Tips Aman Kemping dan Glamping di Pegunungan, Pelajaran Penting dari Tragedi di Posong Temanggung
Tragedi satu keluarga meninggal dunia kemping Temanggung menjadi pengingat memahami risiko keracunan, hipotermia dan paparan karbon monoksida di alam terbuka.
Tragedi yang menimpa satu keluarga di kawasan wisata Posong, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah, pada Rabu (27/5) menjadi pengingat penting bahwa kegiatan berkemah di pegunungan bukanlah sekadar liburan yang santai. Hal ini mengingatkan kita bahwa ada risiko yang nyata yang harus dipahami oleh setiap pengunjung yang ingin menikmati alam.
Empat anggota keluarga dari Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yaitu seorang ayah berinisial MHM (52), istrinya M (43), serta dua putra mereka AEH (17) dan BAH (21), ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam tenda camping. Mereka ditemukan dalam kondisi kaku saat petugas wisata membuka pintu tenda sekitar pukul 15.00 WIB. Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, menyatakan bahwa ada indikasi awal keracunan yang perlu diselidiki lebih lanjut.
Sampel makanan barbeque yang dibawa oleh korban telah diamankan untuk diperiksa di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah. Proses autopsi juga masih berlangsung di RSUD Temanggung untuk mengungkap penyebab pasti kematian mereka. Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa sedikitnya empat orang saksi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kejadian tragis ini.
Risiko Tersembunyi di Dalam Tenda
Salah satu penyebab utama kematian saat berkemah di seluruh dunia adalah keracunan karbon monoksida (CO), yang merupakan gas tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak terasa. Gas ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar berbasis karbon seperti arang, gas propana, kompor portabel, dan lentera yang tidak sempurna. Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, terdapat rata-rata 30 kematian setiap tahun akibat keracunan CO di dalam tenda dan kendaraan kemping selama periode 1990 hingga 1994. Secara khusus, penggunaan kompor portabel dan lentera saat berkemah berkontribusi terhadap 10 hingga 17 kematian per tahun, sedangkan panggangan arang menyumbang 15 hingga 27 kematian per tahun pada periode yang sama.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Journal of Wilderness & Environmental Medicine pada tahun 2004 oleh Simon Leigh-Smith juga mengonfirmasi pola yang sama. Dalam tinjauan tersebut, disebutkan bahwa dari 136 kematian akibat keracunan CO yang terjadi secara tidak sengaja di California selama satu dekade antara 1979 hingga 1988, 10 di antaranya terkait langsung dengan peralatan camping, di mana 7 kematian berasal dari lentera atau lampu dan 3 dari kompor. Data terbaru dari CPSC menunjukkan bahwa antara 2006 hingga 2010, setidaknya 26 orang meninggal akibat keracunan CO yang berhubungan dengan peralatan camping, termasuk panggangan, lentera, dan kompor. Selain itu, laporan CPSC mengenai insiden yang terkait dengan tenda mencatat 26 kejadian antara 2010 dan 2015, yang mengakibatkan 12 kematian dan 148 cedera, di mana 9 kematian di antaranya disebabkan oleh keracunan karbon monoksida.
CPSC juga memperingatkan bahwa membakar arang di ruang tertutup, termasuk di dalam rumah, kendaraan, dan tenda, menyebabkan sekitar 25 kematian setiap tahun akibat keracunan CO, ditambah ratusan korban lainnya yang mengalami gejala keracunan. Di sisi lain, data dari Korea Selatan mencatat lebih dari 150 insiden keracunan CO selama periode 2021 hingga 2023, dengan 28 korban jiwa, mayoritas insiden terjadi saat cuaca dingin ketika pengunjung menyalakan pemanas di dalam tenda atau kendaraan.
Rekomendasi Keamanan dari CDC dan University of Utah Poison Control
- Hindari penggunaan kompor, pemanas, atau panggangan berbahan bakar di dalam tenda, kendaraan, atau ruangan tertutup.
- Membuka resleting pintu atau jendela tenda saja tidak cukup untuk mencegah penumpukan karbon monoksida.
- Jangan memasak di dalam tenda, terutama saat tidur.
- Kenali gejala keracunan CO seperti sakit kepala, mual, pusing, sesak napas, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran.
- Bawa detektor CO portabel, terutama saat berkemah di dataran tinggi.
- Apabila mencurigai adanya keracunan CO, segera pindahkan korban ke area terbuka dan hubungi layanan darurat.
Panduan aman kemping
Dalam kasus Posong, pihak kepolisian berhasil mengamankan sisa makanan barbeque yang dibawa oleh korban untuk dijadikan sebagai sampel dalam pemeriksaan. Meskipun hasil investigasi nantinya belum dapat dipastikan, insiden ini menjadi pengingat yang sangat penting mengenai keamanan pangan saat memasak di luar ruangan. Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan USDA Food Safety and Inspection Service (FSIS), bakteri dalam makanan dapat berkembang biak dengan lebih cepat pada suhu antara 4°C hingga 60°C, yang dikenal sebagai "zona bahaya" (danger zone). Ketika berkemah di luar tanpa akses pendingin yang memadai, risiko kontaminasi makanan menjadi jauh lebih tinggi.
Panduan Keamanan Pangan Saat Camping dan Barbeque
- Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah menangani makanan.
- Gunakan cooler box yang berisi es batu atau gel pack beku untuk menyimpan daging mentah agar tetap di bawah suhu 4°C.
- Pisahkan daging mentah dari makanan yang siap santap untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
- Masak daging hingga mencapai suhu internal yang aman dengan menggunakan termometer makanan portabel.
- Simpan sisa makanan di dalam cooler box maksimal dua jam setelah dimasak.
- Hindari membiarkan makanan matang terpapar udara terbuka terlalu lama.
- Rendam atau marinasi daging di dalam cooler box, bukan pada suhu ruangan.