Bisakah Patah Hati Menyebabkan Kematian pada Seseorang?
Kondisi patah hati yang dialami seseorang bisa menyebabkan masalah medis tertentu yang dikenal sebagai broken heart syndrome.
Patah hati sering kali dianggap sebagai pengalaman emosional yang berat, namun siapa sangka bahwa dampaknya juga dapat dirasakan secara fisik? Bahkan, dalam beberapa kasus, patah hati dapat memengaruhi kesehatan jantung secara serius hingga mengancam nyawa. Fenomena ini dikenal sebagai broken heart syndrome atau Takotsubo cardiomyopathy. Pertanyaannya, apakah benar seseorang bisa meninggal akibat patah hati?
Para ahli kardiologi menjelaskan bahwa kondisi ini nyata dan dapat menyerupai serangan jantung. Takotsubo, nama yang diambil dari kata dalam bahasa Jepang yang berarti perangkap gurita, merujuk pada bentuk ventrikel kiri jantung yang menyerupai balon saat diamati melalui pencitraan medis.
Dilansir dari The Healthy, berikut penjelasan lengkap mengenai sindrom ini, termasuk risiko, gejala, dan apakah jantung dapat benar-benar pulih setelah mengalaminya.
Apa Itu Broken Heart Syndrome?
Menurut Dr. Wahaj Aman, seorang kardiolog bersertifikasi dari UTHealth Houston dan Memorial Hermann Health System, sindrom ini biasanya dipicu oleh stres emosional atau fisik yang sangat berat. "Sindrom patah hati, yang juga dikenal sebagai stress-induced cardiomyopathy, biasanya meniru serangan jantung. Namun, ketika pasien diperiksa di laboratorium kateterisasi, arteri mereka umumnya tidak menunjukkan penyumbatan atau penyakit arteri koroner yang signifikan," jelasnya.
Penelitian menunjukkan bahwa lonjakan hormon stres seperti adrenalin diduga menjadi pemicu utama. Hormon ini dapat membebani jantung secara tiba-tiba, menyebabkan gangguan sementara pada fungsi jantung.
Seberapa Berbahayakah Sindrom Ini?
“Risiko kematian akibat sindrom patah hati adalah sekitar 20%, namun faktor-faktor seperti usia, tingkat keparahan gagal jantung, dan keberadaan masalah kesehatan lainnya dapat memperburuk prognosis,” kata Dr. Aman.
Namun, ada kabar baik. Sebagian besar pasien mengalami pemulihan total fungsi jantung dalam waktu satu hingga empat minggu setelah diagnosis dan penanganan yang tepat.
Gejala Sindrom Patah Hati
Gejala sindrom patah hati sering kali sulit dibedakan dari serangan jantung. Gejala yang paling umum meliputi:
Nyeri dada
Sesak napas
Pingsan
Gejala lain yang mungkin muncul meliputi:
Detak jantung tidak teratur (aritmia)
Kelelahan
Berkeringat
Pusing atau merasa lemas
Mual atau muntah
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala ini, terutama setelah periode stres emosional atau fisik yang berat, segera cari bantuan medis.
Apa Penyebab Sindrom Ini?
Dr. Aman menyebutkan beberapa pemicu umum sindrom patah hati, seperti:
Mendapatkan berita buruk secara mendadak
Duka mendalam akibat kehilangan orang tercinta
Perceraian atau pengkhianatan
Konflik keluarga
Kekerasan dalam rumah tangga
Kehilangan finansial
Diagnosis medis yang mengejutkan
Cedera fisik atau penyakit berat, termasuk COVID-19
Siapa yang Berisiko?
“Wanita jauh lebih sering terdampak dibandingkan pria,” ungkap Dr. Aman. Sebuah studi pada tahun 2021 yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association mengungkapkan bahwa 88,3% kasus sindrom patah hati terjadi pada wanita, terutama mereka yang berusia 50 hingga 74 tahun.
Bagaimana Sindrom Ini Didiagnosis dan Diobati?
Menurut Dr. Aman, diagnosis dilakukan melalui angiografi koroner, yaitu pemeriksaan menggunakan pewarna kontras dan sinar-X untuk melihat pembuluh darah yang menyuplai jantung. “Pemeriksaan ini biasanya menunjukkan bahwa tidak ada penyumbatan yang signifikan,” jelasnya.
Selain itu, dokter juga melakukan ekokardiogram, atau USG jantung, yang sering kali menunjukkan pergerakan abnormal pada bagian bawah atau ujung jantung. “Ini adalah ciri khas dari sindrom patah hati,” tambah Dr. Aman.
Bagaimana Cara Mengobatinya?
Penanganan sindrom patah hati umumnya bersifat suportif, fokus pada pengelolaan gejala dan membantu jantung pulih secara alami. Perawatan mungkin mencakup pemantauan ketat, pemberian obat-obatan untuk mengatasi gejala, dan intervensi bila diperlukan, terutama jika pasien mengalami komplikasi seperti gagal jantung.
Sindrom Patah Hati vs. Serangan Jantung: Apa Bedanya?
“Cara satu-satunya untuk membedakan keduanya adalah melalui angiografi koroner,” jelas Dr. Aman. Tes ini memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi penyebab utama gejala yang dialami pasien, apakah itu sindrom patah hati atau serangan jantung.
Jika Anda mengalami nyeri dada, sesak napas, pusing, detak jantung tidak teratur, atau gejala serius lainnya setelah stres emosional atau fisik yang berat, jangan abaikan. Segera cari bantuan medis untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, jika Anda merasa kewalahan oleh perasaan duka atau stres, jangan ragu untuk berbicara dengan penyedia layanan kesehatan. Mereka dapat membantu Anda menemukan sumber dukungan emosional, termasuk menghubungkan Anda dengan profesional kesehatan mental.