Tim Search and Rescue (SAR) gabungan terus melanjutkan operasi pencarian pada hari kedua pasca bencana longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Bencana alam ini telah menyebabkan puluhan rumah terdampak dan ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Fokus utama tim SAR saat ini adalah menemukan sekitar 80 warga yang dilaporkan masih hilang akibat tertimbun material longsoran.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menyatakan bahwa penghentian sementara operasi dilakukan untuk evaluasi menyeluruh bersama seluruh unsur yang terlibat, termasuk pemerintah daerah, Polri, dan relawan. Koordinasi yang kuat di lapangan dipimpin oleh SAR Mission Koordinator untuk memastikan efektivitas dan keamanan proses pencarian. Data awal menunjukkan bahwa bencana ini berdampak pada 113 orang dari 34 kepala keluarga.
Hingga saat ini, dua belas kantong jenazah korban telah diserahkan kepada pos Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, lebih dari 30 rumah dilaporkan terdampak, dan jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 300 hingga 400 orang. Tim SAR juga berhasil menyelamatkan 23 personel dari lokasi kejadian yang berbahaya.
Advertisement
Advertisement
Proses pencarian korban longsor di Cisarua menghadapi berbagai tantangan signifikan, terutama kondisi medan yang sangat lunak akibat material longsoran berupa tanah bercampur air. Hal ini membuat penggunaan alat berat menjadi sulit dan harus disesuaikan dengan kondisi lapangan demi keamanan tim penyelamat. Meskipun demikian, alat berat telah disiapkan dan akan diturunkan jika situasi memungkinkan dan aman untuk dioperasikan.
Jika penggunaan alat berat belum memungkinkan, tim SAR akan melanjutkan pencarian secara manual, mengandalkan kekuatan dan kehati-hatian personel. Ade Dian menjelaskan bahwa cuaca yang tidak menentu, dengan intensitas hujan sedang hingga lebat, menjadi hambatan utama. Kondisi material longsoran yang belum stabil juga sangat membahayakan tim penyelamat, meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan.
Dari hasil asesmen awal, ketebalan timbunan longsor diperkirakan mencapai sekitar lima meter, menutupi area selebar kurang lebih 100 meter. Jarak dari mahkota longsoran hingga titik akhir material mencapai sekitar tiga kilometer, menunjukkan skala bencana yang cukup besar. Luasnya area terdampak dan kedalaman timbunan menjadi faktor penentu lamanya proses evakuasi.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut ambil bagian dalam mendukung kelancaran operasi pencarian korban longsor Cisarua dengan merencanakan modifikasi cuaca. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi intensitas hujan di wilayah terdampak, sehingga kondisi lapangan menjadi lebih stabil dan aman bagi tim SAR. Modifikasi cuaca dijadwalkan akan dimulai segera untuk mempercepat proses evakuasi.
Ade Dian mengungkapkan harapannya bahwa upaya modifikasi cuaca ini akan efektif, memungkinkan tim untuk bekerja lebih optimal tanpa terganggu hujan lebat. Cuaca yang lebih baik akan sangat membantu dalam menstabilkan material longsoran dan mengurangi risiko bagi para petugas di lapangan. Keberhasilan modifikasi cuaca akan menjadi kunci dalam mempercepat penemuan para korban yang masih hilang.
Selain modifikasi cuaca, koordinasi antara berbagai unsur seperti pemerintah daerah, Polri, dan relawan terus diperkuat. Kolaborasi ini penting untuk memastikan seluruh sumber daya terdistribusi secara efisien dan setiap langkah pencarian terencana dengan baik. Keselamatan tim penyelamat juga menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan operasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews