Putus Cinta Ingin Cepat Move On, Ini 4 Cara Ampuh Pulihkan Hati dan Pikiran Lebih Tenang
Seorang ahli saraf menjelaskan mengapa seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan perubahan emosi setelah putus cinta.
Patah hati akibat putus cinta bagi sebagian orang tidak hanya menghancurkan perasaan, tetapi juga berdampak pada fungsi otak dan tubuh. Rasa kehilangan yang dialami setelah perpisahan dapat memicu reaksi yang mirip dengan rasa sakit fisik.
Oleh karena itu, orang yang baru saja mengalami putus cinta sering kali merasa lemas, kesulitan berkonsentrasi, dan mengalami fluktuasi emosi. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan zat kimia di otak yang mengatur emosi, seperti yang dijelaskan oleh neurosaintis Nicole Vignola.
Patah hati yang sering diungkapkan melalui lagu-lagu sedih sering dianggap berlebihan, padahal perasaan tersebut memang memiliki penjelasan ilmiah. Dalam sebuah artikel di Women's Health, Vignola menjelaskan bahwa secara neurologis, putus cinta dapat memicu rollercoaster emosi yang sangat kuat.
Kondisi ini membuat seseorang merasa terperangkap dalam kesedihan, mengalami putus asa, dan merindukan mantan pasangan. Selanjutnya, mereka mungkin merasa mati rasa dan secara tidak sadar mencari pesan lama untuk menemukan bukti, disertai dengan perasaan marah.
"Tindakan di luar kebiasaan ini menandakan neurokimia di otak sedang kacau, itu adalah inti dari patah hati," ujar Vignola.
Tingkat hormon dopamin meningkat ketika mengalami putus cinta
Vignola menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam hubungan yang harmonis, otak berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara hormon dopamin dan serotonin.
Hormon dopamin berperan dalam menumbuhkan rasa antusiasme, motivasi, dan harapan, sementara serotonin berfungsi untuk menjaga kestabilan emosi, mengurangi rasa cemas, serta memberikan rasa aman secara emosional.
Namun, kedua hormon ini memiliki hubungan yang saling bertolak belakang dalam beberapa sistem otak. Ketika kadar dopamin meningkat, biasanya kadar serotonin akan menurun, karena keduanya menggunakan sumber daya biokimia yang sama untuk diproduksi.
Meskipun dopamin sering kali dianggap sebagai hormon kebahagiaan, saat mengalami perpisahan, tubuh dapat melepaskannya secara mendadak.
Ini adalah reaksi yang tampak kontradiktif. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa otak menganggap kehilangan sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup individu. Oleh karena itu, saat menghadapi perpisahan, muncul berbagai dorongan kuat, antara lain:
- Mengintip media sosial mantan pasangan
- Membaca ulang pesan-pesan lama
- Menganalisis secara berlebihan interaksi terakhir.
Putus cinta
Putus cinta memang memberikan rasa tidak nyaman. Untuk mengembalikan suasana hati ke kondisi normal, Vignola memberikan beberapa saran:
1. Hentikan 'Memberi Makan' Dopamin dengan cara menghindari aktivitas yang dapat memicu pelepasan dopamin. Contohnya, jangan memeriksa media sosial mantan pasangan atau secara tidak sengaja menghubungi mereka. Hal ini terjadi karena otak sedang mencari "target" untuk memperkuat kecanduan. Untuk mengatasi masalah ini, lakukan detoks dopamin dengan memblokir, membisukan, atau menghapus profil mereka, serta alihkan perhatian ke aktivitas lain seperti berjalan-jalan, mengejar hobi, atau berolahraga.
2. Tingkatkan Serotonin Secara Alami. Ketika mengalami putus cinta, kadar dopamin bisa meningkat saat mencari kepuasan sesaat, sedangkan serotonin cenderung menurun. Penurunan serotonin ini sering kali mengganggu rasa percaya diri. Aktivitas yang menyenangkan, sekecil apapun, seperti menyelesaikan buku atau mencapai target olahraga, dapat membantu memulihkan sekaligus meningkatkan kadar serotonin. Selain itu, paparan sinar matahari, berolahraga, dan mengonsumsi makanan yang kaya akan triptofan, seperti kalkun, telur, dan kacang-kacangan, juga dapat membantu menstabilkan suasana hati.
3. Atur Sistem Saraf. Pikiran yang kacau dapat diredakan dengan mengalihkan perhatian pada aktivitas yang menyenangkan. Misalnya, menulis di jurnal dapat membantu mengaktifkan korteks prefrontal, sehingga dapat memutus siklus pemikiran obsesif. Selain itu, latihan pernapasan dalam meditasi dapat menurunkan hiperaktivitas amigdala, yang merupakan bagian dari otak yang berperan dalam pengaturan emosi, sehingga dapat mengurangi stres dan gejolak emosi.
4. Tipu Otak Agar Aman Kembali. Untuk meredakan gejala "sakau" emosional akibat putus cinta, meningkatkan hormon oksitosin, yang dikenal sebagai hormon cinta, bisa menjadi solusi. Hormon oksitosin ini dapat ditingkatkan melalui sentuhan fisik, seperti pelukan, pijatan, atau membelai hewan peliharaan. Memulai hubungan sosial yang baru juga dapat membantu membentuk ikatan yang segar dan mengatur ulang keterikatan yang ada.