Waspada Risiko Lonjakan Gula Darah dan Kolesterol Usai Lebaran, Dokter Beri Peringatan Penting
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko lonjakan gula darah dan kolesterol usai Lebaran akibat perubahan pola makan. Ketahui cara mengatasinya agar kesehatan tetap terjaga!.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, memberikan peringatan penting bagi masyarakat. Ia mengingatkan akan potensi lonjakan kadar gula darah dan kolesterol yang kerap terjadi setelah perayaan Idul Fitri. Peringatan ini disampaikan dalam acara Halodoc Talks di Jakarta, Selasa (10/3).
Menurut dr. Waluyo, perubahan drastis pada pola makan selama periode Lebaran menjadi faktor utama pemicu gangguan metabolik. Konsumsi makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat yang berlebihan menjadi penyebab utamanya. Hal ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan tubuh jika tidak dikelola dengan baik.
Tubuh yang sebelumnya telah beradaptasi dengan pola puasa Ramadan rentan mengalami perubahan metabolik saat menerima asupan berlebih secara tiba-tiba. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi hidangan Lebaran. Pengendalian porsi makan menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan.
Dampak Pola Makan Lebaran pada Kesehatan Metabolik
Dr. Waluyo menjelaskan bahwa lonjakan asupan kalori dalam waktu singkat dapat memberikan dampak signifikan. Terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, diabetes, atau riwayat kolesterol tinggi. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus untuk mencegah komplikasi kesehatan.
Perubahan pola makan yang drastis setelah berpuasa sebulan penuh dapat memicu respons tubuh yang tidak ideal. Asupan berlebih dari makanan tinggi gula dan lemak dapat membebani sistem metabolisme. Akibatnya, kadar gula darah dan kolesterol dalam tubuh berpotensi meningkat tajam.
Konsep pembagian lambung menjadi tiga bagian—sepertiga untuk makanan, sepertiga cairan, dan sepertiga udara—ditekankan oleh dr. Waluyo. Ini adalah prinsip penting untuk menjaga pencernaan tetap optimal. Mengatur porsi makan menjadi krusial agar tidak semua bagian lambung terisi penuh makanan.
"Kuncinya bukan melarang, tapi mengatur porsi. Jangan sampai semua diisi makanan. Itu yang sering memicu keluhan setelah Lebaran," ujar dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut. Pesan ini menegaskan pentingnya moderasi dalam menikmati hidangan khas Idul Fitri.
Strategi Pencegahan dan Pengelolaan Risiko Kesehatan
Selain risiko lonjakan gula darah dan kolesterol, dr. Waluyo juga menyoroti risiko gangguan pencernaan. Masalah seperti sembelit dan diare seringkali muncul akibat konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat. Pencegahan dini sangat penting untuk menghindari ketidaknyamanan ini.
Untuk mencegah gangguan pencernaan dan menjaga kesehatan secara keseluruhan, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Serat dari sayur dan buah membantu melancarkan pencernaan. Selain itu, menjaga kecukupan cairan tubuh juga sangat vital.
Masyarakat disarankan untuk kembali ke pola makan seimbang sesegera mungkin setelah Lebaran. Membatasi makanan tinggi lemak dan gula adalah langkah krusial. Rutin beraktivitas fisik juga sangat dianjurkan untuk membantu menstabilkan metabolisme tubuh setelah libur panjang.
Langkah-langkah pencegahan ini bukan hanya untuk individu berisiko, tetapi juga untuk seluruh masyarakat. Menjaga gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan. Dengan demikian, dampak negatif dari pola makan Lebaran dapat diminimalisir.
Kesadaran Masyarakat dan Data Peningkatan Pemeriksaan
Data Halodoc tahun 2025 menunjukkan adanya lonjakan signifikan dalam pemeriksaan metabolik pasca-Idul Fitri. Dalam satu minggu setelah Lebaran, jumlah tes kolesterol dan gula darah meningkat hingga 95 persen dibandingkan rata-rata mingguan pada periode normal. Pada minggu kedua, lonjakan masih tercatat sekitar 40 persen.
Menurut dr. Waluyo, peningkatan pemeriksaan tersebut mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan mulai tumbuh. Namun, langkah pencegahan tetap harus diutamakan sejak awal. Edukasi mengenai pola makan sehat dan gaya hidup aktif perlu terus digalakkan agar masyarakat tidak hanya melakukan pemeriksaan, tetapi juga mencegah risiko sejak dini.
Sumber: AntaraNews