Mobil Listrik China Mulai Geser Dominasi Jepang
Pakar ITB menilai mobil China mulai menggeser dominasi Jepang di segmen EV dan menengah, didorong harga BBM tinggi dan harga kendaraan lebih terjangkau.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai produsen mobil asal China mulai memperkuat posisinya di pasar otomotif Indonesia, terutama pada segmen kendaraan listrik (EV) dan kelas menengah.
Ia menyebut, meski pabrikan Jepang masih dominan di beberapa segmen, tekanan dari merek China semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir.
“China belum akan menggeser popularitas mobil Jepang di segmen SUV entry level, MPV entry level dan Low Cost Green Car (LCGC) Internal Combustion Engine (ICE) konvensional dalam 3 sampai 5 tahun ke depan,” kata Yannes seperti dikutip Antara, Selasa (21/4/2026).
EV dan Segmen Menengah Mulai Dikuasai
Namun, pergeseran kekuatan pasar sudah mulai terlihat di segmen tertentu. Merek China dinilai semakin kompetitif di pasar kendaraan listrik, SUV, hingga hatchback kelas menengah.
Faktor harga menjadi salah satu pendorong utama. Kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) membuat kendaraan listrik dinilai lebih ekonomis untuk penggunaan harian, khususnya di wilayah perkotaan.
“Harga BBM yang mahal membuat biaya operasional EV entry level terlihat semakin jauh lebih hemat. Tren ini akan semakin menguat di kota besar dan mendorong adopsi EV China di berbagai kota lebih cepat,” katanya.
Tantangan Persepsi Mobil China
Di sisi lain, Yannes menyebut persepsi konsumen terhadap mobil China masih beragam. Beberapa kekhawatiran yang masih muncul antara lain terkait nilai jual kembali, ketahanan kendaraan, serta ketersediaan suku cadang dalam jangka panjang.
Namun, kondisi tersebut mulai membaik seiring peningkatan layanan purnajual serta kehadiran fasilitas perakitan lokal.
Ia juga menyoroti dampak masuknya produsen China terhadap industri dalam negeri. Kehadiran pabrik perakitan dalam negeri (CKD) dinilai memberikan peluang penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi.
"Memang betul pabrik CKD China menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong transfer teknologi. Tetapi, banyak pemasok komponen lokal tertekan karena China sering menggunakan rantai pasoknya sendiri," katanya.
Selain itu, implementasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) disebut masih bersifat administratif, sehingga belum sepenuhnya mendorong penguasaan teknologi inti di sektor otomotif nasional.