Tahukah Anda? Dokter Tegaskan Oli dan Air Liur Justru Berbahaya untuk Mitos Perawatan Luka

Apoteker UGM, Dr. Lusy Noviani, membongkar mitos perawatan luka dengan oli dan air liur yang justru membahayakan. Simak bahaya dan cara penanganan yang benar!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Dokter Tegaskan Oli dan Air Liur Justru Berbahaya untuk Mitos Perawatan Luka
Apoteker UGM, Dr. Lusy Noviani, membongkar mitos perawatan luka dengan oli dan air liur yang justru membahayakan. Simak bahaya dan cara penanganan yang benar! (AntaraNews)

Praktik penanganan luka yang keliru, seperti penggunaan oli dan air liur, masih marak di masyarakat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Apoteker lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Apt. Dr. Lusy Noviani, MM, secara tegas tidak merekomendasikan metode tersebut dalam perawatan luka.

Dr. Lusy menyoroti bahwa mitos-mitos ini sudah lama beredar dan menjadi tantangan besar bagi dunia kefarmasian dalam memberikan edukasi yang valid. Ia menekankan pentingnya mengatasi tidak hanya luka itu sendiri, tetapi juga potensi komplikasi yang bisa muncul akibat penanganan yang salah.

Pernyataan ini disampaikan Dr. Lusy dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, yang bertujuan untuk meluruskan informasi mengenai perawatan luka yang benar dan aman. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya praktik-praktik tradisional yang tidak teruji secara medis.

Penggunaan air liur yang dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka merupakan anggapan yang keliru dan berbahaya. Menurut Dr. Lusy, air liur memiliki risiko tinggi membawa bakteri lain yang dapat masuk melalui luka dan menyebabkan infeksi.

Sementara itu, penggunaan oli yang seringkali dianggap dapat mendinginkan luka juga tidak disarankan. Oli, terutama dalam kondisi kotor, justru akan mempersulit tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan luka secara akurat, serta berpotensi memperparah kondisi pasien.

Dr. Lusy menegaskan bahwa mitos-mitos semacam ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para apoteker dan tenaga kesehatan. Edukasi yang berkelanjutan diperlukan untuk mengubah persepsi masyarakat yang terlanjur percaya pada metode perawatan luka yang tidak ilmiah.

Mitos-mitos seputar perawatan luka menjadi salah satu tantangan terbesar bagi dunia kefarmasian dalam mengedukasi masyarakat. Banyak pihak yang masih menganggap luka kecil sebagai hal sepele, padahal penanganan yang salah bisa berakibat fatal.

Oleh karena itu, Dr. Lusy berpesan kepada seluruh apoteker untuk lebih berinisiatif dalam memberikan edukasi dan melakukan pemeriksaan rinci sebelum meresepkan obat. Pemeriksaan ini krusial untuk memastikan apakah luka dapat ditangani sendiri atau memerlukan rujukan ke dokter.

Pemeriksaan awal dapat dimulai dengan menilai kondisi luka pasien, seperti kedalaman dan tingkat keparahannya. "Apakah lukanya luka ringan atau lukanya memang sudah berat, takut atau prognostik kedalaman luka dan seterusnya," kata Lusy, menjelaskan pentingnya asesmen awal tersebut.

Selain itu, apoteker juga perlu menanyakan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi penanganan luka, seperti alergi atau komorbiditas yang dimiliki pasien. Informasi ini penting untuk memastikan tata laksana yang diberikan sesuai dan tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi