Anggota DPR Soroti Kondisi Psikologis Korban Longsor Cisarua, Tekankan Pendekatan Humanis
Anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya menyoroti serius kondisi psikologis korban longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang mengalami trauma mendalam setelah kehilangan anggota keluarga.
Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Atalia Praratya menyoroti kondisi psikis para korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sorotan ini muncul setelah Atalia bertemu langsung dengan sejumlah warga terdampak di lokasi pengungsian pada Senin, 26 Januari. Banyak korban yang kehilangan seluruh anggota keluarga mereka dalam peristiwa tragis tersebut, menimbulkan duka mendalam dan trauma berat.
Dalam kunjungannya, Atalia Praratya mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi mental para penyintas bencana. Beberapa korban menyatakan telah kehilangan seluruh kerabatnya, seperti seorang ibu yang kini sendirian karena 14 anaknya belum ditemukan. Situasi ini menunjukkan betapa parahnya dampak psikologis yang dialami oleh masyarakat terdampak longsor di Cisarua.
Atalia menekankan bahwa pemerintah perlu memberikan penanganan maksimal dengan pendekatan humanis. Hal ini termasuk penguatan psikologis bagi para korban dan arahan untuk mematuhi prosedur evakuasi. Koordinasi yang kuat dari pusat hingga desa juga dianggap krusial untuk meminimalisasi risiko bencana serupa di masa mendatang dan memastikan keselamatan warga.
Dampak Psikologis Mendalam bagi Korban Longsor
Kondisi psikologis korban longsor Cisarua menjadi perhatian utama setelah banyak warga kehilangan orang-orang terkasih. Atalia Praratya, anggota Komisi VIII DPR, bertemu langsung dengan para penyintas di pengungsian dan mendengar kisah pilu mereka. Beberapa korban menceritakan bahwa mereka telah kehilangan seluruh anggota keluarga dalam insiden bencana alam tersebut.
Salah satu kasus yang disoroti adalah seorang ibu yang kini harus bertahan sendirian, dengan 14 anaknya masih belum ditemukan pasca-longsor. Dari total 16 anggota keluarganya, baru dua yang berhasil ditemukan, menyisakan duka dan ketidakpastian yang luar biasa. Trauma mendalam ini memerlukan penanganan khusus dan berkelanjutan dari pihak berwenang.
Atalia berharap agar warga pengungsi dapat saling menguatkan di tengah cobaan berat ini. Dukungan moral dan psikologis dari sesama korban, serta bantuan profesional, sangat dibutuhkan. Kehilangan yang begitu besar dapat meninggalkan luka batin yang sulit disembuhkan tanpa intervensi yang tepat.
Selain itu, dukungan logistik seperti bantuan pangan, medis, dan perlengkapan darurat harus terus disalurkan. Hal ini penting agar warga terdampak dapat bertahan dan fokus pada pemulihan fisik dan mental mereka. Ketersediaan kebutuhan dasar akan membantu meringankan beban psikologis yang mereka alami.
Pentingnya Pendekatan Humanis dan Koordinasi Penanganan Bencana
Atalia Praratya menegaskan bahwa pendekatan pemerintah terhadap warga terdampak longsor harus bersifat humanis. Ini berarti tidak hanya fokus pada evakuasi fisik, tetapi juga memberikan penguatan psikologis yang komprehensif. Pemerintah diharapkan dapat memberikan arahan yang jelas agar warga tetap mematuhi prosedur evakuasi demi keselamatan bersama.
Dirinya juga memastikan bahwa pemerintah akan memberikan penanganan maksimal bagi korban longsor di Cisarua. Prioritas utama adalah keselamatan warga dan petugas yang bertugas di lapangan selama operasi pencarian dan penyelamatan. Masyarakat juga diminta untuk mengikuti instruksi dari pemerintah guna mempercepat proses penanganan bencana.
Koordinasi yang kuat dan efektif dari tingkat pusat hingga desa menjadi kunci untuk meminimalisasi risiko bencana serupa di masa mendatang. Atalia mendorong komunitas dan semua lapisan pemerintahan untuk memperkuat koordinasi. Berbagai solusi yang saling melengkapi dari berbagai pihak akan sangat membantu dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana.
Pemerintah akan selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi warganya, terutama dalam situasi darurat seperti ini. Ketaatan warga terhadap arahan pemerintah selama operasi penanganan bencana berlangsung sangat vital. Hal ini akan menjamin keselamatan mereka dan kelancaran upaya pemulihan pasca-bencana.
Sumber: AntaraNews