Stres Masih Membayangi Korban Longsor Cisarua, Tim Psikologis Siap Mendampingi
Pendampingan psikologis awal terus diberikan kepada korban longsor di Cisarua, mengingat banyak di antara mereka yang mengalami stres.
Di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Provinsi Jawa Barat (Jabar), terdapat 203 orang perempuan dan 78 anak yang menjadi pengungsi akibat longsor.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jabar, Siska Gerfianti, menyatakan bahwa dukungan Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal terus diberikan, mengingat mereka masih merasa bingung akibat kehilangan kerabat, rumah, harta benda, dan mata pencaharian.
"Sebagian besar warga terdampak longsor mengalami respons stres yang bersifat normal, bukan gangguan atau trauma," ungkap Siska dalam keterangannya yang ditulis di Bandung pada Jumat (30/1).
Untuk membantu memulihkan rasa percaya diri mereka, DP3AKB menyediakan dukungan psikologis awal melalui pendampingan psikososial bagi para korban. Pendampingan ini mencakup kehadiran empatik, mendengarkan secara aktif, mengamati kondisi, memastikan rasa aman, serta menghubungkan penyintas dengan sumber bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama bagi ibu dan anak.
Siska berharap bahwa melalui kegiatan pendampingan ini, warga yang terdampak dapat lebih kuat dalam menghadapi bencana dan kembali menjalani kehidupan normal, meskipun harta benda mereka telah hancur akibat longsor.
"Kami harap, dengan kegiatan pendampingan ini warga terdampak akan lebih kuat menghadapi bencana dan kembali seperti biasa, meski harta benda yang mereka miliki hancur diterjang longsor," kata Siska.
Pendampingan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pemulihan
Pendampingan diharapkan dapat mengurangi tekanan psikologis, meningkatkan daya pulih, serta memulihkan fungsi sosial para penyintas. Tim pendamping terdiri dari berbagai profesi, mulai dari konselor hingga tenaga ahli psikologi yang berkompeten.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, DP3AKB Provinsi Jabar bekerja sama dengan konselor dari PUSPAGA Balarea Provinsi Jabar, Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Jabar, serta Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) dan teladan KB di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
"Kolaborasi (juga) dijalin dengan TP PKK Kabupaten Bandung Barat, Dinas P2KBP3A Kabupaten Bandung Barat, Dinas P3A Kota Bandung serta Kepala UPT P2KBP3A Kecamatan Cisarua," ungkap Siska.
Pemulihan dari trauma
Pada Selasa, 27 Januari 2026, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Syahnaz Sadiqah, melakukan kunjungan langsung kepada penyintas bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB. Dalam kesempatan tersebut, Syahnaz memberikan bantuan kepada warga yang terdampak serta melaksanakan kegiatan trauma healing, yang sangat penting terutama bagi anak-anak yang mengalami dampak psikologis akibat bencana.
Syahnaz meninjau lokasi dapur umum yang berfungsi sebagai pusat penyediaan logistik bagi para pengungsi.
"Kegiatan trauma healing sangat penting untuk membantu memulihkan kondisi psikologis warga pasca bencana, terutama anak-anak agar tidak mengalami trauma berkepanjangan," ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegiatan ini dilakukan bersama tim dari provinsi untuk memastikan anak-anak tidak terbebani oleh pengalaman traumatis di masa depan.
Trauma healing yang dilaksanakan melibatkan berbagai aktivitas menyenangkan bagi anak-anak, seperti bermain, membaca dongeng, dan menggambar.
"Di sini saya mengajak anak-anak korban bencana salah satunya bermain, membaca dongeng, dan menggambar. Supaya fokus mereka kembali ke aktivitas anak-anak," ujar Syahnaz.
Selain memberikan perhatian kepada anak-anak, Syahnaz juga menyoroti kelompok rentan lainnya, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia, yang juga membutuhkan perhatian lebih dalam situasi tersebut.
Syahnaz menegaskan pentingnya pemenuhan asupan gizi yang baik bagi kelompok rentan selama mereka berada di pengungsian.
Ia menyampaikan, "Kami juga membagikan makanan untuk anak-anak dan menitipkan perhatian khusus kepada para ibu menyusui, ibu hamil, lansia, dan anak-anak."
Selain itu, Syahnaz menyampaikan rasa duka dan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh korban bencana tanah longsor, berharap semua dapat segera pulih dan tidak ada bencana susulan yang terjadi.
"Mudah-mudahan semuanya segera pulih, para korban yang belum ditemukan agar segera ditemukan, dan semoga tidak ada bencana susulan lagi," ungkapnya.
Syahnaz juga mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari tim SAR, relawan, aparat pemerintah, hingga masyarakat yang telah bekerja sama dalam membantu para korban.
"Dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua tim yang telah bekerja keras dalam penanganan bencana ini," tambahnya.
Pemerintah KBB berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat dalam setiap keadaan, termasuk dalam penanganan dan pemulihan pasca bencana, baik secara fisik maupun psikologis, demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga.
Lakukan Pencarian di Hari Ketujuh
Operasi pencarian korban tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) telah memasuki hari ketujuh pada Jumat (30/1/2026). Tim SAR Gabungan kembali dikerahkan untuk melanjutkan upaya pencarian dan evakuasi korban yang masih diduga terjebak di bawah tumpukan material longsor.
Direktur Operasi BASARNAS, Laksamana Pertama TNI Y. Bramantyo N., mengungkapkan bahwa seluruh personel telah disiapkan sejak pagi hari untuk memastikan kelancaran pelaksanaan operasi di seluruh sektor pencarian.
Dengan memasuki hari ketujuh, diharapkan operasi SAR dapat berjalan lebih efektif, terutama karena kondisi cuaca yang lebih baik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang sering terhambat oleh hujan.
"Kemarin pekerjaan di lapangan cukup terhambat oleh faktor cuaca. Mudah-mudahan hari ini kondisi lebih mendukung sehingga proses pencarian dapat dilakukan secara maksimal," ujar Bramantyo.
Untuk mempercepat proses pencarian, Basarnas telah menambah dukungan alat berat berupa dua unit excavator jenis PC 200. Alat berat ini akan digunakan untuk menggeser dan membuka material longsoran di area yang strategis, khususnya di perbatasan sektor A2 dan A3. Meskipun ada penambahan alat berat, jumlah dan pembagian personel tetap sama seperti sebelumnya. Pembagian sektor pencarian dipertahankan untuk menjaga efektivitas dan kelancaran operasi di lapangan.
Di akhir keterangannya, Bramantyo mengajak semua pihak untuk mendoakan agar proses pencarian korban dapat berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil yang terbaik.