dekat Trump, Elon Musk, yang mengaku langkah itu akan menghambat proyek robotik di perusahaannya.
Tak lama setelah tekanan tersebut, Trump mengumumkan kemungkinan besar tarif atas barang China "akan diturunkan secara substansial", menandakan Beijing memainkan kartu mereka dengan sangat cerdas.
Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang dagang ini masih belum jelas. Namun satu hal tampak pasti: jika AS ingin kembali bersaing dalam sektor manufaktur, mereka perlu mengurangi pertikaian dan mulai belajar dari pihak yang kini unggul — China dalam perlombaan robotika global.