Perang Dagang AS–China: Siapa Sebenarnya yang Lebih Unggul?
Ekspor China pasca-pandemi justru melesat hingga mencapai USD3,5 triliun.
Di tengah panasnya perang dagang dan ancaman tarif tinggi dari Amerika Serikat, satu fakta tak terbantahkan mulai muncul ke permukaan: China semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan dagang nomor satu dunia. Bahkan saat Presiden AS menerapkan tarif impor hingga 125 persen terhadap produk-produk dari negeri tirai bambu, roda ekspor China justru berputar makin kencang.
Laporan terbaru dari Indo-Pacific Development Center milik Lowy Institute menampilkan gambaran yang mengejutkan. Pada 2023, sekitar 70 persen negara di dunia lebih banyak berdagang dengan China ketimbang dengan Amerika Serikat. Angka ini melonjak dari hanya 30 persen pada awal 2000-an, ketika China baru saja bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Transformasi China menjadi raksasa dagang global bukanlah kebetulan. Didukung oleh relokasi rantai pasokan, masuknya investasi asing besar-besaran, hingga tenaga kerja murah yang melimpah, China dengan cepat mengisi celah dalam sistem perdagangan internasional.
“Dulu Amerika adalah pusat perdagangan dunia. Kini, China jadi mitra dagang utama bagi 145 dari 205 negara,” tulis laporan tersebut
Lonjakan Ekspor yang Mencengangkan
Salah satu pendorong dominasi China adalah lonjakan ekspornya yang luar biasa. Setelah sempat stagnan di angka USD2,5 triliun pada 2019 akibat perang dagang, ekspor China pasca-pandemi justru melesat hingga mencapai USD3,5 triliun sejak 2022. Tak hanya itu, surplus perdagangan China juga melonjak hampir dua kali lipat, dari USD430 miliar menjadi hampir USD1 triliun pada 2024.
Namun, keunggulan China dalam ekspor ini tidak berbanding lurus dengan perannya sebagai konsumen dunia. Sebagian besar negara lebih banyak mengimpor dari China, tapi ekspor ke sana justru tidak signifikan. Ini menciptakan ketidakseimbangan besar dalam hubungan dagang global.
Sebaliknya, Amerika Serikat tetap menjadi tujuan ekspor utama bagi lebih dari setengah negara di dunia. Meski kalah dalam volume perdagangan bilateral, kekuatan konsumsi domestik AS menjadikannya pasar paling menjanjikan di mata dunia.
Strategi Terselubung di Balik Tarif
Ironisnya, kebijakan tarif tinggi yang diterapkan AS justru mendorong China memperluas jangkauan pasar ekspornya ke negara-negara lain. Bahkan, banyak produk China kini masuk ke pasar Amerika melalui jalur tidak langsung melalui komponen dan suku cadang yang dikirim ke negara ketiga lalu dirakit kembali.
“Serangan tarif AS belum mampu menghentikan laju ekspor China,” tulis laporan itu. “Namun, tekanan global tampaknya akan terus meningkat.”
Di balik angka ekspor yang mengesankan, ekonomi domestik China justru tengah menghadapi tantangan serius. Sektor properti melemah, konsumsi domestik lesu, dan kepercayaan pelaku usaha melemah. Pemerintah China memilih untuk tidak mengguyur stimulus besar-besaran, melainkan menggandakan strategi lama: dorong ekspor, kuatkan manufaktur.
Langkah ini, meski berisiko menciptakan ketergantungan global pada produk China, menunjukkan bahwa negeri itu belum kehabisan cara untuk menyaingi dominasi Amerika.