Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyoroti meningkatnya ancaman praktik child grooming terhadap anak dan remaja, seiring meluasnya ruang interaksi digital dan melemahnya fungsi perlindungan keluarga.
Praktik child grooming kerap berlangsung secara tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu, sehingga sulit dikenali sejak dini. Modus ini tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi juga dapat berlangsung di lingkungan yang selama ini dianggap aman, seperti rumah, sekolah, maupun komunitas sosial.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa child grooming merupakan bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja.
"Child grooming dapat dipahami sebagai sebuah proses manipulasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban," ujar Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka dalam Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja (Bersahaja) Angkatan 3 yang digelar secara daring, Rabu (28/1).
Ia menyampaikan bahwa kerentanan terhadap praktik tersebut semakin meningkat ketika komunikasi dan kelekatan emosional dalam keluarga tidak terbangun secara optimal. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, jumlah pemuda di Indonesia mencapai sekitar 65,82 juta jiwa atau 24 persen dari total penduduk. Kelompok usia ini berada pada fase krusial pembentukan karakter, identitas diri, dan kesehatan mental.
Menurut Isyana, kurangnya dialog terbuka, dukungan emosional, serta keterlibatan orang tua berpotensi melemahkan peran keluarga sebagai ruang aman utama bagi remaja. Kondisi tersebut membuka celah bagi pihak-pihak yang memanfaatkan kebutuhan anak akan perhatian, penerimaan, dan rasa aman.
"Isu ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan persoalan sosial yang menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga serta masa depan anak-anak dan remaja kita," ujarnya.
Di tengah tingginya penetrasi internet, remaja semakin intens berinteraksi di ruang daring yang tidak selalu berada dalam pengawasan langsung orang tua. Isyana menekankan bahwa child grooming tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan gawai, melainkan bekerja pada ranah emosi dan kepercayaan anak. Pelaku kerap membangun kedekatan secara bertahap hingga korban tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Advertisement
Dampak Jangka Panjang Child Grooming
Psikolog Ferlita Sari, M.Si., PCC, menambahkan bahwa dampak child grooming bersifat jangka panjang dan dapat meninggalkan trauma mendalam bagi korban.
"Dampak grooming ini bukan hanya pada saat kejadian berlangsung, tetapi juga setelahnya. Dampaknya masih ada karena sangat traumatik," ujar Ferlita.
Advertisement
Gelar Kelas Orangtua Bersahabat
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menyelenggarakan Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja (Bersahaja) Angkatan 3 Tahun 2026 dengan tema "Bagaimana Bila Child Grooming Ada di Sekitar Kita?". Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang aman dan berbasis keilmuan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta kapasitas orang tua dalam mengenali risiko dan memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dan remaja sejak dini.