ISKI Jatim Soroti Bahaya Dampak Digital pada Remaja, Desak Aksi Kolektif Atasi Gangguan Mental
Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur menyoroti serius dampak digital pada remaja yang memicu peningkatan gangguan mental dan kasus bunuh diri pelajar, mendesak semua pihak bertindak.
Surabaya, 22 Februari – Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur mengajak masyarakat untuk mewaspadai dampak tekanan digital terhadap kesehatan mental remaja. Ajakan ini muncul menyusul rentetan kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya ketergantungan gawai di berbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini.
Ketua ISKI Jatim, Dr. Suko Widodo, mengungkapkan bahwa anak dan remaja saat ini terhubung secara digital selama 24 jam, namun seringkali merasa tidak didengar secara emosional. Ia menekankan bahwa tekanan digital ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak, termasuk keluarga, sekolah, media, dan pemerintah.
Paparan media sosial, permainan daring, dan penggunaan gawai yang berlebihan dinilai memberikan dampak psikologis yang kompleks pada anak dan remaja. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak untuk mencegah dampak yang lebih luas dan lebih serius.
Lonjakan Kasus Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Gawai
Fenomena peningkatan gangguan mental pada remaja akibat dampak digital juga terlihat jelas di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya. Direktur RSJ Menur, Vitria Dewi, menyatakan bahwa dalam dua tahun terakhir, kasus gangguan jiwa pada anak dan remaja mengalami peningkatan pesat, terutama disebabkan oleh ketergantungan gawai dan gim daring.
Berdasarkan data dari RSJ Menur, sejak Januari hingga Juli 2024, sekitar 3.000 anak dan remaja telah menjalani terapi karena gangguan tersebut. Mayoritas dari mereka dirawat akibat ketergantungan gawai yang secara signifikan memengaruhi perilaku dan perkembangan mental mereka.
Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan penanganan klinis semata, melainkan juga harus dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi dan komunikasi. Kecanduan digital sangat berkaitan erat dengan perubahan perilaku, hubungan sosial, serta pemrosesan emosi pada anak dan remaja.
Urgensi Keterlibatan Berbagai Pihak dalam Mitigasi Tekanan Digital
Akademisi komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Suko Widodo, menegaskan bahwa meskipun anak dan remaja hidup di era digital yang selalu terhubung, mereka seringkali merasa terisolasi secara emosional. Situasi ini menciptakan celah yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan mental.
Tekanan digital yang semakin masif ini menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Keluarga, sebagai unit terkecil, memiliki peran fundamental dalam membimbing dan mengawasi penggunaan teknologi. Sekolah, media, dan pemerintah juga harus bersinergi untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan aman bagi generasi muda.
Paparan yang terus-menerus terhadap media sosial, intensitas permainan daring, dan penggunaan gawai yang berlebihan menimbulkan dampak psikologis yang kompleks. Dampak ini bisa berupa kecemasan, depresi, hingga gangguan perilaku yang memerlukan penanganan multidisiplin.
Solusi Komprehensif ISKI Jatim untuk Kesehatan Mental Remaja
Menanggapi kondisi yang mengkhawatirkan ini, ISKI Jawa Timur mengusulkan serangkaian langkah konkret untuk mengatasi dampak digital pada remaja. Usulan ini mencakup peningkatan literasi digital dan literasi emosional yang harus diintegrasikan di lingkungan sekolah dan keluarga.
Selain itu, ISKI Jatim menekankan pentingnya deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak sebagai indikator awal adanya masalah. Perluasan akses layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau juga menjadi prioritas, agar remaja yang membutuhkan bantuan dapat segera tertangani.
ISKI Jatim juga menyerukan kampanye nasional yang masif mengenai bahaya ketergantungan gim daring dan tekanan media sosial. “Kasus bunuh diri pelajar dan meningkatnya gangguan mental warga akibat gawai bukan hanya sekadar angka. Ini adalah realitas yang membutuhkan aksi bersama, bukan hanya respons setelah tragedi terjadi,” ujar Dr. Suko Widodo, menegaskan urgensi tindakan kolektif.
Sumber: AntaraNews