Inovasi Pangan Fungsional Pesisir UPNVJT: Optimalkan Umbi Lokal dan Keong untuk Kesehatan Nasional

Guru Besar UPNVJT Prof. Dedin Finatsiyatull Rosida mengembangkan inovasi pangan fungsional pesisir dari umbi lokal dan keong, menjanjikan solusi kesehatan dan kemandirian pangan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Inovasi Pangan Fungsional Pesisir UPNVJT: Optimalkan Umbi Lokal dan Keong untuk Kesehatan Nasional
Guru Besar UPNVJT Prof. Dedin Finatsiyatull Rosida mengembangkan inovasi pangan fungsional pesisir dari umbi lokal dan keong, menjanjikan solusi kesehatan dan kemandirian pangan. (AntaraNews)

Prof. Dr. Dedin Finatsiyatull Rosida, seorang Guru Besar Kimia Pangan Fungsional dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), memperkenalkan terobosan penting. Ia mengembangkan inovasi pangan fungsional pesisir berbasis potensi pesisir dan dataran rendah yang kaya akan manfaat. Pengembangan ini bertujuan untuk mendukung kesehatan masyarakat serta memperkuat kemandirian pangan nasional.

Dalam orasinya yang berjudul “Potensi Pangan Dataran Rendah dan Pesisir sebagai Pangan Fungsional dan Flavor Enhancer", Prof. Dedin menyoroti kekayaan alam Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana wilayah pesisir dan dataran rendah memiliki peran strategis sebagai tulang punggung produksi pangan. Komoditas seperti padi, jagung, palawija, hingga hasil perikanan menjadi fokus utama dalam pengembangan pangan fungsional pesisir ini.

Inovasi ini tidak hanya berfokus pada diversifikasi pangan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan. Prof. Dedin menekankan pentingnya pemanfaatan umbi lokal dan sumber protein hewani alternatif. Hal ini diharapkan mampu memberikan nilai fungsional tinggi bagi tubuh dan mengatasi berbagai masalah kesehatan melalui pangan fungsional pesisir.

Mengoptimalkan Potensi Umbi Lokal untuk Kesehatan

Prof. Dedin Finatsiyatull Rosida secara khusus menyoroti potensi umbi lokal, seperti kimpul (Xanthosoma sagittifolium), sebagai alternatif bahan pangan yang menjanjikan. Umbi ini memiliki kemampuan untuk meningkatkan kandungan pati resisten dan serat pangan yang sangat dibutuhkan tubuh. Pemanfaatan kimpul dapat menjadi solusi efektif untuk diversifikasi pangan fungsional pesisir nasional.

Kandungan pati resisten dan serat pangan dalam kimpul sangat bermanfaat bagi penderita diabetes. Selain itu, umbi ini juga dapat membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Inovasi pangan fungsional pesisir berbasis kimpul ini membuka peluang baru untuk pengembangan produk makanan sehat.

Pengembangan umbi lokal bukan hanya sekadar upaya kemandirian pangan. Lebih dari itu, inisiatif ini juga berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Dengan demikian, riset pangan fungsional pesisir ini berkontribusi ganda bagi kesejahteraan bangsa.

Keong, Sumber Protein dan Flavor Enhancer Alami

Selain umbi lokal, Prof. Dedin juga mengangkat potensi keong sebagai sumber protein hewani alternatif yang sangat menjanjikan dalam pengembangan pangan fungsional pesisir. Keong memiliki kandungan protein tinggi dan rendah lemak jenuh, menjadikannya pilihan sehat. Selain itu, keong juga kaya akan mineral esensial seperti kalsium dan zat besi yang penting bagi tubuh.

Lebih menarik lagi, peptida yang berasal dari protein keong berpotensi besar menjadi MSG alami. Ini tidak hanya berfungsi sebagai peningkat cita rasa makanan. Peptida keong juga dapat memberikan nilai fungsional tambahan bagi kesehatan tubuh sebagai bagian dari pangan fungsional pesisir.

Turunan dari keong, seperti mucin dan cangkang, juga memiliki nilai tambah yang tinggi. Mucin dan cangkang keong dapat dimanfaatkan dalam industri kesehatan dan pangan. Produksi chitosan dari cangkang keong, misalnya, dikenal memiliki sifat antioksidan dan antikolesterol yang sangat berguna dalam konteks pangan fungsional pesisir.

Hilirisasi Riset dan Penguatan Sumber Daya Manusia UPNVJT

Prof. Dedin menekankan pentingnya hilirisasi riset untuk meningkatkan nilai tambah produk pangan fungsional pesisir berbasis potensi lokal. Penguatan sumber daya manusia juga menjadi kunci utama. Hal ini diperlukan guna mendorong daya saing global produk-produk pangan inovatif Indonesia.

Rektor UPNVJT, Prof. Akhmad Fauzi, menyatakan bahwa pengukuhan lima guru besar, termasuk Prof. Dedin, merupakan komitmen universitas. Komitmen ini bertujuan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dosen berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). UPNVJT kini memiliki total 39 guru besar, menunjukkan peningkatan kapasitas akademik yang signifikan dalam mendukung riset pangan fungsional pesisir.

Prof. Fauzi menegaskan bahwa riset dosen harus semakin kuat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Jabatan profesor bukan hanya sebuah pencapaian, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab ini mencakup menghasilkan ilmu pengetahuan dan inovasi secara berkelanjutan demi kemajuan bangsa, termasuk dalam bidang pangan fungsional pesisir.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi