Studi Ungkap WFH Lebih Baik untuk Mental Perempuan Dibanding Pria
Berdasarkan studi terbaru secara global, bekerja dari rumah (WFH) terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental perempuan.
Bekerja dari rumah (WFH) sering dianggap sebagai solusi yang ideal untuk meningkatkan keseimbangan hidup serta kesehatan mental. Namun, dua penelitian yang berbeda menunjukkan bahwa dampak dari WFH ternyata jauh lebih kompleks dan dapat bervariasi antara perempuan dan pria.
Secara umum, WFH terbukti memberikan manfaat bagi kesehatan mental, tetapi penting untuk mengetahui siapa yang paling diuntungkan dan dalam kondisi apa, karena ini adalah kunci yang tidak bisa diabaikan.
Perempuan Lebih Diuntungkan dari WFH
Sebuah analisis yang melibatkan lebih dari 16.000 pekerja di Australia menemukan bahwa perempuan mengalami peningkatan kesehatan mental saat menjalani WFH, seperti yang dikutip dari independent.co.uk pada Sabtu, 11 April 2026.
Namun, manfaat ini paling optimal ketika WFH dilakukan dengan cara hybrid, yaitu kombinasi antara bekerja dari rumah dan ke kantor satu hingga dua hari dalam seminggu. Dalam pola kerja ini, perempuan cenderung merasa lebih seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka juga mengalami penurunan stres kerja serta memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengatur waktu, terutama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, bagi perempuan yang sebelumnya memiliki kondisi kesehatan mental yang kurang baik, sistem kerja hybrid memberikan dampak yang signifikan, setara dengan peningkatan kesejahteraan akibat kenaikan pendapatan.
Namun, manfaat ini bukan hanya disebabkan oleh tidak adanya perjalanan ke kantor. Ada faktor lain yang berperan, seperti kontrol terhadap waktu dan lingkungan kerja yang lebih nyaman.
Sisi Lain dari WFH
Walaupun tampak menjanjikan, penelitian lain dari King's Business School justru menunjukkan bahwa WFH tidak selalu memberikan dampak positif, terutama bagi perempuan profesional. Studi yang melibatkan hampir 40.000 pekerja di Inggris selama 14 tahun ini dipimpin oleh Dr. Constance Beaufils dan Profesor Heejung Chung, seperti yang dikutip dari kcl.ac.uk.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebelum pandemi COVID-19, WFH justru berkaitan dengan penurunan kesehatan mental pada perempuan di posisi profesional. Penyebabnya cukup kompleks, salah satunya adalah fenomena 'stigma fleksibilitas', di mana perempuan yang bekerja dari rumah merasa harus membuktikan komitmen mereka dengan bekerja lebih lama dan selalu siap sedia.
Selain itu, WFH juga membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Alih-alih menciptakan keseimbangan, perempuan justru menghadapi beban ganda karena harus menangani pekerjaan kantor sambil menyelesaikan tanggung jawab domestik secara bersamaan. Namun, kondisi ini tidak berlaku untuk semua. Perempuan yang bekerja di sektor dengan upah lebih rendah justru merasakan manfaat nyata dari WFH, karena fleksibilitas yang diberikan membantu mengurangi tekanan sehari-hari.
Setelah Pandemi
Menariknya, pola ini mengalami perubahan setelah pandemi COVID-19. Ketika kerja dari rumah (WFH) menjadi lebih umum dan diterima secara luas, dampak positif mulai dirasakan oleh perempuan profesional.
Menurut Dr. Constance Beaufils, peneliti afiliasi di King's Global Institute for Women's Leadership, perubahan ini lebih dipengaruhi oleh budaya kerja dibandingkan dengan kebijakan itu sendiri. "Selama bertahun-tahun WFH dianggap sebagai solusi kesejahteraan. Namun, bagi sebagian orang --- terutama perempuan profesional --- WFH justru memperburuk kondisi karena mereka harus menjalani pekerjaan penuh waktu sekaligus mengurus keluarga," ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa setelah pandemi, stigma terhadap kerja fleksibel mulai berkurang, sehingga perempuan tidak lagi merasa perlu 'mengimbangi' dengan bekerja berlebihan.
Di sisi lain, laki-laki mulai lebih terlibat dalam pekerjaan domestik saat bekerja dari rumah. Hal ini membuat pembagian beban di rumah menjadi lebih seimbang, meskipun di sisi lain, manfaat kesehatan mental bagi pria cenderung menurun dibandingkan sebelumnya. Temuan dari kedua studi ini menegaskan bahwa WFH bukanlah solusi tunggal untuk meningkatkan kesehatan mental. Dampaknya sangat bergantung pada banyak faktor, mulai dari gender, jenis pekerjaan, hingga budaya kerja di suatu organisasi.