China Bagikan Sampel Misi Bulan ke Dunia, Tapi NASA Dilarang
Larangan tersebut berasal dari Wolf Amendment, kebijakan federal AS sejak 2011 yang mencegah kerja sama bilateral.
Ilmuwan Amerika Serikat akhirnya mendapat akses ke sampel Bulan dari misi Chang’e 5 milik Tiongkok, meskipun harus melewati jalur pendanaan mandiri akibat larangan kerja sama dengan badan antariksa China.
Timothy Glotch, ilmuwan planet dari Stony Brook University di New York, menjadi peneliti AS pertama yang secara resmi meneliti batuan bulan dari Chang’e 5. Namun, tidak ada satu dolar pun dari NASA yang bisa digunakan untuk mendukung penelitiannya.
Larangan tersebut berasal dari Wolf Amendment, kebijakan federal AS sejak 2011 yang mencegah kerja sama bilateral antara NASA dan China National Space Administration (CNSA) tanpa persetujuan langsung dari Kongres.
Akibatnya, meskipun Tiongkok membuka akses untuk berbagi sampel secara global, peneliti AS seperti Glotch harus mencari sumber pendanaan sendiri.
"Kami melakukannya lewat dana institusi dan kolaborasi non-NASA," ujar Glotch dalam wawancara dengan media ilmiah AS dikutip dari LiveScience, Senin (19/5).
Glotch menerima 60 miligram dari total 1.731 gram sampel bulan yang berhasil dikumpulkan misi Chang’e 5 pada 2020. Ia dan timnya berencana memanaskan sampel untuk memahami sifat termalnya dan membandingkannya dengan peta termal satelit Bulan.
Lokasi pengambilan sampel, yakni Mons Rümker di Oceanus Procellarum, adalah wilayah vulkanik yang belum pernah dijamah misi AS sebelumnya, menjadikannya sangat penting dalam studi geologi Bulan.
Studi awal dari peneliti Tiongkok menunjukkan bahwa batuan ini lebih muda miliaran tahun dibandingkan sampel dari misi Apollo, memperpanjang rentang waktu aktivitas vulkanik Bulan hingga 120 juta tahun lalu.
Di Inggris, ilmuwan Mahesh Anand dari Open University yang juga menerima 60 miligram sampel, akan memanaskannya hingga 1.400 derajat Celsius untuk mengekstraksi gas mulia dan unsur-unsur penting lainnya.
Meski kerja sama ilmiah tetap mungkin lewat jalur non-NASA, Glotch menegaskan bahwa larangan semacam Wolf Amendment justru memperlambat kemajuan.
"Pengetahuan harusnya lintas batas. Tapi hukum kita sendiri yang justru menghalangi," ujarnya.
Langkah Tiongkok membuka akses ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik luar angkasa yang meningkat. Dengan lebih banyak negara dan perusahaan swasta berlomba menuju Bulan, kolaborasi ilmiah lintas negara semakin krusial.
Namun, seperti yang ditunjukkan oleh kasus Chang’e 5, politik domestik kerap menjadi batu sandungan utama dalam pertukaran pengetahuan global.