Pagpag: Ketika Sampah Diolah Lagi Menjadi Makanan, Ancaman Kesehatan yang Membayangi
Pagpag, makanan dari Filipina yang terbuat dari sisa makanan, menyimpan risiko kesehatan serius akibat kontaminasi bakteri, parasit, dan kotoran hewan.
Di Filipina, sebuah praktik mengkhawatirkan telah muncul sebagai cerminan dari kemiskinan ekstrem: konsumsi pagpag. Pagpag adalah makanan yang terbuat dari sisa makanan, terutama sisa daging dari restoran cepat saji, yang dikumpulkan dari tempat sampah. Praktik ini, yang dilakukan oleh masyarakat miskin yang kekurangan akses terhadap makanan bergizi, menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan karena risiko kontaminasi yang tinggi.
Makanan yang dikumpulkan dari tempat sampah terpapar berbagai bakteri, parasit, dan kotoran hewan seperti tikus dan kecoa. Proses pengolahan pagpag yang sederhana, seringkali hanya berupa pencucian dan penggorengan, tidak cukup untuk menghilangkan kontaminan berbahaya ini. Hal ini menyebabkan risiko tinggi berbagai penyakit yang ditularkan melalui makanan, mengancam kesehatan dan kesejahteraan mereka yang mengkonsumsinya.
Meskipun didorong oleh kebutuhan ekonomi, konsumsi pagpag bukanlah solusi yang tepat. Akses terhadap makanan bergizi merupakan hak asasi manusia, dan praktik ini menunjukkan kesenjangan yang besar dalam sistem distribusi makanan dan upaya penanggulangan kemiskinan di Filipina. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah ini, bukan hanya sekadar mengandalkan kesadaran masyarakat akan bahaya pagpag.
Pagpag: Makanan dari Sampah
Pagpag adalah istilah Tagalog yang berarti “mengguncangkan kotoran,” merujuk pada proses mengambil sisa makanan dari tempat sampah, mencucinya, dan memasaknya ulang untuk dijual atau dikonsumsi. Makanan ini biasanya berupa potongan ayam goreng, sisa pizza, atau spageti yang masih dianggap bisa dimakan. Prosesnya sederhana namun penuh risiko: sisa makanan dibersihkan dari kotoran, kadang direbus atau digoreng untuk membunuh bakteri, lalu dijual dengan harga murah.
Sebuah penelitian dari University of Santo Tomas pada 2018 mengungkapkan bahwa pagpag adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di kawasan kumuh Manila. Dalam studi tersebut, sebuah keluarga dengan enam anggota, yang ayahnya hanya berpenghasilan Rp 900.000 per bulan sebagai buruh bangunan, mengonsumsi pagpag setidaknya sekali seminggu. “Pagpag adalah makanan pokok kami,” kata seorang ibu dalam wawancara, “karena kami tidak punya pilihan lain.”
Akar Masalah: Kemiskinan dan Kelaparan
Mengapa pagpag ada? Jawabannya terletak pada kemiskinan ekstrem yang melanda Filipina. Menurut World Bank pada 2012, 25,2% penduduk Filipina hidup di bawah garis kemiskinan, dengan 48 juta orang berpenghasilan kurang dari $2 per hari. Pada 2005, 13,4% penduduk mengalami kelaparan, angka tertinggi dalam dua dekade, menurut laporan Food and Nutrition Research Institute.
Di kawasan kumuh Manila, di mana 32% penduduk hidup dalam kemiskinan, makanan menyumbang lebih dari separuh pengeluaran rumah tangga. Dengan harga makanan yang terus naik, pagpag menjadi solusi murah. Seperti yang dijelaskan dalam artikel India Today, satu kantong pagpag dijual seharga Php 20–30 (sekitar Rp 6.000–9.000), jauh lebih terjangkau dibandingkan makanan segar.
“Meskipun jutaan orang Filipina kelaparan, jumlah limbah makanan di Filipina tetap sangat tinggi,” tulis Health and Lifestyle. Menurut Philippine Institute for Development Studies, wilayah ibu kota Manila menghasilkan sekitar 2.000 ton limbah makanan setiap hari. Pagpag, dalam hal ini, adalah cara masyarakat miskin memanfaatkan limbah tersebut untuk bertahan hidup.
Bisnis Pagpag: Dari Tempat Sampah ke Pasar
Pagpag bukan hanya praktik individu; ini telah menjadi bisnis kecil dengan rantai pasokan terorganisasi. Ada kolektor yang mengumpulkan sisa makanan dari tempat sampah, mediator yang membersihkan dan memasak ulang, serta penjual yang mendistribusikannya. Studi UST menggambarkan dua jenis pasar pagpag:
Pasar Skala Besar: Mediator mengumpulkan sisa makanan, mencucinya, dan memasaknya dalam minyak untuk menjamin kebersihan. Makanan diklasifikasikan menjadi empat kelas berdasarkan kualitas, dengan harga mulai dari Php 5 (sekitar Rp 1.500) untuk kulit ayam hingga Php 30 (sekitar Rp 9.000) untuk potongan daging ayam berkualitas tinggi. Mediator bisa menghasilkan Rp 240.000–300.000 per hari, sementara penjual mendapat komisi Rp 90.000–150.000.
Pasar Skala Kecil: Kolektor mengumpulkan sisa makanan tanpa pembersihan tambahan dan menjualnya langsung dengan harga lebih rendah, seperti Php 10 untuk tulang atau Php 30 untuk daging.
Beberapa restoran bahkan membeli daging dari kolektor pagpag, menurut India Today, meskipun praktik ini menimbulkan pertanyaan etis tentang transparansi kepada pelanggan.
Bahaya Kesehatan: Ancaman di Balik Pagpag
Meskipun pagpag menjadi penyelamat bagi yang kelaparan, konsumsinya membawa risiko kesehatan yang serius. Sisa makanan dari tempat sampah rentan terkontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli, virus seperti Hepatitis A, atau bahan kimia seperti disinfektan yang digunakan untuk mencegah pembusukan. Penyakit seperti tifus, diare, dan kolera mengintai, seperti yang diperingatkan oleh National Anti-Poverty Commission.
Studi UST menemukan bahwa anak-anak dalam keluarga yang mengonsumsi pagpag menunjukkan tanda-tanda malnutrisi protein-energi, seperti tubuh sangat kurus, rambut kehilangan warna, dan penyusutan otot. Beberapa anak bahkan menunjukkan gejala marasmus dan edema, bentuk parah malnutrisi. “Semua anak dalam keluarga yang diteliti menunjukkan edema dan diklasifikasikan sebagai sangat kurus,” tulis peneliti UST.
Meskipun beberapa penjual pagpag, seperti Rosita, mengklaim bahwa tidak ada yang meninggal karena memakan pagpag, risiko jangka panjang tetap ada. Artikel di SociSDG memperingatkan bahwa beberapa sisa makanan disemprot disinfektan sebelum dibuang, meningkatkan risiko keracunan.
Risiko Kesehatan dari Konsumsi Pagpag
Kontaminasi Mikrobiologis
Sisa makanan di tempat sampah sangat rentan menjadi tempat berkembang biak bakteri patogen seperti Salmonella, Escherichia coli, dan Shigella . WHO/UNICEF menyatakan bahwa makanan “terselip” dari limbah tanpa prosedur higienis memicu sekitar 600 juta kasus keracunan makanan global setiap tahun, dengan 420.000 kematian—terutama pada anak di bawah 5 tahun
Parasit dan Infeksi Lain
Selain bakteri, pagpag dapat mengandung telur parasit usus seperti Ascaris lumbricoides dan cacing pita . Konsumsi berulang dapat menyebabkan malabsorpsi nutrien, anemia, dan gangguan pertumbuhan pada anak-anak.
Paparan Bahan Kimia dan Logam Berat
Studi heavy metal di sayuran dan daging di kawasan kumuh serupa menemukan kadmium (Cd), timbal (Pb), dan merkuri (Hg) melebihi ambang batas aman WHO . Dalam lingkungan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) yang penuh polutan, sisa makanan menyerap residu logam dan senyawa organik berbahaya. Paparan kronis dapat menimbulkan gangguan saraf perifer, kerusakan ginjal, dan menurunkan IQ anak-anak .
Defisiensi Gizi
Pagpag umumnya hanya menawarkan kalori kosong tanpa mikronutrien penting seperti vitamin A, zinc, dan besi. Pola makan ini memicu malnutrisi kronis, memperburuk stunting, dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Upaya Pemerintah dan Tantangan
Pemerintah Filipina telah berupaya menangani masalah ini melalui undang-undang seperti Republic Act No. 10611 (Food Safety Act of 2013), yang bertujuan meningkatkan standar keamanan pangan. Namun, penerapannya di kawasan kumuh sangat lemah. Kode Sanitasi (Presidential Decree No. 856) menetapkan hukuman hingga enam bulan penjara atau denda Rp 300.000 untuk pelanggaran, tetapi penjualan pagpag terus berlangsung karena kelonggaran penegakan hukum.
Program pemberian makan dan transfer tunai bersyarat, telah mengurangi kelaparan, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan pagpag. Pada 2014, survei Social Weather Stations menunjukkan penurunan kelaparan, tetapi serikat pekerja mengaitkannya dengan meluasnya pagpag, bukan perbaikan ekonomi.
Solusi jangka panjang, menurut studi UST, meliputi kampanye pendidikan gizi, penerapan ketat kebijakan sanitasi, dan program mata pencaharian alternatif seperti kerajinan atau pertanian. Pengelolaan limbah nol, seperti yang disarankan oleh Wikipedia, juga bisa mengurangi ketersediaan sisa makanan untuk pagpag.
Pagpag adalah paradoks: simbol ketahanan masyarakat miskin sekaligus cerminan ketidakadilan sosial. Bagi jutaan masyarakat Filipina, pagpag adalah anugerah di tengah kelaparan. Namun, seperti yang ditulis di SociSDG, “Pagpag ada bukan karena orang-orang putus asa, tetapi karena kemiskinan memaksa mereka melakukannya.”