Waspada Risiko Asam Urat Lebaran: Sajian Khas Idulfitri Ancam Kesehatan Metabolik
Momen Lebaran identik dengan hidangan lezat, namun pasien asam urat perlu waspada. Kenali **risiko asam urat Lebaran** dan dampaknya pada kesehatan metabolik Anda.
Pakar gizi klinik, Tirta Prawita Sari, yang juga dosen di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya konsumsi makanan khas Lebaran. Peringatan ini ditujukan khususnya bagi pasien asam urat dan individu dengan kondisi metabolik lainnya. Menjelang perayaan Idulfitri, berbagai hidangan lezat seringkali tersaji melimpah, namun dapat memicu masalah kesehatan serius.
Di Jakarta, Tirta Prawita Sari menjelaskan bahwa sajian seperti sambal goreng ati dan opor memiliki kandungan yang berisiko tinggi. Makanan-makanan tersebut padat purin, lemak jenuh, sodium, serta memiliki indeks glikemik yang tinggi. Kondisi ini dapat memperburuk kondisi kesehatan bagi penderita asam urat dan penyakit penyerta lainnya.
Konsumsi hidangan Lebaran secara berlebihan berpotensi memicu serangan gout akut, lonjakan gula darah yang drastis, hingga peningkatan tekanan darah yang signifikan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih dan membatasi asupan makanan selama perayaan Lebaran.
Bahaya Makanan Khas Lebaran bagi Penderita Asam Urat
Penderita asam urat sangat rentan mengalami serangan gout akut jika mengonsumsi sambal goreng ati yang padat purin, terutama bila kurang minum air putih. Purin adalah zat yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh, menyebabkan penumpukan kristal di sendi dan memicu peradangan.
Satu sajian khas Lebaran, seperti kombinasi ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, dan beberapa keping nastar, dapat mengandung sekitar 1.390 kkal. Jumlah kalori ini hampir setara dengan total kebutuhan kalori harian sebagian orang dewasa.
Lebih dari 60 persen kalori dalam hidangan tersebut berasal dari lemak jenuh santan, sementara kandungan sodiumnya mencapai sekitar 2.035 mg. Angka ini nyaris menyentuh batas harian yang direkomendasikan WHO sebesar 2.000 mg hanya dari satu kali makan. Selain itu, serat yang tersedia hanya sekitar lima gram, jauh di bawah kebutuhan harian 25–30 gram per hari.
Tekanan Metabolik Ganda dari Sajian Lebaran
Yang lebih mengkhawatirkan, hampir semua jalur metabolik utama mendapat tekanan dalam waktu bersamaan akibat konsumsi makanan Lebaran. Ketupat dan lontong memiliki indeks glikemik sangat tinggi, berkisar antara 85–90, sehingga menyebabkan gula darah melonjak cepat setelah dikonsumsi.
Lemak jenuh dari santan yang banyak terkandung dalam opor dan rendang dapat mengganggu kerja hormon insulin. Gangguan ini menyebabkan tubuh kesulitan mengelola kadar gula darah secara efektif.
Selain itu, sodium dari bumbu dan kuah kental meningkatkan tekanan darah secara akut. Minimnya asupan serat dalam hidangan Lebaran juga tidak mampu memperlambat laju penyerapan semua zat tersebut, memperparah dampak metabolik pada tubuh.
Risiko Kesehatan Lain yang Mengintai
Pasien tekanan darah tinggi atau hipertensi berisiko mengalami kenaikan tekanan darah sistolik 5–10 mmHg dalam hitungan jam akibat beban sodium yang tinggi. Peningkatan mendadak ini dapat membahayakan kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Di sisi lain, pasien penyakit ginjal kronis (CKD) juga perlu ekstra waspada. Satu kali makan Lebaran sudah melampaui batas sodium yang diperbolehkan untuk mereka. Hidangan tersebut juga mengandung fosfor dan kalium yang berbahaya bagi ginjal yang terganggu fungsinya.
Tirta Prawita Sari menyimpulkan bahwa satu porsi makan Lebaran ibarat menekan semua tombol bahaya sekaligus, yaitu gula, lemak, garam, dan asam urat, dalam satu waktu. Hal inilah yang membuat risiko metaboliknya sangat nyata, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Sumber: AntaraNews