Waspada! Sering Lemas dan Cepat Lelah, Bukan Hanya Pucat, Bisa Jadi Tanda Awal Anemia
Dokter spesialis penyakit dalam mengungkapkan rasa lemas dan cepat lelah adalah tanda awal anemia. Kondisi ini tak selalu ditandai wajah pucat dan bukan hanya karena kekurangan zat besi.
Dokter spesialis penyakit dalam, Johanes Adiatna Mastan, baru-baru ini memperingatkan bahwa rasa lemas dan cepat lelah bisa menjadi indikasi awal seseorang mengalami anemia. Pernyataan ini disampaikan di Samarinda, Kalimantan Timur, guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan kondisi kesehatan tersebut.
Menurut Dokter Johanes, kondisi ini terjadi karena kekurangan sel darah merah dalam tubuh yang mengakibatkan nutrisi dan oksigen tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh jaringan. Akibatnya, tubuh akan merasakan kekurangan energi, lemah, letih, dan lesu secara berkelanjutan.
Anemia sendiri didefinisikan sebagai kondisi kekurangan sel darah merah, yang umumnya diukur melalui kadar hemoglobin (HB) dalam darah. Batas normal HB adalah 12 g/dL untuk perempuan dan 13 g/dL untuk laki-laki, dengan evaluasi lebih lanjut jika kadar di bawah 10 g/dL.
Apa Itu Anemia dan Gejala Utamanya?
Anemia adalah kondisi medis yang ditandai dengan kurangnya sel darah merah yang sehat dalam tubuh. Sel darah merah berperan vital dalam mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh, serta membawa nutrisi penting. Ketika jumlah sel darah merah berkurang, pasokan oksigen dan nutrisi ke organ-organ vital pun terganggu.
Gejala paling umum yang sering dirasakan penderita anemia adalah rasa lemas yang berkepanjangan dan mudah merasa lelah. Dokter Johanes Adiatna Mastan menjelaskan, "Kekurangan sel darah merah berarti menyebabkan nutrisi dan oksigen yang ada dalam tubuh kita ini tidak tersebar atau tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh jaringan."
Distribusi nutrisi dan oksigen yang tidak optimal ini secara otomatis akan membuat tubuh kekurangan energi. Kondisi ini kemudian bermanifestasi sebagai perasaan lemah, letih, dan lesu yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala-gejala tersebut dan segera mencari tahu penyebabnya.
Meluruskan Mitos Seputar Anemia
Banyak masyarakat yang masih beranggapan bahwa wajah pucat adalah satu-satunya tanda pasti seseorang menderita anemia. Namun, Dokter Johanes meluruskan mitos ini dengan menyatakan, "Pucat itu bisa karena banyak hal." Wajah pucat bisa disebabkan oleh berbagai faktor (multifaktorial) dan tidak secara eksklusif mengindikasikan anemia.
Mitos lain yang juga sering beredar adalah bahwa anemia hanya terjadi karena kekurangan zat besi. Dokter Johanes dengan tegas membantahnya, "Anemia itu tidak hanya melulu karena kurang zat besi ya." Ini menunjukkan bahwa penyebab anemia jauh lebih kompleks daripada yang dipahami secara umum.
Anemia bisa disebabkan oleh beragam faktor selain defisiensi zat besi. Kekurangan folat atau vitamin B12 juga dapat memicu kondisi ini. Selain itu, penyakit autoimun atau adanya penyakit kronis tertentu juga bisa menjadi penyebab seseorang mengalami anemia. Pemahaman yang benar tentang penyebab ini krusial untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Ragam Penyebab dan Faktor Risiko Anemia
Mengingat penyebab anemia yang sangat luas, pemeriksaan lanjutan menjadi esensial untuk menentukan jenis anemia yang diderita. Diagnosis tidak hanya berhenti pada pengecekan kadar hemoglobin (HB) saja. Parameter lain seperti volume sel darah merah (MCV), konsentrasi rata-rata hemoglobin pada satu sel darah merah (MCHC), dan rata-rata hemoglobin (MCH) juga perlu diperiksa.
Dokter Johanes juga mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang sering ditemui di lapangan. Salah satunya adalah individu yang menjalani diet restriksi khusus. Pola makan yang sangat terbatas dapat menyebabkan kekurangan nutrisi esensial lain, yang pada akhirnya memicu timbulnya anemia jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara seimbang.
Kelompok berisiko tinggi lainnya adalah perempuan usia muda yang mengalami menstruasi berkepanjangan. Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan asupan zat besi yang memadai, mereka sangat berisiko mengalami anemia defisiensi besi. Penting untuk memastikan konsumsi vitamin C tetap dalam rentang normal sesuai kebutuhan harian, karena vitamin C membantu penyerapan zat besi.
Pentingnya Diagnosis Lanjutan untuk Penanganan Anemia
Kadar hemoglobin (HB) menjadi patokan awal untuk mendeteksi anemia, dengan ambang batas 12 gram per desiliter (g/dL) untuk perempuan dan 13 g/dL untuk laki-laki. Seseorang disebut anemia jika kadar HB berada di bawah ambang batas tersebut. Namun, evaluasi dan pemantauan lebih lanjut diperlukan jika HB sudah di bawah 10 g/dL atau mulai menimbulkan gejala klinis yang signifikan.
Untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan menentukan jenis anemia, pemeriksaan darah lengkap yang lebih mendalam sangat diperlukan. Ini mencakup pengecekan MCV (Mean Corpuscular Volume), MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration), dan MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin). Parameter-parameter ini memberikan gambaran lebih detail mengenai ukuran dan kandungan hemoglobin dalam sel darah merah.
Dengan mengetahui jenis anemia secara spesifik, dokter dapat memberikan penanganan yang tepat dan efektif. Misalnya, anemia defisiensi besi akan ditangani dengan suplemen zat besi, sementara anemia akibat kekurangan vitamin B12 memerlukan suplemen vitamin B12. Diagnosis yang komprehensif adalah kunci untuk pemulihan yang optimal dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews