Pasar Saham Asia Meroket, IHSG Berpotensi Menguat Meski Terbatas
IHSG diproyeksikan akan bergerak dalam kisaran 6.700 hingga 6.945.
Pasar saham global mendapat angin segar setelah Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat menunda perang tarif selama 90 hari. Keputusan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar, termasuk di Indonesia, yang mulai melihat peluang baru di tengah meredanya tensi perdagangan dua raksasa ekonomi dunia.
Hendra Wardana, pengamat pasar sekaligus Founder Stocknow.id, menyebut bahwa kesepakatan ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar global. Menurutnya, keputusan tersebut membuka ruang bagi para investor untuk kembali percaya diri dalam mengelola portofolio mereka, setelah sebelumnya diwarnai ketidakpastian panjang akibat tensi dagang kedua negara.
"Kebijakan ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar global dan menandai peluang meredanya ketegangan dagang dua negara ekonomi terbesar dunia," ujar Hendra kepada merdeka.com, Senin (12/5).
Pergerakan IHSG dan Dampak Libur Nasional
Secara teknikal, Hendra memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.700 hingga 6.945. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan kemungkinan bersifat terbatas karena minggu ini aktivitas perdagangan hanya berlangsung selama tiga hari kerja. Hal ini disebabkan oleh libur nasional Waisak yang jatuh pada Senin dan Selasa.
"Libur bersama berpotensi membuat volume transaksi menipis, membuka ruang bagi volatilitas jangka pendek," tambahnya.
Dalam situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian, Hendra menyoroti potensi saham berbasis komoditas dan konstruksi seperti ANTM, INCO, dan PTPP. Menurutnya, saham-saham tersebut bisa diuntungkan oleh stabilisasi harga global serta ekspektasi percepatan pembangunan dalam negeri.
ANTM: 2.800
INCO: 2.970
PTPP: 442
Tetap Waspada
Meski peluang penguatan masih terbuka, Hendra menilai IHSG belum memasuki fase reli besar. Ia memperkirakan pergerakan indeks akan cenderung stagnan atau sideways, selama tidak ada guncangan eksternal yang signifikan.
Meskipun saat ini tensi dagang mereda, Hendra mengingatkan bahwa penundaan perang tarif ini masih bersifat sementara. Ia menyarankan pelaku pasar dan pelaku usaha untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.
"Apalagi, Presiden Trump menyampaikan kemungkinan untuk menaikkan tarif hingga 80 persen jika pembicaraan dengan China di Swiss akhir pekan ini tidak membuahkan hasil," tegas Hendra.