Di Balik Tantrum Anak karena Media Sosial, Ini yang Terjadi di Otaknya
Kemarahan yang muncul akibat media sosial tidak hanya disebabkan oleh sifat manja.
Anak yang tiba-tiba menunjukkan kemarahan, menangis, atau meledak emosinya saat dilarang menggunakan media sosial sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau perilaku manja.
Namun, di balik reaksi tersebut, terdapat mekanisme biologis yang terjadi di dalam otak mereka. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC), menjelaskan bahwa fenomena ini terkait dengan yang disebut sebagai dopamine withdrawal.
"Ketika anak terbiasa mendapatkan stimulasi instan dari media sosial, seperti video, notifikasi, dan 'like', otak mereka menerima lonjakan dopamin. Saat akses itu dihentikan secara tiba-tiba, otak merasakan kehilangan," ujarnya, seperti dikutip dari Health Liputan6.com di akun Instagram @hcc.Indonesia pada Senin, 30 Maret 2026.
Dopamin adalah zat kimia di otak yang berperan dalam sistem reward atau rasa senang. Media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin secara cepat dan berulang, sehingga membuat penggunanya merasa nyaman dan ingin terus kembali.
Pada anak, sistem ini masih dalam tahap perkembangan, sehingga mereka lebih rentan terhadap efek ketergantungan dari stimulasi digital. Ketika akses ke media sosial dihentikan, otak anak mengalami penurunan dopamin yang mendadak, yang pada gilirannya memicu reaksi emosional seperti:
- Marah
- Frustrasi
- Gelisah
- Tantrum
"Ini bukan semata-mata soal perilaku, tetapi respons biologis dari otak terhadap perubahan stimulus," tambah Ray.
Mengapa Tantrum Terjadi?
Ketika anak mengalami tantrum, bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan kontrol diri, yaitu prefrontal cortex, belum berfungsi dengan optimal.
Di sisi lain, bagian otak yang mengatur emosi, yaitu amigdala, justru lebih aktif. Hal ini membuat anak kesulitan untuk menerima penjelasan logis saat sedang marah. Itulah sebabnya, perdebatan atau nasihat sering kali tidak efektif saat tantrum terjadi.
Strategi Mengatasi Tantrum Akibat Media Sosial
Dalam menghadapi situasi ini, orang tua perlu memahami bahwa pendekatan yang tepat sangat penting. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Hindari Penghentian MendadakMengambil perangkat secara tiba-tiba dapat memperburuk reaksi emosional anak. Sebaiknya, berikan waktu transisi.
"Transisi membantu otak anak beradaptasi dengan perubahan, sehingga tidak terjadi 'shock' pada sistem reward," jelas Ray
.2. Ganti dengan Aktivitas Lain
Setelah menghentikan penggunaan gadget, tawarkan aktivitas alternatif yang menyenangkan, seperti bermain fisik, menggambar, atau bermain dengan teman.
Hal ini membantu menjaga keseimbangan dopamin di otak anak.
3. Tenangkan Dulu Emosi, Jangan Langsung Menasihati
Saat anak sedang tantrum, fokus utama adalah menenangkan emosi terlebih dahulu. Diskusi logis sebaiknya dilakukan setelah anak mulai tenang.
4. Buat Aturan Sejak Awal
Menetapkan aturan penggunaan gadget yang jelas, seperti batas waktu layar atau jam tanpa gadget, dapat membantu mencegah konflik.
5. Orang Tua Jadi Contoh
Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Jika orang tua mampu mengatur penggunaan gadget, anak akan lebih mudah untuk mengikuti.