Jangan Salah Pilih! Ini 5 Aspek Penting dalam Menentukan Daycare yang Aman
IDAI menjelaskan lima aspek krusial dalam memilih daycare yang aman. Aspek tersebut mencakup keamanan, kualitas pengasuh.
Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, menjadi pengingat akan pentingnya memilih taman penitipan anak (TPA) atau taman pengasuhan yang aman dan terpercaya. Menurut Fitri Hartanto, Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat lima aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua sebelum mempercayakan pengasuhan anak mereka di suatu daycare.
A. Aspek Keamanan Fisik
- CCTV di semua ruang, bisa diakses orang tua
- Stop kontak listrik tertutup, tangga berpagar, tidak ada sudut tajam
- Area bermain outdoor dengan lantai empuk (matras/rumput).
B. Aspek Pengasuh
- Rasio maksimal 1:3 (bawah 2 tahun), 1:5 (2-3 tahun), 1:7 (4-5 tahun)
- Pengasuh bersertifikat PAUD/psikologi anak dan memiliki background check
- Attitude pengasuh: sabar, komunikatif, tidak pernah membentak.
C. Aspek Stimulasi & Rutinitas
- Ada jadwal harian: bermain bebas, kegiatan terstruktur, makan, tidur siang
- Tersedia mainan edukatif sesuai usia (tidak hanya TV/gawai)
- Ada komunikasi rutin ke orang tua (buku harian atau aplikasi).
D. Aspek Kesehatan & Gizi
- Menu makanan bergizi dan sehat
- Anak sakit tidak diterima, ada ruang isolasi sementara
- Sertifikat hygiene dapur, skill penanganan kecelakaan dan imunisasi wajib bagi pengasuh.
E. Aspek Legal & Administrasi
- Berizin resmi dari Dinas Pendidikan atau Dinas Sosial
- Ada asuransi kecelakaan untuk anak
- Transparan biaya dan kebijakan keterlambatan jemput.
Rekomendasi dari IDAI mengenai soal daycare
Implementasi Landasan Regulasi
Fitri juga menekankan pentingnya penyusunan protokol pengawasan terpadu yang harus segera dilakukan. Hal ini perlu mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 137 Tahun 2014 serta Surat Edaran Menteri PPPA Nomor 61 Tahun 2020.
Audit Berkala dan Transparansi
Setiap lembaga penitipan anak diwajibkan untuk menjalani proses verifikasi lintas sektor minimal dua kali dalam setahun. Hasil dari audit ini harus dipublikasikan agar masyarakat dapat menjadikannya sebagai panduan dalam menilai kualitas layanan yang diberikan.
Modernisasi Sistem Evaluasi
Pentingnya pengalihan proses manual ke sistem digital menjadi sorotan utama untuk mengatasi berbagai hambatan birokrasi. Dengan demikian, ketidakefisienan dalam pendataan izin serta akreditasi dapat diminimalisir, sehingga pelayanan menjadi lebih baik.
Digitalisasi Pengawasan Real-Time
Pemerintah didorong untuk membangun platform terintegrasi yang memungkinkan pemantauan dan pelaporan data secara langsung. Langkah ini sangat penting untuk memastikan keamanan serta legalitas institusi penitipan anak di seluruh wilayah.
Fitri juga menilai bahwa penerjemahan istilah daycare menjadi tempat penitipan anak kurang tepat. Menurutnya, kata "penitipan" lebih sesuai digunakan untuk benda mati atau barang. "Ubah penerjemahan daycare sebagai Tempat Penitipan Anak menjadi Tempat Pengasuhan Anak," ungkap Fitri dalam diskusi daring yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026.
Hindari tergoda oleh harga yang murah
Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, memberikan tanggapan terkait insiden kekerasan yang terjadi pada anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Ia menyatakan, "Tentu ini sangat tidak bisa diterima. Ada anak diikat, ditelanjangi, itu kayak binatang perilakunya tidak mengenal perikemanusiaan apalagi pada anak. Kami sangat menyesalkan, kejadian ini jangan terulang lagi tapi malah terulang lagi di Aceh." Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap perlakuan tidak manusiawi yang dialami anak-anak.
Setelah insiden di Yogyakarta, kekerasan terhadap anak kembali muncul di sebuah taman penitipan anak (TPA) di Aceh. Piprim menekankan pentingnya tindakan pencegahan, "Dengan berbagai fenomena tersebut kita tidak bisa berdiam diri saja, kita harus mencegah bagaimana agar setiap daycare itu diawasi oleh pakar, CCTV sangat penting, jangan sampai tergiur oleh promosi yang tidak benar atau tergiur harga murah, intinya ini tidak boleh terulang lagi." Ia juga mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang mungkin dialami anak, baik secara fisik maupun psikis.
Piprim menambahkan, "Buat orang tua, memang perlu lebih aware soal tanda kekerasan pada anak, baik tanda fisik mau psikis, misalnya kalau anak menolak dan ketakutan saat diajak ke daycare." Ia menekankan bahwa pencegahan adalah langkah yang paling utama, karena dampak trauma dapat mendalam dan berkelanjutan. "Mudah-mudahan semua pihak ikut terus mengawal," pungkasnya, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keselamatan anak-anak di lingkungan penitipan.