Dokter Ungkap Batas Aman Konsumsi Jeroan
Dokter mengingatkan konsumsi jeroan perlu dibatasi untuk mencegah risiko kolesterol dan gangguan metabolik. Anak di bawah dua tahun menjadi pengecualian.
Jeroan kerap menjadi menu favorit masyarakat, namun konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan seperti kolesterol tinggi, asam urat, hingga masalah metabolik.
Karena itu, dokter menyarankan konsumsi jeroan dibatasi, baik pada orang dewasa maupun anak-anak di atas usia tertentu.
Dokter spesialis anak RSAB Harapan Kita, Prajnya Paramitha Narendraswari, menjelaskan bahwa jeroan termasuk kelompok makanan yang tidak dianjurkan dikonsumsi terlalu sering.
“Ada yang namanya everyday food, ada pula sometimes food, kalau jeroan seperti otak, sumsum itu bisa dibatasi satu bulan sekali. Kalau jeroan lain seperti ati, paru, usus, kalau dibatasi mungkin satu sampai dua kali per bulan itu oke,” kata Prajnya dalam siaran langsung Instagram bersama Kementerian Kesehatan, 26 Mei 2026.
Anak di Bawah Dua Tahun Tidak Perlu Membatasi Lemak
Menurut Prajnya, aturan tersebut berbeda untuk anak berusia di bawah dua tahun. Pada masa tersebut, perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga kebutuhan lemak masih tergolong tinggi.
“Panduan mana pun tidak menyebutkan bahwa anak di bawah usia 2 tahun harus membatasi lemak. Di bawah usia 2 tahun mau dia makan otak, daging iga, gajih sekalipun, kalau di bawah 2 tahun boleh. Tapi di atas usia itu, kita harus batasi konsumsi lemak.”
“Mulai usia MPASI enam bulan sampai dua atau tiga tahun, kasih aja gulai otak, setiap hari juga enggak apa-apa,” ujarnya.
Ia menambahkan kebutuhan daging anak berbeda sesuai usia. Untuk anak usia enam bulan hingga tiga tahun, konsumsi daging minimal berkisar 25-40 gram per hari di luar sumber protein lainnya.
Sementara anak prasekolah dapat mengonsumsi sekitar 40-50 gram daging per hari. Saat memasuki usia sekolah dasar, kebutuhan tersebut meningkat menjadi sekitar 60 gram per hari dan bisa mencapai 75 gram per hari pada usia yang lebih besar.
Risiko Kolesterol Tinggi Sering Tak Disadari
Prajnya menjelaskan daging sapi dan kambing mengandung protein berkualitas tinggi berupa asam amino esensial, zat besi, vitamin, dan berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh.
Namun manfaat tersebut dapat berubah menjadi faktor risiko apabila dikonsumsi berlebihan, terutama jika diolah dengan santan atau digoreng.
“Kalau konsumsinya berlebihan apalagi ditambah santan atau digoreng, maka lemak baiknya bisa menjadi lemak trans, jadi lemak jenuh atau lemak yang buruk. Jika lemak ini menumpuk terlalu banyak, maka ada beberapa kondisi yang bisa terjadi, termasuk dislipidemia,” katanya.
Dislipidemia merupakan kondisi ketika kadar kolesterol, LDL, HDL, atau trigliserida berada di luar batas normal.
Prajnya menuturkan kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
“Kadang-kadang, gejala pegal-pegal yang dialami itu belum tentu karena kadar kolesterol lagi tinggi.”
Karena itu, ia menyarankan pemeriksaan kolesterol secara berkala, terutama bagi anak yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kolesterol tinggi atau jantung koroner.
Untuk anak dengan faktor risiko, skrining dapat dilakukan sejak usia dua hingga delapan tahun. Sementara anak tanpa faktor risiko dapat menjalani pemeriksaan saat memasuki masa pubertas, yakni usia 9-12 tahun dan 17-18 tahun.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa masalah kesuburan maupun kesehatan reproduksi tidak selalu berasal dari perempuan. Menurutnya, pola hidup tidak sehat seperti merokok juga dapat memengaruhi kualitas sperma dan kesehatan secara keseluruhan.
“Masalah sperma banyak juga disebabkan perilaku-perilaku yang tidak baik yang sekarang masih beredar di kalangan bapak-bapak. Misalnya merokok, merokok adalah salah satu yang menurunkan kualitas sperma,” kata Dante.