Larangan Media Sosial Remaja Total Berisiko Picu Perlawanan, Psikolog Sarankan Pendekatan Dialogis
Psikolog menilai larangan media sosial remaja secara total justru berisiko memicu perlawanan dan ketegangan. Pendekatan dialogis dan kesepakatan bersama dinilai lebih efektif dalam mengelola Larangan Media Sosial Remaja.
Psikolog Klinis Dewasa, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menilai bahwa pelarangan total media sosial pada remaja tidak selalu efektif. Ia menekankan bahwa pendekatan tersebut justru berisiko memicu perlawanan dari para remaja. Penilaian ini disampaikan Teresa saat dihubungi ANTARA pada Jumat.
Menurut Teresa, yang merupakan lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi. Ketika aturan yang diterapkan terasa terlalu kaku, kondisi ini dapat memicu fenomena psychological reactance. Hal ini adalah dorongan kuat untuk melawan pembatasan yang dirasakan.
Larangan total media sosial pada remaja juga dapat membuat orang tua kehilangan kesempatan untuk mengenali dunia anak. Padahal, media sosial kini menjadi bagian integral dari realitas sosial mereka. Oleh karena itu, pendekatan yang efektif adalah pendampingan serta pengaturan yang disepakati bersama.
Memahami Psychological Reactance pada Remaja
Dalam psikologi perkembangan, fase remaja ditandai dengan meningkatnya kebutuhan akan kemandirian dalam mengambil keputusan. Remaja mulai ingin diakui sebagai individu yang mampu menentukan pilihan sendiri. Pembatasan yang terlalu ketat dapat menghambat perkembangan otonomi ini dan memicu ketidakpuasan.
Psychological reactance merupakan respons emosional yang muncul ketika seseorang merasa kebebasannya dibatasi secara berlebihan. Dalam konteks pengasuhan, kondisi ini dapat terjadi ketika orang tua menerapkan larangan tanpa membuka ruang dialog. Akibatnya, hubungan antara orang tua dan remaja bisa menjadi lebih tegang dan kurang harmonis.
Pelarangan total terhadap penggunaan media sosial dapat menimbulkan beberapa kemungkinan negatif. Remaja mungkin merasa tidak dipercaya oleh orang tuanya, yang bisa merusak fondasi kepercayaan dalam keluarga. Lebih jauh, penggunaan media sosial justru bisa dilakukan secara diam-diam, mempersulit pengawasan yang efektif.
Selain itu, orang tua berisiko kehilangan kesempatan untuk memahami dunia digital anak. Media sosial bukan hanya platform hiburan, melainkan juga wadah interaksi sosial penting bagi remaja. Memahami dunia ini krusial untuk mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka.
Pendekatan Efektif: Dialog dan Kesepakatan Bersama
Teresa Indira Andani menyarankan pendekatan pendampingan yang lebih efektif, yakni melalui pengaturan yang disepakati bersama. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai durasi penggunaan media sosial. Diskusi ini juga bisa mencakup pembuatan zona bebas gawai di rumah, serta menyepakati waktu tertentu tanpa layar.
Diskusi tidak hanya berfokus pada pembatasan, tetapi juga pada konten yang sehat dan risiko di dunia digital. Hal ini penting dilakukan agar anak memahami alasan di balik setiap aturan yang dibuat. Pemahaman ini sangat krusial untuk membangun kesadaran diri dan literasi digital yang baik.
Menurut psikolog yang akrab disapa Tesya itu, tujuan utama bukan hanya membatasi dari luar, tetapi membantu anak belajar mengelola diri. Kemampuan kontrol diri itu perlu dilatih secara bertahap, bukan dipaksakan begitu saja. Ini adalah proses pembelajaran jangka panjang yang membutuhkan kesabaran.
Ketika remaja dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, mereka cenderung lebih kooperatif dan bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang dibuat. Partisipasi aktif ini menciptakan rasa kepemilikan terhadap aturan. Ini juga mendorong mereka untuk mematuhi aturan dengan kesadaran penuh.
Membangun Kepercayaan di Era Digital
Pengasuhan di era digital menuntut komunikasi yang terbuka serta hubungan yang dilandasi kepercayaan. Tesya menekankan bahwa ini adalah fondasi penting agar aturan tidak berubah menjadi sumber konflik berkepanjangan dalam keluarga. Kepercayaan memungkinkan dialog yang jujur dan produktif.
Kepercayaan memungkinkan remaja untuk merasa nyaman berbagi pengalaman mereka di media sosial tanpa takut dihakimi. Orang tua dapat memberikan bimbingan yang tepat dan konstruktif. Ini dilakukan tanpa harus menggunakan metode pelarangan total yang seringkali kontraproduktif.
Dengan komunikasi yang baik, orang tua dapat mengajarkan literasi digital yang komprehensif kepada anak. Ini termasuk cara mengenali informasi palsu atau menghadapi perundungan siber. Pembelajaran ini jauh lebih berharga daripada sekadar melarang penggunaan platform digital.
Oleh karena itu, fokus pada pengembangan kontrol diri dan tanggung jawab internal remaja sangatlah penting. Ini akan membekali mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk menavigasi dunia digital secara aman dan bijaksana. Hal ini juga membantu mereka menjadi individu yang mandiri di masa depan.
Sumber: AntaraNews