Robot Humanoid Mulai Gantikan Buruh di China, dari Lipat Baju hingga Buat Sarapan
Kemajuan teknologi di China didukung oleh pemerintah dengan menggelontorkan dana besar bagi banyak perusahaan.
Di sebuah gudang luas di pinggiran kota Shanghai, puluhan robot humanoid bekerja tanpa lelah, melipat kaus, membuat roti lapis, dan membuka pintu secara berulang. Mereka beroperasi selama 17 jam sehari, menghasilkan data yang digunakan oleh AgiBot, perusahaan rintisan robot humanoid asal China, untuk melatih robot yang diharapkan akan mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan bermain.
Pendiri AgiBot, Peng Zhihui, yang sebelumnya bekerja di Huawei, mendirikan perusahaan ini pada 2023 dengan tujuan mengembangkan robot humanoid yang dapat berfungsi secara mandiri di berbagai sektor industri. Visi AgiBot adalah menciptakan robot yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga dapat belajar dan beradaptasi dengan lingkungan kerja mereka.
Pentingnya robot humanoid bagi Beijing ditegaskan ketika Presiden China Xi Jinping memeriksa robot AgiBot di Shanghai bulan lalu. Xi bercanda saat kunjungan itu bahwa mungkin mesin-mesin itu bisa bermain dalam tim sepak bola. Selain AgiBot, pengembang robot humanoid dalam negeri lainnya, Unitree, juga hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan Xi untuk perusahaan swasta awal tahun ini, di mana ia mendesak mereka untuk membantu ekonomi China.
Dalam beberapa tahun terakhir, robot humanoid China telah menunjukkan peningkatan yang sangat agresif, termasuk melakukan jungkir balik, berlari setengah maraton, dan bahkan bermain sepak bola.
Namun, kemajuan ini tidak hanya didorong oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh dukungan besar dari pemerintah. Lebih dari USD20 miliar telah dialokasikan untuk sektor ini selama setahun terakhir, dan Beijing menyiapkan dana satu triliun yuan (USD137 miliar atau setara Rp2.263 triliun) untuk mendukung perusahaan rintisan di bidang seperti AI dan robotika.
Pemerintah juga merupakan pembeli utama, menurut tinjauan Reuters terhadap ratusan dokumen tender. Pengadaan robot humanoid dan teknologi terkait oleh negara melonjak menjadi 214 juta yuan pada tahun 2024 dari 4,7 juta yuan pada tahun 2023.
Tantangan Masa Depan
Namun, meskipun kemajuan teknologi dan dukungan pemerintah yang signifikan, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah potensi penggantian pekerjaan manusia oleh robot. Sekitar 123 juta orang bekerja di bidang manufaktur di Tiongkok, dan pakar jaminan sosial memperingatkan bahwa pengembangan robot dan AI akan memengaruhi sekitar 70% sektor manufaktur Tiongkok, yang dapat menyebabkan penurunan tajam dalam kontribusi jaminan sosial.
Meskipun ada kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lapangan pekerjaan, Beijing memandang teknologi tersebut sebagai kunci untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sejumlah bidang seperti perawatan lansia, di mana permintaannya meningkat seiring bertambahnya usia penduduk Tiongkok yang mencapai 1,4 miliar.
Pemerintah China menerbitkan rencana perawatan lansia nasional pada bulan Desember yang mendorong integrasi robot humanoid dan AI. Segera setelah itu, raksasa teknologi Ant Group mengumumkan pembentukan anak perusahaan baru Ant Lingbo Technology, yang robot humanoidnya akan fokus pada perawatan lansia, di antara bidang lainnya.
"Robot dalam lima atau 10 tahun ke depan dapat merapikan kamar penghuni, mengambil paket, atau bahkan memindahkan orang dari tempat tidur ke kamar mandi," kata Yao dari AgiBot.
Dengan investasi besar dan fokus pada pengembangan teknologi, China berambisi untuk menjadi pemimpin global dalam industri robot humanoid. Namun, perjalanan ini memerlukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan dampaknya terhadap masyarakat.