Fakta 34% Remaja Kesepian: Kiat Psikolog Ciptakan Interaksi Hangat Remaja agar Tak Kecanduan Gawai

Psikolog Klinis Kasandra Putranto bagikan kiat jitu ciptakan interaksi hangat remaja untuk hindari kecanduan gawai. Temukan cara efektif agar anak tak kesepian dan lebih dekat dengan keluarga!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta 34% Remaja Kesepian: Kiat Psikolog Ciptakan Interaksi Hangat Remaja agar Tak Kecanduan Gawai
Psikolog Klinis Kasandra Putranto bagikan kiat jitu ciptakan interaksi hangat remaja untuk hindari kecanduan gawai. Temukan cara efektif agar anak tak kesepian dan lebih dekat dengan keluarga! (Merdeka.com)

Psikolog Klinis Kasandra Putranto, yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), baru-baru ini membagikan kiat penting bagi orang tua dan pengasuh. Kiat ini bertujuan untuk menciptakan interaksi hangat dengan remaja, guna mencegah mereka dari risiko kecanduan gawai yang semakin marak.

Langkah-langkah yang diusulkan mencakup menjadi teladan, memperbanyak aktivitas fisik, hingga membangun komunikasi yang efektif. Tujuannya adalah agar remaja dapat menikmati interaksi langsung dan tidak lagi bergantung pada dominasi interaksi sosial melalui perangkat digital mereka.

Inisiatif ini muncul di tengah kekhawatiran data dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji. Ia menyatakan bahwa 34 persen dari 68 juta remaja Indonesia berusia 10-24 tahun mengalami kesepian akibat terlalu sering mengakses gawai.

Peran Orang Tua sebagai Teladan Utama

Salah satu fondasi utama dalam membangun interaksi hangat dengan remaja adalah peran orang tua sebagai teladan. Psikolog Kasandra Putranto menekankan pentingnya orang tua mengurangi penggunaan gawai mereka sendiri.

"Orang tua perlu pertama tentu harus menjadi contoh yang baik untuk mengurangi penggunaan gadget agar remaja mampu mendapatkan pengalaman langsung bahwa keluarga bisa menikmati waktu bersama tanpa layar. Untuk itu orang tua perlu menciptakan lingkungan yang mendukung," kata Kasandra kepada ANTARA.

Lingkungan yang mendukung berarti tidak memberikan tekanan kepada anak untuk selalu bercerita. Sebaliknya, orang tua harus mampu memberikan ruang untuk mendengarkan tanpa beban tuntutan, terutama jika remaja belum siap berbagi cerita. Pendekatan empati tanpa paksaan ini sejalan dengan panduan yang dikeluarkan oleh UNICEF.

Membangun Komunikasi Efektif dan Empati

Ketika remaja mulai terbuka untuk bercerita, orang tua atau pengasuh wajib memberikan perhatian penuh. Mendengarkan dengan seksama minat maupun masalah yang dihadapi remaja menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap dunia mereka.

Kasandra menyarankan agar orang tua berbagi pengalaman masa muda mereka sendiri. "Berikan contoh dengan kisah diri dan pengalaman masa muda untuk menciptakan kesamaan dan membuat percakapan lebih santai," ujarnya.

Saat komunikasi dan interaksi langsung terjadi, penting bagi orang tua untuk menunjukkan bahasa tubuh positif, seperti kontak mata dan anggukan, serta menghindari intervensi gawai. Langkah ini krusial agar remaja merasa nyaman, dihargai, dan setiap suara yang mereka sampaikan direspons secara serius. Selain itu, ajukan pertanyaan terbuka yang memancing remaja untuk mengekspresikan perasaannya lebih baik, bukan pertanyaan tertutup yang hanya membutuhkan jawaban 'ya' atau 'tidak'.

Dalam merespons, orang tua harus memberikan apresiasi, afirmasi, dan validasi terhadap emosi remaja. Hal ini menciptakan pengalaman komunikasi yang nyaman, tanpa beban, dan membuat remaja tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Aktivitas Bersama dan Aturan Penggunaan Gawai

Interaksi hangat akan lebih efektif jika diiringi dengan kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Momen makan bersama di meja makan, mengobrol santai di ruang keluarga tanpa gawai, atau piknik di luar rumah adalah contoh aktivitas yang bisa mempererat hubungan.

Bagi remaja yang sudah terbiasa dengan akses gawai yang melekat, Kasandra menyarankan orang tua untuk membuat aturan khusus. Misalnya, tidak mengizinkan penggunaan gawai saat makan atau menjelang tidur, agar remaja bisa fokus pada kegiatan yang sedang dilakukan.

Penerapan aturan ini penting untuk mencegah dampak negatif penggunaan gawai yang berkepanjangan pada tumbuh kembang remaja. Namun, aturan tersebut harus dibarengi dengan upaya orang tua membangun interaksi hangat yang konsisten.

"Aturan khusus memang diperlukan, tetapi sebaiknya disertai dengan contoh nyata dari orang tua, komunikasi yang hangat, serta penguatan positif ketika anak mampu melakukan kegiatan tanpa gadget," tutup Kasandra, menekankan bahwa keseimbangan antara aturan dan dukungan emosional adalah kunci.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi